Peretas China Curi 60.000 Email dari Departemen Luar Negeri AS

Kamis, 28 September 2023 - 16:34 WIB
loading...
Peretas China Curi 60.000...
Peta China dilihat dengan kaca pembesar di atas layar komputer. Foto/REUTERS
A A A
BEIJING - Puluhan ribu pesan dicuri dari Departemen Luar Negeri (Deplu) Amerika Serikat (AS) dalam serangan siber besar-besaran awal musim panas ini, menurut seorang staf Senat kepada Politico.

Peretasan tersebut dikatakan menargetkan kepala perdagangan AS dan diplomat utama Washington di China, Duta Besar Nicholas Burns.

Para pejabat Departemen Luar Negeri AS memberikan rincian baru mengenai pelanggaran tersebut dalam pengarahan tertutup pada Rabu (27/9/2023).

“Mereka mengatakan sebagian besar dari sepuluh akun email pemerintah yang terkena dampak adalah milik orang-orang yang bekerja dalam upaya diplomatik Indo-Pasifik,” ungkap Politico, mengutip seorang staf yang tidak disebutkan namanya untuk Senator Partai Republik Eric Schmitt.

“Di antara informasi paling sensitif yang dicuri, menurut staf tersebut, adalah rencana perjalanan dan pertimbangan diplomatic para korban,” papar outlet tersebut, mencatat sepuluh nomor Jaminan Sosial berpotensi diakses selama peretasan tersebut.

Serangan siber ini pertama kali dilaporkan pada Juli oleh Microsoft, yang menyalahkan “aktor ancaman yang berbasis di China” yang diduga didukung pemerintah di Beijing.

Dalam postingan blog yang diterbitkan pada saat itu, perusahaan tersebut juga mengatakan para peretas memiliki “tujuan spionase”, namun menyatakan kesimpulannya dibuat dengan “keyakinan yang moderat.”

Baca juga: Ledakan Besar Guncang Ibu Kota Uzbekistan, Videonya Mengerikan

Sebanyak 25 entitas dikatakan menjadi sasaran peretasan bulan Juni, di antaranya adalah Departemen Luar Negeri AS dan lembaga pemerintah lainnya.

Ratusan ribu dokumen mungkin terlibat dalam pelanggaran ini, termasuk sekitar 60.000 dokumen dari Departemen Luar Negeri saja, menurut staf tersebut.

Pejabat tingkat tertinggi yang dilaporkan menjadi sasaran peretasan ini termasuk Duta Besar AS untuk China Nicholas Burns dan Menteri Perdagangan Gina Raimondo.

Meskipun Departemen Luar Negeri belum secara resmi melibatkan China dalam pelanggaran tersebut, Raimondo sendiri telah menuduh China bertanggung jawab dalam komentar publiknya.

“Mereka memang meretas saya, dan hal ini sangat tidak dihargai,” ujar dia kepada NBC News awal bulan ini.

Dia telah membicarakan masalah ini dengan rekan-rekannya di Beijing selama kunjungan terakhirnya.

Kepala perdagangan tersebut melanjutkan dengan berargumentasi bahwa Washington berada dalam “persaingan sengit dengan China di setiap tingkat,” namun bersikeras “konflik bukanlah kepentingan siapa pun.”

Pernyataan itu senada dengan komentar serupa dari pejabat lain mengenai kebijakan AS terhadap China.

Presiden Joe Biden telah berulang kali menyebut Beijing sebagai “pesaing” utama Amerika dan terus memperkuat kehadiran militer AS di Asia-Pasifik dalam upaya menghadapi Republik Rakyat China.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken sebelumnya mengatakan kepada rekannya dari China bahwa Washington akan “mengambil tindakan yang tepat” dalam menanggapi setiap peretasan yang disponsori negara, meskipun dia tidak merinci apa dampaknya.

Namun, Beijing menolak tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai kasus “disinformasi” lainnya, setelah sebelumnya menolak klaim peretasan serupa.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Beijing: Asing Mata-matai...
Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Dari Infrastruktur ke...
Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Pembom B-52 Stratofortress...
Pembom B-52 Stratofortress AS Jatuh di Pangkalan Gurun Mojave, Tewaskan 8 Orang
Macron Rilis Video Trump...
Macron Rilis Video Trump Teken MoU Perjanjian Damai dengan Iran: Langkah Penting!
Rekomendasi
Resmi Masuk Daftar Belanja...
Resmi Masuk Daftar Belanja TNI AU, Ini Spesifikasi Chengdu J-10C Buatan China yang Akan Perkuat Langit Indonesia
Biaya Pernikahan Jennifer...
Biaya Pernikahan Jennifer Coppen dan Justin Hubner Tembus Rp6 Miliar
Kabar Duka, Mantan KSAL...
Kabar Duka, Mantan KSAL Laksamana TNI Purn Achmad Sutjipto Meninggal Dunia
Berita Terkini
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Ada yang Hanya Rp427 Per Liter
Arab Saudi Kebut Pembangunan...
Arab Saudi Kebut Pembangunan Jeddah Tower 1.000 Meter, Gedung Tertinggi di Dunia Kalahkan Burj Khalifa
Trump: AS Harus Kembalikan...
Trump: AS Harus Kembalikan Uang Iran atau Kepercayaan Dunia pada Dolar Rusak
Analis Israel: Netanyahu...
Analis Israel: Netanyahu Pembohong yang Dipermalukan Trump dalam Kesepakatan AS-Iran
AS Identifikasi 8 Awak...
AS Identifikasi 8 Awak Tewas dalam Jatuhnya Bomber Nuklir B-52, Ini Daftarnya
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved