Tetangga Indonesia Ingin Bangun Angkatan Laut Terbesar Sejak Perang Dunia II
Selasa, 20 Februari 2024 - 14:32 WIB
loading...
Australia ingin membangun Angkatan Laut terbesar sejak Perang Dunia II. Foto/US Navy via REUTERS
A
A
A
CANBERRA - Australia, salah satu tetangga Indonesia, ingin membangun Angkatan Laut terbesar sejak Perang Dunia II.
Canberra, pada Selasa (20/2/2024), menguraikan rencana selama satu dekade untuk melipatgandakan armada kapal perangnya dan meningkatkan belanja pertahanan sebesar USD7 miliar (lebih dari Rp266,3 triliun).
Itu dilakukan Australia dalam menghadapi perlombaan senjata yang semakin cepat di Asia-Pasifik.
Berdasarkan rencana tersebut, Australia akan memiliki Angkatan Laut yang terdiri dari 26 kapal perang permukaan utama, naik dari 11 kapal yang ada saat ini.
Baca Juga: Tetangga Indonesia Sepakat Produksi Rudal Besar-besaran, Sebut Sedang Perlombaan Senjata
“Ini adalah armada terbesar yang kami miliki sejak akhir Perang Dunia II,” kata Menteri Pertahanan Richard Marles, seperti dikutip Reuters.
Pengumuman ini muncul setelah adanya peningkatan kekuatan senjata secara besar-besaran oleh China dan Rusia, dan di tengah meningkatnya konfrontasi antara sekutu pimpinan Amerika Serikat dan pemerintah otoriter yang semakin agresif.
Canberra, pada Selasa (20/2/2024), menguraikan rencana selama satu dekade untuk melipatgandakan armada kapal perangnya dan meningkatkan belanja pertahanan sebesar USD7 miliar (lebih dari Rp266,3 triliun).
Itu dilakukan Australia dalam menghadapi perlombaan senjata yang semakin cepat di Asia-Pasifik.
Berdasarkan rencana tersebut, Australia akan memiliki Angkatan Laut yang terdiri dari 26 kapal perang permukaan utama, naik dari 11 kapal yang ada saat ini.
Baca Juga: Tetangga Indonesia Sepakat Produksi Rudal Besar-besaran, Sebut Sedang Perlombaan Senjata
“Ini adalah armada terbesar yang kami miliki sejak akhir Perang Dunia II,” kata Menteri Pertahanan Richard Marles, seperti dikutip Reuters.
Pengumuman ini muncul setelah adanya peningkatan kekuatan senjata secara besar-besaran oleh China dan Rusia, dan di tengah meningkatnya konfrontasi antara sekutu pimpinan Amerika Serikat dan pemerintah otoriter yang semakin agresif.
Lihat Juga :