Serangan Israel Menggila di Rafah, Upaya Gencatan Senjata Berlanjut
Jum'at, 09 Februari 2024 - 19:06 WIB
loading...
A
A
A
Mayat-mayat itu dibaringkan dalam kain kafan putih. Seorang lelaki membawa jenazah anak kecil di dalam kantung mayat berwarna hitam.
“Tiba-tiba dalam sekejap, roket menimpa anak-anak, wanita, dan pria lanjut usia. Untuk apa? Mengapa? Karena gencatan senjata yang akan datang? Biasanya hal ini terjadi sebelum gencatan senjata,” ujar warga, Mohammed Abu Habib.
Emad (55), ayah dari enam anak yang mengungsi di Rafah setelah meninggalkan rumahnya di tempat lain, mengatakan ketakutan terbesarnya adalah serangan darat yang tidak punya tempat untuk melarikan diri.
“Kami membelakangi pagar (perbatasan) dan menghadap ke Mediterania. Kemana kita harus pergi?" tanya dia.
Badan-badan bantuan telah memperingatkan bencana kemanusiaan jika Israel menindaklanjuti ancamannya untuk memasuki Rafah.
Rafah menjadi salah satu wilayah terakhir di Jalur Gaza yang belum dimasuki pasukan Israel.
“Kami tinggal di tempat yang diperuntukkan bagi hewan,” ungkap Umm Mahdi Hanoon, sambil berdiri di antara kandang kandang ayam tempat keluarganya kini tinggal bersama empat keluarga lainnya.
“Bayangkan seorang anak tidur di kandang ayam… terkadang kita berharap pagi tidak datang,” tutur dia.
Meskipun Israel menolak usulan Hamas, pembicaraan lebih lanjut direncanakan. Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken yang bertemu dengan para mediator pekan ini dalam perjalanan kelimanya ke wilayah tersebut sejak dimulainya perang, mengatakan dia masih melihat ruang untuk negosiasi.
Blinken juga mengatakan jumlah korban tewas warga sipil terlalu tinggi dan menegaskan kembali bahwa operasi Israel harus mengutamakan warga sipil.
Dia mengatakan telah menyarankan beberapa cara untuk meminimalkan dampak buruk dalam pembicaraan dengan para pemimpin Israel, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut. Blinken berangkat untuk kembali ke AS pada Kamis sore.
Delegasi Hamas di Mesir diperkirakan akan bertemu dengan para pejabat termasuk kepala Intelijen Mesir, Abbas Kamel, menurut sumber keamanan Mesir.
“Tiba-tiba dalam sekejap, roket menimpa anak-anak, wanita, dan pria lanjut usia. Untuk apa? Mengapa? Karena gencatan senjata yang akan datang? Biasanya hal ini terjadi sebelum gencatan senjata,” ujar warga, Mohammed Abu Habib.
Emad (55), ayah dari enam anak yang mengungsi di Rafah setelah meninggalkan rumahnya di tempat lain, mengatakan ketakutan terbesarnya adalah serangan darat yang tidak punya tempat untuk melarikan diri.
“Kami membelakangi pagar (perbatasan) dan menghadap ke Mediterania. Kemana kita harus pergi?" tanya dia.
Badan-badan bantuan telah memperingatkan bencana kemanusiaan jika Israel menindaklanjuti ancamannya untuk memasuki Rafah.
Rafah menjadi salah satu wilayah terakhir di Jalur Gaza yang belum dimasuki pasukan Israel.
“Kami tinggal di tempat yang diperuntukkan bagi hewan,” ungkap Umm Mahdi Hanoon, sambil berdiri di antara kandang kandang ayam tempat keluarganya kini tinggal bersama empat keluarga lainnya.
“Bayangkan seorang anak tidur di kandang ayam… terkadang kita berharap pagi tidak datang,” tutur dia.
Dorongan Diplomatis
Meskipun Israel menolak usulan Hamas, pembicaraan lebih lanjut direncanakan. Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken yang bertemu dengan para mediator pekan ini dalam perjalanan kelimanya ke wilayah tersebut sejak dimulainya perang, mengatakan dia masih melihat ruang untuk negosiasi.
Blinken juga mengatakan jumlah korban tewas warga sipil terlalu tinggi dan menegaskan kembali bahwa operasi Israel harus mengutamakan warga sipil.
Dia mengatakan telah menyarankan beberapa cara untuk meminimalkan dampak buruk dalam pembicaraan dengan para pemimpin Israel, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut. Blinken berangkat untuk kembali ke AS pada Kamis sore.
Delegasi Hamas di Mesir diperkirakan akan bertemu dengan para pejabat termasuk kepala Intelijen Mesir, Abbas Kamel, menurut sumber keamanan Mesir.
Lihat Juga :