Mengenal Donbass Ukraina, Wilayah yang Menjadi Saksi Sejarah Invasi Rusia
Rabu, 20 September 2023 - 17:15 WIB
loading...
A
A
A
Dikutip dari Voanews, Banyaknya penduduk Donbas yang bisa berbahasa Rusia terjadi karena adanya migrasi pekerja Rusia ke wilayah tersebut setelah Perang Dunia II, pada era Soviet.
Ditambah lagi dalam beberapa tahun terakhir, Moskow juga telah menerbitkan lebih dari 720.000 paspor Rusia untuk sekitar seperlima penduduk wilayah Donbass.
Setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, wilayah Donbass menjadi bagian dari negara merdeka Ukraina. Namun, wilayah ini tetap memiliki hubungan dekat dengan Rusia, baik secara politik, ekonomi, maupun budaya.
Hal itu diketahui dari banyak penduduk Donbass yang beretnis Rusia atau berbahasa Rusia sebagai bahasa utama mereka. Wilayah ini juga memiliki banyak partai politik dan organisasi sosial yang pro-Rusia atau anti-pemerintah Ukraina.
Pada tahun 2014, setelah Revolusi Maidan yang menggulingkan Presiden Viktor Yanukovych yang pro-Rusia, wilayah Donbass menjadi pusat protes dan konflik bersenjata antara kelompok separatis pro-Rusia dan pasukan pemerintah Ukraina.
Kelompok separatis mendirikan dua republik rakyat yang tidak diakui di beberapa bagian oblast Donetsk dan Luhansk (DPR dan LPR), dengan dukungan militer dan politik dari Rusia.
Ditambah lagi dalam beberapa tahun terakhir, Moskow juga telah menerbitkan lebih dari 720.000 paspor Rusia untuk sekitar seperlima penduduk wilayah Donbass.
Setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, wilayah Donbass menjadi bagian dari negara merdeka Ukraina. Namun, wilayah ini tetap memiliki hubungan dekat dengan Rusia, baik secara politik, ekonomi, maupun budaya.
Hal itu diketahui dari banyak penduduk Donbass yang beretnis Rusia atau berbahasa Rusia sebagai bahasa utama mereka. Wilayah ini juga memiliki banyak partai politik dan organisasi sosial yang pro-Rusia atau anti-pemerintah Ukraina.
Pada tahun 2014, setelah Revolusi Maidan yang menggulingkan Presiden Viktor Yanukovych yang pro-Rusia, wilayah Donbass menjadi pusat protes dan konflik bersenjata antara kelompok separatis pro-Rusia dan pasukan pemerintah Ukraina.
Kelompok separatis mendirikan dua republik rakyat yang tidak diakui di beberapa bagian oblast Donetsk dan Luhansk (DPR dan LPR), dengan dukungan militer dan politik dari Rusia.
Lihat Juga :