Jerman Bungkam Suara Palestina, Dokter Gaza Dilarang Masuk sebab Bongkar Genosida Israel

Sabtu, 13 April 2024 - 11:25 WIB
loading...
Jerman Bungkam Suara...
Dokter bedah terkemuka Inggris-Palestina, Ghassan Abu Sittah berbicara pada media. Foto/media sosial
A A A
BERLIN - Ahli bedah terkemuka Inggris-Palestina, Ghassan Abu Sittah, mengatakan pihak berwenang di Jerman telah menahannya dan menolaknya masuk ke negara tersebut.

Abu Sittah dijadwalkan berbicara pada konferensi Palestina di Berlin pada Jumat (12/4/2024).

Dokter bedah tersebut mengatakan dia diundang ke konferensi tersebut untuk berbicara "tentang pekerjaan saya di rumah sakit Gaza".

“Pemerintah Jerman secara paksa melarang saya memasuki negara ini,” tulis dia di X.

Middle East Eye telah meminta komentar dari Kementerian Luar Negeri Jerman dan Abu Sittah.

Sejak meninggalkan Gaza pada akhir November, dokter tersebut telah meningkatkan kesadaran tentang dampak perang Israel, yang telah menewaskan lebih dari 33.000 warga Palestina.

Pada minggu-minggu awal setelah Israel memulai serangannya, Abu Sittah adalah perwakilan tidak resmi para dokter dan ahli bedah Palestina berbahasa Inggris yang merawat warga Palestina yang terluka akibat serangan Israel.

Dia menuduh militer Israel menggunakan fosfor putih, yang ilegal di daerah padat penduduk seperti Gaza, dan dengan sengaja menargetkan anak-anak.

Dalam wawancara dengan MEE setelah dia meninggalkan Gaza, Abu Sittah mengatakan petugas medis menggunakan barang-barang rumah tangga untuk merawat pasien karena blokade yang diberlakukan Israel terhadap peralatan medis yang memasuki wilayah kantong tersebut.

“Akhirnya semuanya habis. Awalnya kami mengganti larutan antiseptik dengan cairan pembersih dan cuka,” ungkap Abu Sitta.

“Kemudian berakhir dengan morfin dan harus melakukan prosedur tanpa anestesi apa pun. Situasinya seperti abad pertengahan,” papar dia.

Sensor Jerman


Jerman telah menjadi pemasok utama persenjataan bagi Israel dalam perangnya di Gaza dan juga menjadi salah satu pendukung utama Israel.

Jerman saat ini jadi target pada kasus Mahkamah Internasional (ICJ) yang diajukan Nikaragua, yang menuduh negara tersebut “memfasilitasi” genosida Israel di Gaza.

ICJ juga sedang mempertimbangkan kasus yang diajukan Afrika Selatan yang menuduh Israel melakukan genosida.

Abu Sittah pada Jumat mengatakan, “Jerman membungkam saksi genosida di hadapan ICJ, yang menambah keterlibatan Jerman dalam pembantaian yang sedang berlangsung.”

Sejak dimulainya perang enam bulan lalu, Jerman telah mengakui dukungannya terhadap Israel dengan mengklaim mereka mempunyai tugas khusus untuk melindungi Israel karena warisan Holocaust, di mana Nazi membunuh enam juta orang Yahudi.

Pada bulan Oktober, Kanselir Federal Olaf Scholz mengatakan, "Keamanan Israel adalah bagian dari alasan Jerman."

Di dalam negeri, pemerintah Jerman telah membungkam ekspresi solidaritas terhadap penderitaan rakyat Palestina.

Pendanaan telah ditarik dari lembaga-lembaga kebudayaan yang menyatakan simpati terhadap para korban serangan Israel di Gaza dan terdapat pembatasan terhadap demonstrasi dukungan publik.

Beberapa pejabat lokal di negara bagian tersebut menuntut orang asing yang ingin naturalisasi mengakui keabsahan negara Israel sebelum diberikan kewarganegaraan.

Pada Maret, Berliner Sparkasse Bank, bank milik negara, membekukan rekening Jewish Voice, kelompok Yahudi yang mengadvokasi hak-hak warga Palestina, dan menuntut organisasi tersebut menyerahkan daftar keanggotaannya.

“Pada tahun 2024, uang Yahudi (penentang Israel) sekali lagi disita bank Jerman: Berliner Sparkasse,” ungkap Jewish Voice dalam pernyataan di platform media sosialnya.

Baca juga: Israel Utara Membara Dihujani Rentetan Roket dari Lebanon Selatan
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pasukan Keamanan Gaza...
Pasukan Keamanan Gaza Gagalkan Penyelundupan Narkoba Besar-besaran oleh Geng Antek Israel
Menteri Israel Usulkan...
Menteri Israel Usulkan Rencana Relokasi Gaza yang Libatkan Mossad
Jerman Diguncang Penembakan,...
Jerman Diguncang Penembakan, 6 Orang Tewas
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
Rudal AGM-188A Rusty...
Rudal AGM-188A Rusty Dagger, Membentuk Masa Depan Medan Perang
AS Lancarkan Serangan...
AS Lancarkan Serangan Baru ke Iran, Sasar Pertahanan Udara hingga Fasilitas Drone
Penembakan di Fasilitas...
Penembakan di Fasilitas Remaja, 6 Orang Tewas
Rekomendasi
Jokowi Hadiri HUT Ke-80...
Jokowi Hadiri HUT Ke-80 Bhayangkara di Cikeas
5 Fakta Menarik Norwegia...
5 Fakta Menarik Norwegia Lolos ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2026 usai Singkirkan Pantai Gading
Apartemen Disita Jelang...
Apartemen Disita Jelang Sidang Ijazah Jokowi, Dokter Tifa Buka Suara
Berita Terkini
2 Negara Muslim Ini...
2 Negara Muslim Ini Saling Serang, Ini 7 Alasan Konflik Itu Tak Mudah Diselesaikan
Rusia Sedang Dibakar...
Rusia Sedang Dibakar Ukraina, Putin Tidak Akan Gentar
Bagaimana Iran Menggunakan...
Bagaimana Iran Menggunakan Strategi Ubur-ubur untuk Menjatuhkan Jet Tempur AS?
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Raja Charles Kehilangan...
Raja Charles Kehilangan Gelar Bersejarah Pembela Iman
Infografis
Irlandia Dukung Kasus...
Irlandia Dukung Kasus Genosida Gaza, Israel Tutup Kedubesnya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved