Miliki Kekuatan Roket Signifikan, PLARF China Belum Teruji di Medan Perang

Selasa, 12 Desember 2023 - 10:04 WIB
loading...
A A A
PLARF juga menetralisir ketidakmampuan China untuk mengoperasikan armada luar negeri yang besar secara global, terutama karena China tidak memiliki cukup orang atau pengalaman untuk mengemudikan pesawat atau menjadi kapten kapalnya.

Ini bukan yang diinginkan China, tapi inilah yang harus dilakukan mereka. Di sisi lain, persediaan rudal China bersifat tradisional dan merupakan pilihan yang lebih murah untuk proyeksi kekuatannya. Hal ini mungkin dapat mencapai tujuan China. Secara keseluruhan, situasi ini tidak akan berubah di masa mendatang. Upaya untuk meniru/mereplikasi PLARF dalam konteks India memerlukan pemikiran ulang. India harus memanfaatkan kekuatan dan persyaratannya.

Aset PLARF akan menjadi target bernilai tinggi dalam skenario konflik apa pun. Namun, semua laporan terkait PLARF sejauh ini kurang rinci mengenai perlindungan aset-aset dari potensi serangan udara. Sistem pencegat rudal China masih dalam tahap uji coba dan bergantung pada sistem S-300 yang diperolehnya dari Rusia. Ketiadaan kemampuan pertahanan udara yang berlapis memang menunjukkan adanya kerentanan yang dapat dieksploitasi.

PLARF adalah kekuatan strategis tangguh yang dapat digunakan pada kedalaman operasional. Namun dalam skenario taktis, perannya relatif terbatas. Setelah melewati tahap pertempuran awal, dampak PLARF akan berkurang dalam skenario apa pun.

Selain itu, seiring dengan berlanjutnya pertempuran, peran dan kemanjuran roket dan rudal juga menjadi terbatas. Kampanye yang berkepanjangan akan menghilangkan keuntungan yang diberikan PLARF terhadap China.

Hal ini terlihat sangat jelas dalam perang Ukraina dan pertempuran Israel-Hamas. Setelah pertempuran dimulai, kemampuan untuk bertarung dan menang pada level taktis menjadi lebih penting. PLARF tidak akan memenangkan perang untuk China seperti yang selama ini coba dipropagandakan.

Pengerahan sistem rudal/roket yang dilakukan China di Tibet sebagian besarnya hanya untuk mengompensasi kekurangan mereka dalam kemampuan udara berawak di dataran tinggi. PLARF tidak memberikan keuntungan besar kepada China pada tingkat taktis dan operasional di sepanjang Garis Kendali Aktual (LAC) dengan India. Selain itu, kemanjuran sistem ini di dataran tinggi masih belum terbukti.

Tidak ada keraguan bahwa PLA mempunyai kekuatan rudal dan roket yang lebih besar dibandingkan India. Namun, penempatan pangkalan dan unit PLARF menunjukkan bias yang besar terhadap wilayah timur yang berpenduduk dan kritis secara ekonomi dibandingkan dengan Tibet.

Jelas sekali bahwa China tidak dapat mengerahkan seluruh persenjataannya untuk melawan India dan membiarkan dirinya rentan di jantung wilayah Han. Kebanyakan penilaian terkini berasal dari sumber-sumber Barat yang menyatakan kasus ini dari sudut pandang mereka.

"Sangat mungkin bahwa kita terlalu menilai ancaman dari PLARF secara kualitatif dan kuantitatif dalam skenario konvensional. Oleh karena itu, penilaian yang realistis diperlukan dalam konteks China-India. Persamaan nuklir berbeda dengan dinamika berbeda dan tidak dibahas lebih lanjut," ucap Shankar.

Praktik Korupsi di Internal PLARF


Di daerah Tibet yang keras, kemampuan mengerahkan sistem roket dan rudal berat dibatasi banyak faktor. Faktor-faktor ini memungkinkan untuk menetralisir kekuatan PLARF. Mengontrol rute keluar masuk dan pengerahan aset PLARF dapat memberikan keuntungan besar di Pegunungan Himalaya.

