China Tingkatkan Upaya Meredam Kritik Seputar Arah Perekonomian Nasional
Kamis, 07 Maret 2024 - 08:44 WIB
loading...
A
A
A
Penurunan mengejutkan ini, yang terendah sejak krisis fiskal Asia Tenggara tahun 1998, menggarisbawahi tantangan yang dihadapi lanskap ekonomi China.
Selain itu, data dana mata uang asing yang dikumpulkan di China menunjukkan penurunan lebih dari 40 persen dari tahun 2021 hingga 2022, dengan penurunan lebih dari 87 persen berdasarkan jumlah dan 57 persen berdasarkan nilai di paruh pertama tahun 2023.
Chen menekankan elemen inti pembangunan ekonomi—manusia, logistik, dan aliran modal—dengan alasan bahwa ketiganya mengalami kontraksi dalam siklus eksternal. Meski penyusutan akibat pandemi Covid-19 mungkin memberikan peluang untuk koreksi, namun jika penurunan tersebut disebabkan perang dagang dan ketegangan geopolitik, prospeknya akan jauh lebih pesimistis. Hal ini dapat menandakan pembalikan struktural jangka panjang dalam perekonomian China.
Sementara Xie memberikan perspektif komprehensif mengenai sejauh mana penurunan ekonomi China, dan memperkirakan tingkat penurunannya akan mencapai "-5, -6 persen." Dia menunjuk pada langkah-langkah kemunduran CCP, termasuk penindasan terhadap informasi, blokade teknologi, dan ketegangan geopolitik yang lebih luas sebagai kontributor utama.
Faktor-faktor ini, menurutnya, telah menyebabkan China menjadi "anak telantar di komunitas internasional," yang terisolasi baik secara ekonomi maupun politik.
Bertentangan dengan klaim CCP mengenai pertumbuhan ekonomi, Xie berpendapat bahwa tiga kekuatan pendorong perekonomian China—ekspor, investasi, dan konsumsi–semuanya telah terhenti. Ia mempertanyakan kebenaran laporan pertumbuhan sebesar 5,2 persen dan menghubungkannya dengan praktik-praktik yang menipu.
Dengan menurunnya populasi China dan berkurangnya angkatan kerja, tantangan yang dihadapi perekonomian China sangatlah besar. Dalam pandangan Xie, perekonomian China sedang mengalami kemunduran dibandingkan sebelum bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 2001, dan penurunan ekonomi ini diperkirakan akan terus berlanjut setidaknya hingga tahun 2025.
Saat China bergulat dengan tantangan-tantangan ekonomi ini, komunitas internasional memperhatikan dengan cermat, menilai potensi implikasinya terhadap pasar global dan hubungan diplomatik. Sifat ekonomi dunia yang saling terhubung dapat diartikan bahwa pergeseran lanskap ekonomi China dapat berdampak secara global.
Masih harus dilihat lagi bagaimana Beijing akan mengatasi tantangan-tantangan ini, dan apakah akan ada perubahan dalam kebijakan ekonominya untuk mengatasi kekhawatiran yang dikemukakan para ahli seperti Chen Shouhong dan Frank Xie.
Tahun-tahun mendatang kemungkinan besar akan menjadi tahun penting dalam menentukan arah masa depan perekonomian China dan posisinya di kancah global.
Selain itu, data dana mata uang asing yang dikumpulkan di China menunjukkan penurunan lebih dari 40 persen dari tahun 2021 hingga 2022, dengan penurunan lebih dari 87 persen berdasarkan jumlah dan 57 persen berdasarkan nilai di paruh pertama tahun 2023.
Chen menekankan elemen inti pembangunan ekonomi—manusia, logistik, dan aliran modal—dengan alasan bahwa ketiganya mengalami kontraksi dalam siklus eksternal. Meski penyusutan akibat pandemi Covid-19 mungkin memberikan peluang untuk koreksi, namun jika penurunan tersebut disebabkan perang dagang dan ketegangan geopolitik, prospeknya akan jauh lebih pesimistis. Hal ini dapat menandakan pembalikan struktural jangka panjang dalam perekonomian China.
Masa Depan Perekonomian China
Sementara Xie memberikan perspektif komprehensif mengenai sejauh mana penurunan ekonomi China, dan memperkirakan tingkat penurunannya akan mencapai "-5, -6 persen." Dia menunjuk pada langkah-langkah kemunduran CCP, termasuk penindasan terhadap informasi, blokade teknologi, dan ketegangan geopolitik yang lebih luas sebagai kontributor utama.
Faktor-faktor ini, menurutnya, telah menyebabkan China menjadi "anak telantar di komunitas internasional," yang terisolasi baik secara ekonomi maupun politik.
Bertentangan dengan klaim CCP mengenai pertumbuhan ekonomi, Xie berpendapat bahwa tiga kekuatan pendorong perekonomian China—ekspor, investasi, dan konsumsi–semuanya telah terhenti. Ia mempertanyakan kebenaran laporan pertumbuhan sebesar 5,2 persen dan menghubungkannya dengan praktik-praktik yang menipu.
Dengan menurunnya populasi China dan berkurangnya angkatan kerja, tantangan yang dihadapi perekonomian China sangatlah besar. Dalam pandangan Xie, perekonomian China sedang mengalami kemunduran dibandingkan sebelum bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 2001, dan penurunan ekonomi ini diperkirakan akan terus berlanjut setidaknya hingga tahun 2025.
Saat China bergulat dengan tantangan-tantangan ekonomi ini, komunitas internasional memperhatikan dengan cermat, menilai potensi implikasinya terhadap pasar global dan hubungan diplomatik. Sifat ekonomi dunia yang saling terhubung dapat diartikan bahwa pergeseran lanskap ekonomi China dapat berdampak secara global.
Masih harus dilihat lagi bagaimana Beijing akan mengatasi tantangan-tantangan ini, dan apakah akan ada perubahan dalam kebijakan ekonominya untuk mengatasi kekhawatiran yang dikemukakan para ahli seperti Chen Shouhong dan Frank Xie.
Tahun-tahun mendatang kemungkinan besar akan menjadi tahun penting dalam menentukan arah masa depan perekonomian China dan posisinya di kancah global.
(mas)
Lihat Juga :