Pentagon: China Ingin Tambahkan 'Elemen Nuklir' ke Laut China Selatan

Sabtu, 18 Agustus 2018 - 14:49 WIB
Pentagon: China Ingin...
Pentagon: China Ingin Tambahkan 'Elemen Nuklir' ke Laut China Selatan
A A A
WASHINGTON - Pentagon, dalam laporan tahunannya, memperingatkan bahwa China berencana menembah "elemen nuklir" di kawasan pulau-pulau di Laut China Selatan yang disengketakan. Dua tahun lalu, media Beijing mengisyaratkan bahwa pemerintah dapat membangun 20 reaktor nuklir terapung di kawasan tersebut.

Laporan tahunan Pentagon Amerika Serikat (AS) diterbitkan hari Kamis waktu Washington. Laporan itu sebelumnya menyebut pesawat-pesawat pembom Beijing gencar melakukan latihan untuk menyerang AS dan sekutu-sekutunya. Namun, Beijing memprotes anggapan tersebut.

"Rencana China untuk memberdayakan pulau-pulau ini dapat menambah elemen nuklir ke perselisihan teritorial," bunyi laporan Pentagon tahun 2018 untuk Kongres yang berjudul “Military and Security Developments Involving the People’s Republic of China".

"China mengindikasikan rencana pembangunan mungkin akan dilakukan untuk kekuatan pulau-pulau dan terumbu di Laut China Selatan yang rawan (terhadap) angin topan dengan pembangkit listrik tenaga nuklir yang mengambang; pembangunan dilaporkan akan dimulai sebelum 2020," lanjut laporan tersebut, seperti dikutip TIME, Sabtu (18/8/2018).

China Securities Journal, surat kabar keuangan yang dikelola negara China, melaporkan pada tahun 2016 bahwa Beijing dapat membangun hingga 20 pabrik nuklir terapung untuk mempercepat pengembangan komersial Laut China Selatan. Laporan itu dikutip South China Morning Post (SCMP) yang berbasis di Hong Kong.

Menurut SCMP, beberapa perusahaan yang dikelola negara China pada tahun lalu mendirikan perusahaan patungan yang bertujuan untuk memperkuat kemampuan tenaga nuklir China yang sejalan dengan ambisinya untuk menjadi kekuatan maritim yang kuat.

Beijing mengklaim lebih dari 80 persen kawasan Laut China Selatan, yang mendatangkan keuntungan sekitar USD3,4 triliun dari lalu lintas kapal perdagangan global setiap tahunnya. Lima negara lain, termasuk Filipina dan Vietnam, juga memiliki klaim di perairan tersebut.
(mas)
Berita Terkait
Dekati Kepulauan Paracel,...
Dekati Kepulauan Paracel, China Kirim Peringatan ke Kapal Berpeluru Kendali AS
Kirim Kapal Perang Berpeluru...
Kirim Kapal Perang Berpeluru Kendali, AS Tantang Klaim China di LCS
AS Sangkal Kapal Perangnya...
AS Sangkal Kapal Perangnya Diusir China di Laut China Selatan
Kapal Induk AS Gelar...
Kapal Induk AS Gelar Latihan di Laut China Selatan
AS: Undang-undang Maritim...
AS: Undang-undang Maritim Baru China Langgar Perjanjian Internasional
Pentagon Prihatin China...
Pentagon Prihatin China Gelar Latihan Militer di LCS
Berita Terkini
Beberapa Personel Militer...
Beberapa Personel Militer Kuwait Terluka dalam Serangan Iran
2 jam yang lalu
Kelompok Perlawanan...
Kelompok Perlawanan Irak Tawarkan Hadiah Rp179 Miliar untuk Pembunuhan Trump
4 jam yang lalu
Menlu Iran: Israel Gunakan...
Menlu Iran: Israel Gunakan Uang Pajak AS untuk Bungkam Kritikus AS
4 jam yang lalu
China Sangkal Tudingan...
China Sangkal Tudingan Trump tentang Campur Tangan Pemilu AS
5 jam yang lalu
Yaman Memanas, Houthi...
Yaman Memanas, Houthi Ancam Serang Fasilitas Minyak di Arab Saudi
6 jam yang lalu
7 Tempat Penyimpanan...
7 Tempat Penyimpanan Emas Terbesar di Dunia, Ada yang Dijaga di Bawah Tanah hingga Benteng Super Ketat
7 jam yang lalu
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved