AS Kembali Serang Houthi Yaman, Ketegangan di Laut Merah Makin Membara
Rabu, 17 Januari 2024 - 06:50 WIB
loading...
A
A
A
Perang di Gaza telah mendorong kelompok Houthi menjadi sorotan internasional. Mereka telah mengungguli “poros kelompok perlawanan” Iran lainnya, seperti Hizbullah di Lebanon atau milisi Irak, dengan menyerang jantung perdagangan global.
Houthi yang pernah menjadi milisi yang diremehkan, adalah pengikut Zaidisme, cabang dari Islam Syiah. Pada tahun 2014 mereka menyerbu dari pegunungan barat laut Yaman dan merebut ibu kota Yaman, Sanaa.
Arab Saudi dan koalisi negara-negara Arab melakukan intervensi dalam perang saudara Yaman melawan Houthi, dalam upaya memulihkan pemerintahan yang diakui secara internasional.
Koalisi pimpinan Saudi melancarkan ribuan serangan udara di Yaman yang mengakibatkan ratusan ribu kematian warga sipil dan krisis kemanusiaan yang besar, namun mereka gagal mengusir kelompok tersebut, yang kini menguasai sekitar 80% penduduk Yaman.
Meskipun Houthi melancarkan serangan drone dan rudal ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) selama bertahun-tahun, kampanye mereka melawan pelayaran internasional sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina telah menyemangati dunia Arab untuk mendukung mereka, memberikan mereka pengakuan dan dukungan yang belum pernah terjadi sebelumnya bahkan di antara para pengkritiknya.
Sekitar 12% perdagangan global melewati Laut Merah, termasuk 30% dari seluruh lalu lintas peti kemas global.
Selat Bab el-Mandab dan Terusan Suez di utara merupakan titik-titik penting bagi perdagangan antara Asia dan Barat.
Volvo Cars mengatakan pihaknya terpaksa menghentikan produksi di pabriknya di Belgia karena ketegangan di Laut Merah, sementara Tesla menghentikan produksi di Jerman.
Produsen ban Michelin juga telah memperingatkan tentang “penghentian” sementara di pabrik-pabriknya di Eropa.
Kapal-kapal yang menghindari Laut Merah dan melakukan perdagangan antara Timur dan Barat harus mengambil rute yang lebih memutar di sekitar Tanjung Harapan di Afrika, yang dapat menambah waktu perjalanan selama dua pekan.
Penambahan waktu perjalanan, yang berarti keuntungan besar bagi pemilik kapal, juga berisiko memicu inflasi dan menaikkan harga bagi konsumen.
Meskipun kapal kargo telah dialihkan secara massal dari Laut Merah, kapal tanker yang membawa energi seperti Liquified Natural Gas (LNG) dan minyak tampaknya lebih menghindari risiko.
Sekitar 74% dari total lalu lintas minyak menuju selatan Laut Merah adalah Rusia, dengan sebagian besar menuju China; sementara sebagian besar LNG yang menuju utara di Laut Merah dikirim ke Eropa dari Qatar.
Houthi yang pernah menjadi milisi yang diremehkan, adalah pengikut Zaidisme, cabang dari Islam Syiah. Pada tahun 2014 mereka menyerbu dari pegunungan barat laut Yaman dan merebut ibu kota Yaman, Sanaa.
Arab Saudi dan koalisi negara-negara Arab melakukan intervensi dalam perang saudara Yaman melawan Houthi, dalam upaya memulihkan pemerintahan yang diakui secara internasional.
Koalisi pimpinan Saudi melancarkan ribuan serangan udara di Yaman yang mengakibatkan ratusan ribu kematian warga sipil dan krisis kemanusiaan yang besar, namun mereka gagal mengusir kelompok tersebut, yang kini menguasai sekitar 80% penduduk Yaman.
Meskipun Houthi melancarkan serangan drone dan rudal ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) selama bertahun-tahun, kampanye mereka melawan pelayaran internasional sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina telah menyemangati dunia Arab untuk mendukung mereka, memberikan mereka pengakuan dan dukungan yang belum pernah terjadi sebelumnya bahkan di antara para pengkritiknya.
Houthi Serang Produsen Mobil
Sekitar 12% perdagangan global melewati Laut Merah, termasuk 30% dari seluruh lalu lintas peti kemas global.
Selat Bab el-Mandab dan Terusan Suez di utara merupakan titik-titik penting bagi perdagangan antara Asia dan Barat.
Volvo Cars mengatakan pihaknya terpaksa menghentikan produksi di pabriknya di Belgia karena ketegangan di Laut Merah, sementara Tesla menghentikan produksi di Jerman.
Produsen ban Michelin juga telah memperingatkan tentang “penghentian” sementara di pabrik-pabriknya di Eropa.
Kapal-kapal yang menghindari Laut Merah dan melakukan perdagangan antara Timur dan Barat harus mengambil rute yang lebih memutar di sekitar Tanjung Harapan di Afrika, yang dapat menambah waktu perjalanan selama dua pekan.
Penambahan waktu perjalanan, yang berarti keuntungan besar bagi pemilik kapal, juga berisiko memicu inflasi dan menaikkan harga bagi konsumen.
Shell Hentikan Transit di Laut Merah
Meskipun kapal kargo telah dialihkan secara massal dari Laut Merah, kapal tanker yang membawa energi seperti Liquified Natural Gas (LNG) dan minyak tampaknya lebih menghindari risiko.
Sekitar 74% dari total lalu lintas minyak menuju selatan Laut Merah adalah Rusia, dengan sebagian besar menuju China; sementara sebagian besar LNG yang menuju utara di Laut Merah dikirim ke Eropa dari Qatar.
Lihat Juga :