Komandan harus menggunakan kemampuan intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR) untuk mengidentifikasi aset PLARF dan menggunakan pasukan operasi khusus atau tembakan presisi jarak jauh, baik dukungan integral atau udara, untuk menetralisir ancaman yang ditimbulkan sistem rudal tersebut. ISR juga dapat mengidentifikasi apakah unit PLARF merupakan unit konvensional atau nuklir sehingga komandan dapat bereaksi sesuai dengan kondisi.

India tidak boleh bersaing dengan China secara kuantitatif. New Delhi harus melihat hasil yang diinginkan dengan biaya minimal. India seharusnya fokus pada penyeimbangan kualitatif. Penyeimbangan kualitatif datang dari pengerahan pasukan imajinatif dengan mengeksploitasi medan, menggabungkan pertahanan udara/misil berlapis, penguatan aset milik sendiri secara selektif, pertahanan udara berlapis, dan penipuan untuk mengelabui China agar menyerang sasaran yang salah.

Filosofi pencegahan dengan penolakan akan menghasilkan manfaat yang sangat besar. Hal ini dapat mengurangi bahaya kesalahan serangan presisi jarak jauh yang sangat besar. Namun, hal itu memerlukan perencanaan bersama yang tekun dan telaten.

Hal terakhir, PLARF didanai besar-besaran oleh China. Oleh karena itu, banyak korupsi terlibat di dalamnya. Hal ini terlihat jelas dari pemecatan Menteri Pertahanan dan pimpinan tertinggi PLARF baru-baru ini.

Wakil Ketua Komisi Militer Pusat China juga secara terbuka menyebutkan kualitas perangkat PLARF di bawah standar. Jika dideskripsikan lebih jauh, PLARF merupakan kekuatan yang didukung dana besar, kepemimpinan korup, dan peralatan di bawah standar.

"Perlu diketahui apakah deskripsi tersebut bersifat permanen atau hanya sementara. Kita tidak akan pernah tahu karena sebagian besar kekuatan ini tidak akan digunakan dalam pertempuran apa pun!" pungkas Shankar.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
LineShine Jadi Superkomputer...
LineShine Jadi Superkomputer Tercepat di Dunia, China Mampu Kalahkan AS
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Viral, Robot China Ini...
Viral, Robot China Ini Mengemis di Jalan untuk Bayar Listrik
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
China Desak BRICS Berani...
China Desak BRICS Berani Melawan Barat: Akses Mineral Strategis Bakal Dikunci
Gempa Guncang Venezuela,...
Gempa Guncang Venezuela, 18 Orang Diselamatkan dari Reruntuhan
Harga Minyak Dunia Turun...
Harga Minyak Dunia Turun usai Selat Hormuz Dibuka Lagi, Dekati Level Sebelum Perang AS-Iran
Rekomendasi
Jokowi Wajib Hadir di...
Jokowi Wajib Hadir di Persidangan Perkara Ijazah, Pengacara Roy Suryo: Kan Dia Pelapor
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Kapal Induk Garibaldi...
Kapal Induk Garibaldi dan Masa Depan Strategi Maritim Indonesia
Berita Terkini
Negara NATO Ini Bakal...
Negara NATO Ini Bakal Melarang Kumandang Azan
Selat Hormuz Bergejolak...
Selat Hormuz Bergejolak Lagi, Iran Serang Kapal Berbendera Singapura
Iran Tolak Pendapat...
Iran Tolak Pendapat Menlu AS Rubio tentang Kesepakatan Damai
Trump Ungkap Turki Siap...
Trump Ungkap Turki Siap Gabung Perang Bersama Iran tapi Dicegah AS
Iran Peringatkan Kapal-kapal...
Iran Peringatkan Kapal-kapal Tidak Melintasi Selat Hormuz Tanpa Izin
Korban Gempa Venezuela...
Korban Gempa Venezuela Bertambah, 164 Orang Tewas, 971 Luka-luka
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved