AS Selidiki Klaim China Bantu Saudi Kembangkan Senjata Nuklir
Jum'at, 07 Agustus 2020 - 06:21 WIB
loading...
A
A
A
Arab Saudi belum menandatangani pembatasan yang sama yang disetujui UEA selama pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklirnya sendiri, dan pada 2018, Putra Mahkota Mohammed bin Salman mengatakan kerajaan akan mencoba mengembangkan atau memperoleh senjata nuklir jika Iran melanjutkan pekerjaannya mendapatkan bom nuklir.(Baca: Arab Saudi Siap Kembangkan Bom Nuklir )
Menurut The New York Times, Saudi menandatangani nota kesepahaman dengan China National Nuclear pada 2017 untuk membantu mengeksplorasi deposit uraniumnya, dan perjanjian lainnya ditandatangani dengan China Nuclear Engineering Group.
Kedua kesepakatan itu menyusul pakta 2012 yang diumumkan antara Riyadh dan Beijing untuk bekerja sama dalam penggunaan energi nuklir secara damai.
Para analis mengatakan bahwa Arab Saudi mulai melakukan perubahan ke arah kerja sama nuklir dengan China, daripada sekutu tradisionalnya AS, karena kerajaan itu telah kehilangan kepercayaan pada kemampuan Washington untuk melawan Iran.
"Mereka percaya bahwa sebagai hasil dari JCPOA, mereka tidak dapat mengandalkan siapa pun yang mengekang Iran, dan mereka harus menghalangi Iran sendiri," Rolf Mowatt-Larssen, direktur intelijen dan kontraintelijen di Departemen Energi, kepada New York Times yang dinukil Middle East Eye, Jumat (7/8/2020).
Arab Saudi juga belum menandatangani pembatasan AS yang sama yang dimiliki negara lain, dan Riyadh saat ini memiliki perjanjian perlindungan terbatas dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) serta tidak berkewajiban untuk mengungkapkan situsnya kepada pengawas nuklir.
Pada awal tahun ini, lebih dari 150 negara, termasuk Iran dan AS, telah menandatangani protokol tambahan IAEA - jenis pengawasan paling canggih dari badan tersebut - yang melindungi dari penyebaran senjata nuklir.
Menurut The New York Times, Saudi menandatangani nota kesepahaman dengan China National Nuclear pada 2017 untuk membantu mengeksplorasi deposit uraniumnya, dan perjanjian lainnya ditandatangani dengan China Nuclear Engineering Group.
Kedua kesepakatan itu menyusul pakta 2012 yang diumumkan antara Riyadh dan Beijing untuk bekerja sama dalam penggunaan energi nuklir secara damai.
Para analis mengatakan bahwa Arab Saudi mulai melakukan perubahan ke arah kerja sama nuklir dengan China, daripada sekutu tradisionalnya AS, karena kerajaan itu telah kehilangan kepercayaan pada kemampuan Washington untuk melawan Iran.
"Mereka percaya bahwa sebagai hasil dari JCPOA, mereka tidak dapat mengandalkan siapa pun yang mengekang Iran, dan mereka harus menghalangi Iran sendiri," Rolf Mowatt-Larssen, direktur intelijen dan kontraintelijen di Departemen Energi, kepada New York Times yang dinukil Middle East Eye, Jumat (7/8/2020).
Arab Saudi juga belum menandatangani pembatasan AS yang sama yang dimiliki negara lain, dan Riyadh saat ini memiliki perjanjian perlindungan terbatas dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) serta tidak berkewajiban untuk mengungkapkan situsnya kepada pengawas nuklir.
Pada awal tahun ini, lebih dari 150 negara, termasuk Iran dan AS, telah menandatangani protokol tambahan IAEA - jenis pengawasan paling canggih dari badan tersebut - yang melindungi dari penyebaran senjata nuklir.
Lihat Juga :