Kebijakan Kontroversial Xi Jinping dan Runtuhnya Perekonomian China

Sabtu, 02 Maret 2024 - 09:44 WIB
loading...
A A A
Keempat, tindakan keras Xi terhadap para taipan bisnis telah menciptakan situasi panik di kalangan pemain swasta China. Ketakutan Xi terhadap pertumbuhan dan kekuatan pengusaha swasta yang belum pernah terjadi sebelumnya telah meningkat dalam beberapa waktu terakhir, ketika Xi mulai melakukan pembersihan terhadap mereka.

Pada 2023, pendiri perusahaan Evergrande Hui Ka Yun telah ditahan. Pada Maret 2023, Zhao Weiguo, mantan ketua Tsinghua Unigroup, juga ditangkap.

Bao Fan, pendiri China Renaissance, Xia Jianhua, pendiri Tomorrow Holdings, Chen Feng dan Tan Xiangdong dari HNA Group, hanyalah beberapa di antara daftar panjang taipan bisnis yang ditangkap atau dihilangkan begitu saja oleh CCP. Hilangnya Jack Ma sempat menjadi berita utama ketika dirinya menghilang setelah mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah.

Kelima, menurut Nicholas R. Lardy dari Peterson Institute for International Economics, sejak Xi berkuasa, telah terjadi pergeseran tajam dalam kredit bank yang beralih ke BUMN dari sektor swasta. Antara tahun 2012 dan 2018, aset SOE di China tumbuh sebesar 15 persen setiap tahunnya.

Perlambatan Ekonomi China


Keenam, tidak seperti Deng, dan lebih mirip Mao, Xi adalah seorang Marxis ortodoks yang hanya ingin mengendalikan CCP dan publik China, apa pun risikonya. Xi percaya bahwa terlalu banyak liberalisasi dan penguatan sektor swasta akan menjadi tantangan bagi partai dan dirinya, dan oleh karena itu, dia mencoba melakukan apa yang dilakukan Mao, yaitu membatasi liberalisasi ekonomi.

Sejak tahun 2016, Xi telah menerapkan kebijakan untuk tidak terlalu bergantung pada pertumbuhan PDB properti yang didorong oleh utang. Dengan kata lain, dia membiarkan sektor real estate runtuh.

Pasar properti mencakup sekitar seperempat PDB China dan IMF memperkirakan bahwa investasi di bidang real estat diperkirakan akan turun sebesar 30 persen hingga 60 persen dalam sepuluh tahun mendatang. Namun, Xi menolak untuk memompa modal di pasar properti dan menyaksikan jatuhnya Evergrande.

Para ahli percaya bahwa jatuhnya Evergrande adalah demonstrasi terbesar yang dilakukan Xi untuk memperingatkan industri properti dan perusahaan publik bahwa ia tidak akan lagi menyelamatkan mereka dari krisis.

Sebagian besar situasi ini sengaja diciptakan Xi sendiri, dan perlambatan ekonomi China merupakan ancaman langsung terhadap CCP. Protes terhadap kebijakan ekonomi China telah meningkat sejak tahun lalu. Berdasarkan data China Dissent Monitor, sebuah kelompok hak asasi internasional yang berbasis di New York, sekitar 777 protes buruh terjadi di China antara bulan September hingga Desember 2023.

Banyak ahli memperingatkan bahwa China akan berakhir seperti Jepang, dan "Japanifikasi" perekonomian China tidak dapat dihindari jika tidak ada tindakan tepat yang diambil otoritas yang lebih tinggi. Seperti Jepang, China dengan tergesa-gesa menuju "Dekade yang Hilang" dan ini akan menjadi pukulan besar bagi “Impian China” Xi.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
Studi: Surplus Ekspor...
Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Ini Alasan Trump Puji...
Ini Alasan Trump Puji Putin dan Xi Jinping atas Kesepakatan Damai AS-Iran
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Standar Keselamatan...
Standar Keselamatan Kendaraan Listrik Baru China Lebih Ketat!
Israel Bom Lebanon,...
Israel Bom Lebanon, Iran Murka Bakal Kembali Tutup Selat Hormuz
Momen PM Inggris Keir...
Momen PM Inggris Keir Starmer Tak Kuasa Menahan Tangis saat Umumkan Mundur
Rekomendasi
Nostalgia dengan Fotografi...
Nostalgia dengan Fotografi Analog, Lomography Kini Hadir di Indonesia
Dorong SDM Unggul, IWIP-WBN...
Dorong SDM Unggul, IWIP-WBN Gandeng LPDP Kirim Mahasiswa ke China
Bumerang Bagi Penerimaan...
Bumerang Bagi Penerimaan Negara, Usulan Kenaikan Batas Produksi Rokok Tuai Kritik
Berita Terkini
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Keir Starmer Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved