Drone Murah Hamas Bikin Tembok Perbatasan Canggih Israel Kocar-kacir

Kamis, 12 Oktober 2023 - 08:45 WIB
loading...
Drone Murah Hamas Bikin...
Menara pengawas militer Israel terbakar di Jalur Gaza pada Sabtu, 7 Oktober 2023. Foto/ABED RAHIM KHATIB/DPA
A A A
GAZA - Menipu Israel mengenai niatnya dan menemukan kerentanan utama dalam infrastruktur pengawasan di perbatasan Gaza adalah beberapa elemen penting dari serangan terbaru Hamas.

Perencanaan matang oleh Hamas memungkinkan kelompok pejuang Palestina itu melancarkan serangan terburuk terhadap keamanan Israel dalam lima dekade, menurut The New York Times pada Selasa (10/10/2023).

Surat kabar tersebut berbicara dengan para pejabat senior keamanan Israel tentang kesimpulan awal yang dibuat lembaga mereka mengenai serangan pejuang Hamas ke Israel selatan pada Sabtu lalu.

Pejuang Hamas Palestina menyerbu lebih dari 20 kota dan pangkalan militer, menewaskan ratusan tentara dan warga sipil serta menyandera puluhan orang.

Sebelum serangan itu, Israel menganggap Hamas berhasil dicegah sejak bentrokan pada Mei 2021.

“Panggilan telepon yang disadap antara militan tampaknya mengkonfirmasi penilaian bahwa organisasi tersebut bukanlah ancaman,” ungkap sumber itu.

Analisis sedang dilakukan untuk mengetahui apakah percakapan tersebut direkayasa.

Baca juga: Putin: Kebijakan Amerika Serikat di Timur Tengah Jelas Gagal Total

Israel terlalu bergantung pada tembok canggih yang dibangunnya di sepanjang perbatasan Gaza, yang memiliki berbagai jenis sensor dan senapan mesin yang dioperasikan dari jarak jauh.

“Para pejabat percaya wilayah tersebut tidak dapat ditembus dan menempatkan kekuatan militer yang relatif kecil di dekatnya, sehingga memprioritaskan wilayah lain untuk penempatan,” ungkap laporan itu.

“Hamas menghancurkan setidaknya empat menara komunikasi menggunakan amunisi yang dijatuhkan drone pada tahap awal serangannya, sehingga sistem tersebut tidak berguna,” papar NYT.

Israel tidak dapat melihat akibat dari penghancuran dinding perbatasan tersebut, yang ternyata merupakan hal yang lebih mudah dari yang mereka perkirakan.

Hamas menggunakan bahan peledak dan buldoser untuk menciptakan hampir 30 celah agar sekitar 1.500 pejuang dapat melewatinya.

Kegagalan operasional yang dilakukan Israel mengakibatkan para komandan seniornya berkumpul di satu pangkalan di wilayah tersebut, yang kemudian dikuasai dalam serangan kilat oleh para pejuang Palestina.

“Dengan sebagian besar pemimpin Israel terbunuh atau disandera, respons Israel terhadap keadaan darurat tidak terorganisir dan lambat,” papar sumber itu.

Orang-orang yang berada di posisi lebih tinggi dalam rantai komando pada awalnya tidak menyadari skala serangan di tengah kekacauan tersebut.

Pesawat-pesawat tempur Israel membutuhkan waktu berjam-jam untuk memberikan dukungan udara kepada pasukan yang merespons, meskipun mereka bermarkas hanya beberapa menit dari daerah tersebut.

Investigasi menyeluruh atas kegagalan Israel masih tertunda, karena pasukannya saat ini fokus pada aksi militer balasan di Gaza.

Surat kabar tersebut menyatakan serangan Hamas telah menghancurkan rasa aman negara tersebut dan merusak reputasi internasionalnya sebagai mitra keamanan yang dapat diandalkan.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Israel Kucurkan Rp917...
Israel Kucurkan Rp917 Miliar untuk Bangun 69 Permukiman Ilegal di Tepi Barat
Hamas Kutuk Otoritas...
Hamas Kutuk Otoritas Palestina karena Koordinasi Keamanan dengan Israel
Didanai Maroko, Nikah...
Didanai Maroko, Nikah Massal Digelar untuk 40 Warga Gaza Penyandang Disabilitas dan Cedera
3 Fakta Penembakan Bayi...
3 Fakta Penembakan Bayi Palestina Berusia 7 Bulan oleh Tentara Israel
Hamas Tak akan Serahkan...
Hamas Tak akan Serahkan Persenjataan, tapi Hanya Polisi yang Bawa Senjata di Gaza
Dewan Pers Minta Pemerintah...
Dewan Pers Minta Pemerintah Tempuh Jalur Diplomatik Bebaskan Jurnalis yang Ditangkap Israel
Korban Tewas Gempa M7,8...
Korban Tewas Gempa M7,8 di Filipina Bertambah Menjadi 41 Orang
Ditolak AS, Omar Artan...
Ditolak AS, Omar Artan Wasit Piala Dunia asal Somalia Disambut bak Pahlawan di Negaranya
Rekomendasi
Pemutakhiran NIK Jadi...
Pemutakhiran NIK Jadi Kunci Pembebasan PBB-P2 di Jakarta
Polisi Imbau Mahasiswa...
Polisi Imbau Mahasiswa Waspadai Demo Hari Ini Ditunggangi
Kisah Raihan, Siswa...
Kisah Raihan, Siswa MAN 1 Yogya yang Berhasil Diterima di ITB, UGM, dan ITS
Berita Terkini
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Israel Jadi Negara yang...
Israel Jadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Beda dengan Pejabat...
Beda dengan Pejabat Eropa, Jenderal Senior NATO Ini Sebut Rusia Tak Mencari Konflik
Elon Musk Triliuner...
Elon Musk Triliuner Pertama di Dunia, Kekayaannya Rp19.706,5 Triliun Setara 73 Kali Anggaran MBG
Infografis
Weizmann Institute,...
Weizmann Institute, Lab Senjata Canggih Israel Hancur Dirudal Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved