Lebanon Mengaku Tak Miliki Dana Atasi Dampak Ledakan Beirut
Kamis, 06 Agustus 2020 - 20:26 WIB
loading...
Menteri Ekonomi dan Perdagangan Lebanon, Raoul Nehme mengaku pihaknya tidak memiliki sarana keuangan yang memadai untuk mengatasi konsekuensi ledakan di Beirut. Foto/REUTERS
A
A
A
BEIRUT - Lebanon mengaku tidak memiliki sarana keuangan yang memadai untuk mengatasi konsekuensi ledakan di Beirut. Pengakuan itu disampaikan oleh Menteri Ekonomi dan Perdagangan Lebanon, Raoul Nehme.
"Lebanon tidak memiliki dana untuk mengatasi akibat ledakan. Kami meminta bantuan dari komunitas internasional. Kerusakan akibat ledakan itu diperkirakan mencapai miliaran dolar. Kami perlu waktu untuk memperkirakan total kerusakan," ucap Nehme.
( Baca juga: Tunjukkan Solidaritas, Piramida Mesir Nyalakan Lampu Bendera Lebanon )
"Satu-satunya solusi untuk Lebanon adalah kerja sama dengan Dana Moneter Internasional," sambungnya dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Tass pada Kamis (6/8/2020).
Sebelumnya, Gubernur Beirut, Marwan Abboud mengatakan bahwa masih terlalu dini untuk menentukan berapa nilai kerusakan yang disebabkan oleh ledakan mengerikan di Ibu Kota Lebanon tersebut. Namun, dia memperkirakan nilai kerusakannya lebih dari USD 5 miliar atau lebih dari Rp72,9 triliun.
Abboud mengatakan, satu pelabuhan saja nilai kerusakannya sekitar USD 3 miliar. "Ini terlalu dini karena setiap detik kita melihat semakin banyak hal yang dihancurkan. Tetapi perkiraan kasar akan lebih dari USD5 miliar," kata Abboud.
Abboud kemudian mengatakan bahwa antara 250.000 dan 300.000 orang sekarang hidup tanpa rumah karena rumah-rumah mereka hancur oleh ledakan tersebut. ( Baca juga: Hanya Negeri Paman Sam yang Mengalahkan Indonesia Soal Energi Ini )
Ledakan di pelabuhan Beirut sendiri diketahui menghancurkan seluruh lingkungan kota. Ledakan tersebut telah menewaskan sekitar 135 orang dan melukai sekitar 5.000 orang lainnya.
"Lebanon tidak memiliki dana untuk mengatasi akibat ledakan. Kami meminta bantuan dari komunitas internasional. Kerusakan akibat ledakan itu diperkirakan mencapai miliaran dolar. Kami perlu waktu untuk memperkirakan total kerusakan," ucap Nehme.
( Baca juga: Tunjukkan Solidaritas, Piramida Mesir Nyalakan Lampu Bendera Lebanon )
"Satu-satunya solusi untuk Lebanon adalah kerja sama dengan Dana Moneter Internasional," sambungnya dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Tass pada Kamis (6/8/2020).
Sebelumnya, Gubernur Beirut, Marwan Abboud mengatakan bahwa masih terlalu dini untuk menentukan berapa nilai kerusakan yang disebabkan oleh ledakan mengerikan di Ibu Kota Lebanon tersebut. Namun, dia memperkirakan nilai kerusakannya lebih dari USD 5 miliar atau lebih dari Rp72,9 triliun.
Abboud mengatakan, satu pelabuhan saja nilai kerusakannya sekitar USD 3 miliar. "Ini terlalu dini karena setiap detik kita melihat semakin banyak hal yang dihancurkan. Tetapi perkiraan kasar akan lebih dari USD5 miliar," kata Abboud.
Abboud kemudian mengatakan bahwa antara 250.000 dan 300.000 orang sekarang hidup tanpa rumah karena rumah-rumah mereka hancur oleh ledakan tersebut. ( Baca juga: Hanya Negeri Paman Sam yang Mengalahkan Indonesia Soal Energi Ini )
Ledakan di pelabuhan Beirut sendiri diketahui menghancurkan seluruh lingkungan kota. Ledakan tersebut telah menewaskan sekitar 135 orang dan melukai sekitar 5.000 orang lainnya.
(esn)
Lihat Juga :