China Hadapi Berbagai Tantangan Perihal Klaim Seluruh Laut China Selatan
Jum'at, 12 April 2024 - 16:08 WIB
loading...
A
A
A
Ketegangan Filipina-China
Permusuhan antara Manila dan Beijing terkait Laut China Selatan meningkat sejak tahun lalu. Hingga Oktober 2023, menurut Kementerian Luar Negeri Filipina, Manila telah mengajukan protes diplomatik sebanyak 55 kali terhadap Beijing terkait pelecehan terus-menerus yang dilakukan Angkatan Laut dan Coast Guard China terhadap Coast Guard Filipina di Laut China Selatan.
Vietnam juga sering menjadi sasaran intimidasi China di Laut China Selatan yang disengketakan dan diakui sebagai Laut Timur oleh Hanoi. Pada April 2020, Hanoi mengajukan protes kepada Beijing setelah kapal Coast Guard China bertabrakan dan menenggelamkan kapal nelayan Vietnam di Kepulauan Paracel di Laut China Selatan. Vietnam harus membatalkan proyek minyak besar di Laut China Selatan untuk kedua kalinya pada 2018 menyusul tekanan dari China. Pada tahun 1974, China menginvasi Pulau Paracel di Laut China Selatan, yang diklaim Vietnam sebagai miliknya sejak abad ke-17.
Tahun lalu, Malaysia menolak “peta standar” edisi terbaru China yang mengeklaim hampir seluruh Laut China Selatan, termasuk wilayah yang terletak di lepas pantai pulau Borneo. "Malaysia tidak mengakui klaim China di Laut China Selatan sebagaimana dituangkan dalam peta standar China edisi 2023 yang meluas hingga wilayah maritim Malaysia," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Malaysia pada 31 Agustus 2023.
Perkembangan ini menunjukkan hubungan buruk yang dialami China dengan Kuala Lumpur dan negara tetangga Asia Tenggara lainnya. Selain itu, sikap tegas Filipina terhadap Laut China Selatan dan tindakan intimidasi yang tidak terkendali terhadap negara tetangga seperti Filipina telah berdampak pada kredibilitas Filipina sebagai kekuatan internasional yang bertanggung jawab.
Perdamaian dan stabilitas di perairan marginal Samudra Pasifik Barat berada dalam ancaman karena pendekatan militeristik China di wilayah tersebut.
Oleh karena itu, latihan militer gabungan AS dan sekutunya di Asia yang baru saja selesai di Laut China Selatan dipandang sebagai langkah penting untuk membuat Beijing memperhatikan upaya yang dilakukan untuk melawan rancangan agresif mereka di wilayah tersebut.
Para analis mengatakan kawasan ini akan menghadapi tindakan balasan yang lebih kuat terhadap China di Laut China Selatan dalam beberapa hari ke depan, karena AS dan sekutu-sekutunya tampaknya siap menjadikan wilayah perairan di Samudra Pasifik Barat itu sebagai zona perdamaian dan stabilitas.
(mas)
Lihat Juga :