5 Fakta Pemerintahan Baru Palestina, Termasuk Buang Hamas?

Senin, 04 Maret 2024 - 14:32 WIB
loading...
5 Fakta Pemerintahan...
Ada beberapa fakta menarik perihal pemerintahan baru Palestina yang akan dibentuk, termasuk kemungkinan membuang Hamas. Foto/REUTERS
A A A
JAKARTA - Perdana Menteri (PM) Palestina Mohammad Shtayyeh dan pemerintahannya mengajukan pengunduran diri mereka kepada Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas pada 26 Februari 2024.

Banyak pengamat menganggap itu sebagai langkah pertama menuju pembentukan pemerintahan teknokratis Palestina yang baru untuk mengatur wilayah Palestina dan mengawasi rekonstruksi Gaza setelah perang Israel-Hamas berakhir nanti.

“Keputusan untuk mengundurkan diri diambil mengingat eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Tepi Barat dan Yerusalem serta perang, genosida, dan kelaparan di Jalur Gaza,” kata Shtayyeh dalam pengumumannya.

Baca Juga: Poin-poin Penting Kesepakatan Gencatan Senjata Terbaru Israel-Hamas

"Tahap berikutnya dan tantangan-tantangannya memerlukan pembentukan pemerintahan baru dan pengaturan politik yang mempertimbangkan realitas baru di Gaza dan perlunya konsensus orang-orang Palestina berdasarkan persatuan Palestina dan perluasan kesatuan otoritas atas tanah Palestina.”

Presiden Abbas, yang memimpin Otoritas Palestina (PA) yang mengelola bagian-bagian tertentu Tepi Barat yang diduduki Israel, menerima pengunduran diri tersebut dan meminta pemerintahan Shtayyeh untuk tetap dalam kapasitas sementara sampai pemerintahan baru ditunjuk.

5 Fakta Tentang Pemerintahan Baru Palestina yang Akan Dibentuk

1. Faktor yang Mendorong Perombakan Pemerintah Palestina


Pengunduran diri PM Shtayyeh dan pemerintahannya merupakan perombakan kabinet yang menyeluruh, kata Tahani Mustafa, seorang analis senior Palestina di International Crisis Group, kepada TIME.

Perombakan ini, menurutnya, dapat dibaca sebagai upaya untuk memenuhi tuntutan Amerika Serikat (AS) dan negara-negara lain agar pembentukan Otoritas Palestina yang direvitalisasi, di mana Gaza dan Tepi Barat dapat dipersatukan kembali di bawah satu struktur pemerintahan setelah perang Israel-Hamas.

Husam Zomlot, duta besar Palestina untuk Inggris, mengatakan kepada wartawan bahwa pembentukan pemerintahan baru merupakan upaya untuk memulai dari awal demi kepentingan persatuan rakyat Palestina.

Dia menambahkan bahwa pembentukan pemerintahan baru tidak akan melibatkan faksi politik apa pun.

“Ini bukan waktunya untuk faksi politik,” katanya. “Inilah waktunya bagi rakyat Palestina.”

Di antara mereka yang diperkirakan akan dimasukkan dalam pemerintahan baru ini adalah Mohammad Mustafa, mantan pejabat Bank Dunia dan ketua Dana Investasi Palestina, yang diperkirakan akan ditunjuk oleh Abbas sebagai PM baru Palestina.

Dikenal luas sebagai teknokrat independen, Mustafa sebelumnya menjabat sebagai menteri ekonomi dan wakil perdana menteri, dan pada saat itu ia terlibat dalam rekonstruksi Gaza setelah perang tahun 2014.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pemimpin Hizbullah:...
Pemimpin Hizbullah: Perlawanan Gagalkan Proyek Israel Raya, Perlucutan Senjata Tak akan Disetujui
Trump Bilang Israel...
Trump Bilang Israel Tak Berhak Kritik Deal AS-Iran karena Dulu Ogah Bunuh Jenderal Soleimani
Iran Nyatakan Menang...
Iran Nyatakan Menang Perang Melawan AS dan Israel
Analis Israel: Netanyahu...
Analis Israel: Netanyahu Pembohong yang Dipermalukan Trump dalam Kesepakatan AS-Iran
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Israel Danai Pemukim...
Israel Danai Pemukim Ekstremis, Bayar Rp34 Miliar Per Bulan
Israel Temukan Batu...
Israel Temukan Batu Suci Berusia 2.700 Tahun yang Tertulis dalam Alkitab
Skandal Kerajaan, Putra...
Skandal Kerajaan, Putra dari Putri Mahkota Norwegia Divonis Penjara atas Tuduhan Pemerkosaan
Dominasi Pizza Hut Memudar...
Dominasi Pizza Hut Memudar hingga Dilego Pemilik Rp47,8 Triliun
Rekomendasi
APKB Dorong Penyempurnaan...
APKB Dorong Penyempurnaan Regulasi Kawasan Berikat: Menjaga Daya Saing Industri dan Investasi
Sony Sonjaya Diperiksa...
Sony Sonjaya Diperiksa Kejagung 9 Jam, Daftar Nama terkait Jual Beli Titik SPPG Bertambah Jadi 41 Orang
PLN EPI Tuntaskan Hot...
PLN EPI Tuntaskan Hot Tap WNTS-Pemping, Gas Natuna Siap Mengalir ke Dalam Negeri
Berita Terkini
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Pemimpin Hizbullah:...
Pemimpin Hizbullah: Perlawanan Gagalkan Proyek Israel Raya, Perlucutan Senjata Tak akan Disetujui
AS Siap Mulai Lagi Perang...
AS Siap Mulai Lagi Perang dan Terapkan Kembali Blokade Jika Iran Tidak Patuh
Trump Bela Kesepakatan...
Trump Bela Kesepakatan Iran: Orang-orang Dungu Itu Iri, Orang Jahat, atau Bodoh
Ketua Parlemen Tegaskan...
Ketua Parlemen Tegaskan Iran akan Pungut Biaya dari Kapal untuk Layanan di Selat Hormuz
AS Ternyata Gunakan...
AS Ternyata Gunakan AI Grok Elon Musk untuk Tembakkan 2.000 Rudal ke Iran
Infografis
5 Fakta OTT Wamenaker...
5 Fakta OTT Wamenaker Immanuel Ebenezer, KPK Sita Uang dan Puluhan Kendaraan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved