Usai Ancam Serang Rusia, Dubes AS Beri Klarifikasi

Rabu, 03 Oktober 2018 - 05:59 WIB
Usai Ancam Serang Rusia,...
Usai Ancam Serang Rusia, Dubes AS Beri Klarifikasi
A A A
WASHINGTON - Duta Besar (dubes) Amerika Serikat (AS) untuk NATO Kay Bailey Hutchison menyampaikan klarifikasi atas pernyataan soal ancaman serangan pre-emptive Washington terhadap Rusia. Diplomat ini mengklaim tak berniat membuat ancaman, melainkan mendesak Moskow mematuhi Perjanjian Intermediate-Range Nuclear Forces (INF) 1987.

"Saya tidak berbicara tentang serangan pre-emptive Rusia. Maksud saya; Rusia perlu kembali mematuhi INF Treaty atau kita perlu mencocokkan kemampuannya untuk melindungi kepentingan AS dan NATO. Situasi saat ini, dengan pelanggaran Rusia yang mencolok, tidak dapat dipertahankan," tulis Hutchison, yang dikutip dari akun Twitter resminya, @USAmbNATO, Rabu (3/10/2018).Baca: AS Ancam Serang Rusia untuk Hancurkan Rudal Terlarang
Seperti diberitakan sebelumnya, Hutchison membuat ancaman untuk menghancurkan hulu ledak dari sistem rudal jelajah Rusia yang dilarang dalam Perjanjian INF 1987. Washington khawatir senjata yang dikembangkan Moskow memungkinkannya untuk melakukan serangan nuklir di Eropa dalam waktu sekejap.

Diplomat Washington itu mengatakan Mosklow harus menghentikan pengembangan sistem rudal jelajah terlarang secara terselubung atau Amerika Serikat akan berusaha menghancurkannya sebelum menjadi senjata yang operasional.

Amerika Serikat yakin Rusia sedang mengembangkan sistem senjata yang masuk kategori pelanggaran perjanjian Perang Dingin. Namun, Moskow secara konsisten telah membantah tuduhan melakukan pelanggaran.

Hutchison mengatakan Washington tetap berkomitmen untuk membuat solusi diplomatik. Namun, juga siap untuk mempertimbangkan serangan militer jika pengembangan sistem rudal jarak menengah terus berlanjut.

"Pada titik itu, kami akan melihat kemampuan untuk mengambil rudal (Rusia) yang bisa menghantam negara kami," kata Hutchison pada konferensi pers.

"Langkah-langkah kontra (oleh Amerika Serikat) akan mengambil rudal yang sedang dikembangkan oleh Rusia yang melanggar perjanjian," ujarnya, seperti dikutip Reuters. "Mereka ada di pemberitahuan."

Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan ancaman semacam itu berbahaya. "Tampaknya orang-orang yang membuat pernyataan seperti itu tidak menyadari tingkat tanggung jawab mereka dan bahaya retorika agresif," tulis kantor berita TASS mengutip juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova.

Moskow menuduh balik AS dan beberapa sekutunya dengan sengaja melanggar Perjanjian INF karena menyebarkan sistem peluncur rudal Mk-41 di dekat perbatasan Rusia. Sistem itu dapat dengan mudah diubah untuk menembakkan rudal jelajah darat yang dilarang.
(mas)
Berita Terkait
3 Orang Berpengaruh...
3 Orang Berpengaruh Rusia Lulusan Amerika Serikat
Senjata Amerika Serikat...
Senjata Amerika Serikat Sudah Ada di Lapangan Tembak Ukraina
Putin Bongkar Masalah...
Putin Bongkar Masalah Utama Rusia dengan Amerika Serikat
3 Negara yang Senang...
3 Negara yang Senang Jika Amerika Serikat Tinggalkan NATO, Siapa Saja?
Putin: NATO Menipu Rusia
Putin: NATO Menipu Rusia
Prajurit Rusia Terlalu...
Prajurit Rusia Terlalu Tangguh, Tentara Bayaran Amerika Serikat Menyesal Ikut Berperang di Ukraina
Berita Terkini
AS Bombarir Iran untuk...
AS Bombarir Iran untuk Keempat Kalinya, Teheran Sebut Kejahatan Perang
22 menit yang lalu
Senator AS yang Desak...
Senator AS yang Desak Israel Mengebom Nuklir Gaza Tiba-tiba Meninggal
40 menit yang lalu
4 Alasan Krisis Selat...
4 Alasan Krisis Selat Hormuz Tak Bisa Diselesaikan melalui Perang
2 jam yang lalu
Saling Serang dan Ancam,...
Saling Serang dan Ancam, Perang AS dan Iran Bisa Berlarut-larut selama Berbulan-bulan
4 jam yang lalu
Peta Politik Malaysia...
Peta Politik Malaysia Terus Berubah Warna, PM Anwar Ibrahim Kian Tersudut
5 jam yang lalu
Mengapa Para Pemimpin...
Mengapa Para Pemimpin Iran Masih Berbeda Pandangan terkait Selat Hormuz?
6 jam yang lalu
Infografis
11 Kombes Pol Pecah...
11 Kombes Pol Pecah Bintang usai Dapat Promosi Jabatan pada Juni 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved