Badan Intelijen Rusia Awasi Upaya Barat Mempersenjatai ISIS
Rabu, 27 Maret 2024 - 09:01 WIB
loading...
A
A
A
SVR mengumumkan pada Mei 2022, dengan mengutip bukti yang diperoleh, bahwa sekitar 60 teroris ISIS dibebaskan dari penjara yang dikuasai Kurdi Suriah yang didukung AS sebulan sebelumnya dengan tujuan mengirim mereka ke Ukraina sebagai unit sabotase.
SVR menyoroti pangkalan AS Al-Tanf di provinsi Homs, Suriah, diubah menjadi pusat teroris, tempat para militan dilatih untuk dikerahkan ke Ukraina.
“Prioritas diberikan kepada penduduk asli negara bagian Transcaucasia dan Asia Tengah. 'Kursus' pelatihan di Al-Tanf mencakup pelatihan penggunaan berbagai jenis sistem rudal anti-tank yang tersedia, drone pengintai dan serang MQ-1C, komunikasi tingkat lanjut dan peralatan pengawasan," papar SVR.
Pada 22 Oktober 2022, Al-Monitor melaporkan mereka mengetahui anggota Ajnad al-Kavkaz, kelompok Islam pimpinan warga Chechnya, meninggalkan provinsi Idlib di Suriah dan menuju ke Ukraina untuk berperang melawan militer Rusia.
Serangan teror Balai Kota Crocus dilakukan kelompok Islam radikal, namun kita perlu menemukan dalang dan siapa yang diuntungkan dari kejahatan mengerikan tersebut, menurut Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin.
"Kejahatan mengerikan yang dilakukan pada 22 Maret di ibu kota Rusia adalah tindakan intimidasi...dan pertanyaan yang segera muncul: siapa yang diuntungkan?" ujar Putin.
“Kekejaman ini hanya bisa menjadi salah satu elemen dari serangkaian upaya yang dilakukan oleh mereka yang telah memerangi negara kita sejak tahun 2014 melalui rezim neo-Nazi di Kiev,” papar dia.
Setelah serangan tersebut, empat tersangka pelaku, Dalerdzhon Mirzoyev, Shamsidina Fariduni, Saidakrami Rachabalizoda dan Muhammadsobir Fayzov ditangkap di wilayah Bryansk Rusia dalam perjalanan ke perbatasan Ukraina.
Menurut FSB, para militan memiliki koneksi di Ukraina dan berusaha bersembunyi di negara Eropa Timur tersebut setelah melakukan kejahatan. Tersangka kelima, Dilovar Islomov, ditahan pada 25 Maret.
“Kita juga perlu menjawab pertanyaan mengapa para teroris mencoba pergi ke Ukraina setelah melakukan kejahatan tersebut dan siapa yang menunggu mereka di sana,” ungkap Putin menggarisbawahi selama percakapan dengan pihak berwenang Rusia mengenai langkah-langkah keamanan yang diambil setelah serangan teroris tersebut.
Presiden Rusia secara khusus merujuk pada upaya pemerintahan Presiden AS Joe Biden untuk mengalihkan perhatian publik dari kemungkinan keterlibatan Ukraina segera setelah tragedi tersebut.
“Kami melihat bagaimana AS menggunakan berbagai cara untuk meyakinkan satelit-satelitnya dan negara-negara lain bahwa menurut data intelijennya, diduga tidak ada jejak Ukraina dalam serangan teroris di Moskow (…) Kita sudah tahu siapa saja yang melakukan kekejaman ini terhadap Rusia dan rakyatnya yang sudah dilakukan. Sekarang kita ingin tahu siapa dalangnya,” tegas Presiden Rusia.
Baca juga: Rusia Ungkap Bagaimana AS Memfasilitasi Pembentukan Kelompok Teror Seperti ISIS
SVR menyoroti pangkalan AS Al-Tanf di provinsi Homs, Suriah, diubah menjadi pusat teroris, tempat para militan dilatih untuk dikerahkan ke Ukraina.
“Prioritas diberikan kepada penduduk asli negara bagian Transcaucasia dan Asia Tengah. 'Kursus' pelatihan di Al-Tanf mencakup pelatihan penggunaan berbagai jenis sistem rudal anti-tank yang tersedia, drone pengintai dan serang MQ-1C, komunikasi tingkat lanjut dan peralatan pengawasan," papar SVR.
Pada 22 Oktober 2022, Al-Monitor melaporkan mereka mengetahui anggota Ajnad al-Kavkaz, kelompok Islam pimpinan warga Chechnya, meninggalkan provinsi Idlib di Suriah dan menuju ke Ukraina untuk berperang melawan militer Rusia.
Siapa Dalang Serangan Balai Kota Crocus?
Serangan teror Balai Kota Crocus dilakukan kelompok Islam radikal, namun kita perlu menemukan dalang dan siapa yang diuntungkan dari kejahatan mengerikan tersebut, menurut Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin.
"Kejahatan mengerikan yang dilakukan pada 22 Maret di ibu kota Rusia adalah tindakan intimidasi...dan pertanyaan yang segera muncul: siapa yang diuntungkan?" ujar Putin.
“Kekejaman ini hanya bisa menjadi salah satu elemen dari serangkaian upaya yang dilakukan oleh mereka yang telah memerangi negara kita sejak tahun 2014 melalui rezim neo-Nazi di Kiev,” papar dia.
Setelah serangan tersebut, empat tersangka pelaku, Dalerdzhon Mirzoyev, Shamsidina Fariduni, Saidakrami Rachabalizoda dan Muhammadsobir Fayzov ditangkap di wilayah Bryansk Rusia dalam perjalanan ke perbatasan Ukraina.
Menurut FSB, para militan memiliki koneksi di Ukraina dan berusaha bersembunyi di negara Eropa Timur tersebut setelah melakukan kejahatan. Tersangka kelima, Dilovar Islomov, ditahan pada 25 Maret.
“Kita juga perlu menjawab pertanyaan mengapa para teroris mencoba pergi ke Ukraina setelah melakukan kejahatan tersebut dan siapa yang menunggu mereka di sana,” ungkap Putin menggarisbawahi selama percakapan dengan pihak berwenang Rusia mengenai langkah-langkah keamanan yang diambil setelah serangan teroris tersebut.
Presiden Rusia secara khusus merujuk pada upaya pemerintahan Presiden AS Joe Biden untuk mengalihkan perhatian publik dari kemungkinan keterlibatan Ukraina segera setelah tragedi tersebut.
“Kami melihat bagaimana AS menggunakan berbagai cara untuk meyakinkan satelit-satelitnya dan negara-negara lain bahwa menurut data intelijennya, diduga tidak ada jejak Ukraina dalam serangan teroris di Moskow (…) Kita sudah tahu siapa saja yang melakukan kekejaman ini terhadap Rusia dan rakyatnya yang sudah dilakukan. Sekarang kita ingin tahu siapa dalangnya,” tegas Presiden Rusia.
Baca juga: Rusia Ungkap Bagaimana AS Memfasilitasi Pembentukan Kelompok Teror Seperti ISIS
(sya)
Lihat Juga :