Siap Hadapi Perang dengan China, Filipina Perkuat Pertahanan Maritim
Minggu, 31 Maret 2024 - 14:31 WIB
loading...
Filipina terus tingkatkan pertahanan maritim untuk melawan China. Foto/Reuters
A
A
A
MANILA - Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr telah memerintahkan pemerintahannya untuk memperkuat koordinasinya di bidang keamanan maritim untuk menghadapi "serangkaian tantangan serius" terhadap integritas wilayah dan perdamaian. Itu seiring dengan meningkatnya perselisihan dengan China
Perintah tersebut, yang ditandatangani dan dipublikasikan pada Minggu (31/3/2024), tidak menyebut China tetapi mengikuti serangkaian konfrontasi maritim bilateral dan saling tuding mengenai wilayah sengketa di Laut Cina Selatan.
Beijing mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan, yang merupakan jalur perdagangan kapal tahunan senilai lebih dari USD3 triliun. Klaim China tumpang tindih dengan klaim Filipina, Vietnam, Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Pengadilan Arbitrase Permanen pada tahun 2016 mengatakan klaim China tidak memiliki dasar hukum.
Kerusuhan terbaru terjadi akhir pekan lalu, ketika China menggunakan meriam air untuk mengganggu misi pasokan Filipina ke Second Thomas Shoal bagi tentara yang menjaga kapal perang yang sengaja mendarat di terumbu karang 25 tahun lalu.
“Meskipun terdapat upaya untuk meningkatkan stabilitas dan keamanan di wilayah maritim kami, Filipina terus menghadapi serangkaian tantangan serius yang mengancam integritas wilayah, tetapi juga keberadaan damai warga Filipina,” kata Marcos, dilansir Reuters.
Baca Juga: 5 Fakta Rencana Al Qaeda Membunuh Bill Clinton yang Hampir Dilupakan Sejarah
Presiden pada hari Kamis berjanji untuk menerapkan tindakan balasan terhadap “serangan ilegal, koersif, agresif dan berbahaya” yang dilakukan oleh penjaga pantai China.
Perintah tersebut, yang ditandatangani dan dipublikasikan pada Minggu (31/3/2024), tidak menyebut China tetapi mengikuti serangkaian konfrontasi maritim bilateral dan saling tuding mengenai wilayah sengketa di Laut Cina Selatan.
Beijing mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan, yang merupakan jalur perdagangan kapal tahunan senilai lebih dari USD3 triliun. Klaim China tumpang tindih dengan klaim Filipina, Vietnam, Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Pengadilan Arbitrase Permanen pada tahun 2016 mengatakan klaim China tidak memiliki dasar hukum.
Kerusuhan terbaru terjadi akhir pekan lalu, ketika China menggunakan meriam air untuk mengganggu misi pasokan Filipina ke Second Thomas Shoal bagi tentara yang menjaga kapal perang yang sengaja mendarat di terumbu karang 25 tahun lalu.
“Meskipun terdapat upaya untuk meningkatkan stabilitas dan keamanan di wilayah maritim kami, Filipina terus menghadapi serangkaian tantangan serius yang mengancam integritas wilayah, tetapi juga keberadaan damai warga Filipina,” kata Marcos, dilansir Reuters.
Baca Juga: 5 Fakta Rencana Al Qaeda Membunuh Bill Clinton yang Hampir Dilupakan Sejarah
Presiden pada hari Kamis berjanji untuk menerapkan tindakan balasan terhadap “serangan ilegal, koersif, agresif dan berbahaya” yang dilakukan oleh penjaga pantai China.
Lihat Juga :