China Peringatkan AS Soal Taiwan: Jangan Bermain Api

Kamis, 13 Agustus 2020 - 00:33 WIB
loading...
China Peringatkan AS...
Foto/Ilustrasi
A A A
BEIJING - China memperingatkan Amerika Serikat (AS) untuk tidak "bermain api" ketika delegasi Washington menyelesaikan perjalanan bersejarah ke Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri.

Beijing geram dengan kunjungan pejabat profil tertinggi AS dalam beberapa dekade ke Taiwan. Kunjungan ini dilakukan ketika hubungan keduanya jatuh ke titik terendah karena berbagai masalah mulai dari perdagangan hingga militer dan pandemi virus Corona.

Menteri Kesehatan AS Alex Azar menyelesaikan kunjungan tiga hari ke Taiwan, di mana dia mengkritik penanganan pandemi China dan mengunjungi kuil mantan presiden Taiwan yang dibenci oleh kepemimpinan Partai Komunis.

Beijing mengecam kunjungan itu dan mengatakan pihaknya dengan tegas menentang pertukaran pejabat antara AS dan Taiwan dengan dalih apa pun.

"Mengenai masalah yang melibatkan kepentingan inti China, beberapa orang di AS tidak boleh menyembunyikan ilusi, mereka yang bermain api akan terbakar," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian pada jumpa pers reguler.

"Saya juga ingin mengingatkan pihak berwenang Taiwan untuk tidak tunduk pada orang lain, bergantung pada dukungan orang asing, dan bertekad mengejar kemerdekaan, yang merupakan jalan buntu," tegas Zhao seperti dilansir dari The National, Kamis (13/8/2020).

Beijing menegaskan bahwa Taiwan - yang telah memerintah sendiri sejak 1949 - adalah bagian dari "satu China" dan telah berjanji untuk bereaksi dengan kekerasan jika secara resmi mendeklarasikan kemerdekaan.

Pada hari terakhir perjalanan, Azar mengunjungi kuil mendiang presiden Taiwan Lee Teng-hui, memuji perannya dalam mengarahkan transisi pulau itu menuju demokrasi.

Anggota kabinet AS itu menulis pesan belasungkawa untuk Lee, yang meninggal bulan lalu dalam usia 97 tahun.

"Warisan demokrasi Presiden Lee akan selamanya mendorong hubungan AS-Taiwan ke depan," tulis Azar.

Lee adalah sosok yang menjulang dalam sejarah Taiwan baru-baru ini. Dia menentang China dengan mendorong pulau itu diakui sebagai negara yang berdaulat.

Beijing, yang mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya sendiri, membenci Lee. Ketika berita kematiannya muncul, media pemerintah China menyebutnya "ayah baptis pemisahan diri Taiwan".

Baik Washington dan Taipei menggambarkan perjalanan Azar sebagai kesempatan untuk belajar dari keberhasilan pertempuran Taiwan melawan virus Corona. Pulau ini memiliki kurang dari 500 infeksi dan hanya tujuh kematian, dibandingkan dengan lebih dari 160.000 kematian di AS.(Baca: Dikritik Soal Penanganan Covid-19, China: AS Jauh Lebih Buruk )

Tetapi kunjungan itu juga menjadi kesempatan untuk mengacak-acak sikap Beijing pada saat Presiden AS Donald Trump mengambil sikap yang semakin keras terhadap China saat dia berusaha terpilih kembali pada November.

"Kami akan terus mendukung Taiwan sebagai teman dan mitra kami dalam masalah keamanan, ekonomi dan perawatan kesehatan," kata Azar kepada wartawan setelah mengunjungi pabrik masker, tak lama sebelum terbang kembali ke AS.

China tersinggung dengan pengakuan formal apa pun atas Taiwan.

Mereka menyerukan agar perjalanan Azar dibatalkan dan Taiwan menuduh Beijing mengirim jet tempur melewati perbatasan de facto pada hari Senin, hari ketika kepala kesehatan AS bertemu dengan Presiden Tsai Ing-wen.(Baca: Rudal Taiwan Lacak dan Usir Jet-jet Tempur China )

Selama kunjungannya, Azar berulang kali membandingkan sistem demokrasi Taiwan yang terbuka dengan kepemimpinan China.(Baca: AS: China Harus Belajar Soal Keterbukaan Informasi Kepada Taiwan )
(ber)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menlu Rubio Ungkap AS...
Menlu Rubio Ungkap AS Masih Bersedia Negosiasi dengan Iran
RUU Integrasi Militer...
RUU Integrasi Militer AS-Israel Dianggap Ancaman Eksistensial, Anggota Kongres Diseru Menolak
Trump Setujui Kesepakatan...
Trump Setujui Kesepakatan Nuklir Arab Saudi yang Memungkinkan Pengayaan Uranium
Trump Ingin Terus Serang...
Trump Ingin Terus Serang Iran dari Pangkalan Militer Inggris
Menhan AS Hegseth Ungkap...
Menhan AS Hegseth Ungkap Biaya Perang Melawan Iran Sejauh Ini Sebesar Rp672 Triliun
Trump: Pasukan AS Segera...
Trump: Pasukan AS Segera Serang Lokasi Gunung Pickaxe Iran dengan Sangat Hebat
China Pastikan Kendaraan...
China Pastikan Kendaraan Listrik Berukuran Besar Merusak Jalan
Houthi Umumkan Blokade...
Houthi Umumkan Blokade Laut Terhadap Arab Saudi
Houthi Blokade Pelabuhan...
Houthi Blokade Pelabuhan Saudi, Ini Respons Keras Riyadh
Rekomendasi
China Pastikan Kendaraan...
China Pastikan Kendaraan Listrik Berukuran Besar Merusak Jalan
Honda CB400SF E-Clutch...
Honda CB400SF E-Clutch dan CBR400R Four Siap Diluncurkan Bulan Depan!
Kisah Haru Anak Kuli...
Kisah Haru Anak Kuli Bangunan Dilantik Presiden Prabowo Jadi Perwira TNI di Istana
Berita Terkini
Menlu Rubio Ungkap AS...
Menlu Rubio Ungkap AS Masih Bersedia Negosiasi dengan Iran
RUU Integrasi Militer...
RUU Integrasi Militer AS-Israel Dianggap Ancaman Eksistensial, Anggota Kongres Diseru Menolak
Trump Setujui Kesepakatan...
Trump Setujui Kesepakatan Nuklir Arab Saudi yang Memungkinkan Pengayaan Uranium
Trump Ingin Terus Serang...
Trump Ingin Terus Serang Iran dari Pangkalan Militer Inggris
Menhan AS Hegseth Ungkap...
Menhan AS Hegseth Ungkap Biaya Perang Melawan Iran Sejauh Ini Sebesar Rp672 Triliun
Kerusuhan Pecah di Italia...
Kerusuhan Pecah di Italia setelah Pria Maroko Dibunuh Polisi secara Brutal
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved