Pandemi Covid-19 Membuat Peritel di AS Hadapi Masa Sulit
Selasa, 04 Agustus 2020 - 06:35 WIB
loading...
A
A
A
"Saya tak dapat membayangkan juga apa yang akan terjadi jika bantuan pemerintah habis," kata Hammond. Dampak ini tidak hanya dirasakan perusahaan ritel , tapi juga maskapai penerbangan hingga perusahaan minyak dan gas. Baru-baru ini, Chesaleake Energy juga menyatakan bangkrut.
"Kita menyaksikan utang korporasi menumpuk dan menggunung," kata Hammond. Berdasarkan BankruptcyData, restoran merupakan sektor yang terdampak paliny besar. CEC, perusahaan venue restoran dan hiburan, melayangkan surat kebangkrutan setelah minimnya aktivias di luar ruangan.
Kemudian, Brooks Brothers juga melayangkan surat kebangkrutan setelah kondisi keuangannya memburuk akibat wabah Covid-19 . Sekelompok investor kini bersaing untuk memboyong ritel busana tersebut. Langkah serupa juga sudah diambil lebih dulu oleh perusahaan busana lainnya Lucky Brand Dungarees.
GNC juga melewati pintu kebangkrutan setelah tersungkur selama bertahun-tahun. Perusahaan yang memproduksi vitamin berusia sekitar 85 tahun itu melayangkan surat kebangkrutan pada Juni lalu. Saat itu, penjualannya sangat rendah dan utang perusahaan sudah mencapai USD1 miliar. Akibatnya, 1.200 dari 5.800 toko terpaksa harus ditutup. (Baca juga: Selama Dua Bulan Pendapatan Ritel Amblas Rp12 Triliun)
J.C. Penney juga mengatakan akan menutup kembi 13 gerainya yang lain sebagai bagian dari rencana restrukturisasi. Sebelumnya, perusahaan berencana akan menutup 250 tokonya sampai 2021.
Tahun ini menjadi periode pahit bagi berbagai perusahaan ritel di pusat perbelanjaan. Sebab, wabah Covid-19 membuat seluruh toko tutup selama berbulan-bulan. Meski lockdown perlahan dibuka, daya beli dan tingkat konsumsi masyarakat menurun dan melambat sehingga perusahaan ritel mengalami penurunan penjualan.
"Kita menyaksikan utang korporasi menumpuk dan menggunung," kata Hammond. Berdasarkan BankruptcyData, restoran merupakan sektor yang terdampak paliny besar. CEC, perusahaan venue restoran dan hiburan, melayangkan surat kebangkrutan setelah minimnya aktivias di luar ruangan.
Kemudian, Brooks Brothers juga melayangkan surat kebangkrutan setelah kondisi keuangannya memburuk akibat wabah Covid-19 . Sekelompok investor kini bersaing untuk memboyong ritel busana tersebut. Langkah serupa juga sudah diambil lebih dulu oleh perusahaan busana lainnya Lucky Brand Dungarees.
GNC juga melewati pintu kebangkrutan setelah tersungkur selama bertahun-tahun. Perusahaan yang memproduksi vitamin berusia sekitar 85 tahun itu melayangkan surat kebangkrutan pada Juni lalu. Saat itu, penjualannya sangat rendah dan utang perusahaan sudah mencapai USD1 miliar. Akibatnya, 1.200 dari 5.800 toko terpaksa harus ditutup. (Baca juga: Selama Dua Bulan Pendapatan Ritel Amblas Rp12 Triliun)
J.C. Penney juga mengatakan akan menutup kembi 13 gerainya yang lain sebagai bagian dari rencana restrukturisasi. Sebelumnya, perusahaan berencana akan menutup 250 tokonya sampai 2021.
Tahun ini menjadi periode pahit bagi berbagai perusahaan ritel di pusat perbelanjaan. Sebab, wabah Covid-19 membuat seluruh toko tutup selama berbulan-bulan. Meski lockdown perlahan dibuka, daya beli dan tingkat konsumsi masyarakat menurun dan melambat sehingga perusahaan ritel mengalami penurunan penjualan.
Lihat Juga :