Deretan Negara dalam Satu Koalisi yang Tidak Akur, Terjebak dalam Perang Mematikan
Sabtu, 02 September 2023 - 00:41 WIB
loading...
A
A
A
Breedlove, yang kini menjadi peneliti senior di Middle East Institute, mengatakan NATO dan Amerika Serikat pernah mengatasi ketegangan serupa di masa lalu dan aliansi tersebut masih mampu menjalankan tugas tersebut. Kekhawatiran akan mengganggu persatuan NATO
Pertikaian baru-baru ini antara Turki dan Yunani terjadi ketika NATO fokus untuk menunjukkan front persatuan melawan Rusia dalam menghadapi invasi di Ukraina.
Para ahli khawatir jika ketegangan meningkat hingga mencapai titik permusuhan, Presiden Rusia Vladimir Putin akan mengambil keuntungan.
“Sekecil apa pun keretakan yang muncul dalam persatuan Eropa, Putin bisa memperbesarnya dan bahkan memecah belah. Jadi, hal ini tidak hanya melemahkan persatuan Eropa tetapi juga dapat meluas ke dewan NATO jika salah satu negara menggunakan NATO sebagai senjata untuk menyakiti negara lain,” kata Townsend.
Dia memperingatkan bahwa celah tersebut dapat dimanfaatkan oleh Moskow saat musim dingin mendekat; Rusia telah mengurangi ekspor gasnya ke Eropa.
Baca Juga: Sudah Ada 2.056 Uji Coba Bom Nuklir sejak 1945, Ini 3 Fakta Terdahsyatnya
![Deretan Negara dalam Satu Koalisi yang Tidak Akur, Terjebak dalam Perang Mematikan]()
Foto/Reuters
Konflik terbaru di dalam koalisi BRICS adalah permasalahan peta nasional baru yang diterbitkan oleh pemerintah China telah memicu kemarahan di India. Itu memperburuk ketegangan antara dua negara tetangga yang mempunyai senjata nuklir.
Versi peta China yang dipublikasikan di situs Kementerian Sumber Daya Alam dengan jelas menunjukkan negara bagian Arunachal Pradesh di timur laut India, yang dianggap Beijing sebagai bagian dari Tibet, dan Dataran Tinggi Doklam, yang menjadi perseteruan kedua belah pihak dalam beberapa tahun terakhir.
Penerbitan peta baru oleh China , dan kehebohan yang ditimbulkannya di India, adalah contoh bagaimana peta dapat digunakan untuk memproyeksikan kekuatan.
Tim Trainor adalah ketua Asosiasi Kartografi Internasional dan anggota pendiri Komite Ahli Manajemen Informasi Geospasial Global Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia mengatakan kepada DW bahwa peta dapat memengaruhi cara orang berpikir tentang berbagai belahan dunia.
“Peta sangat berguna dan Anda tahu ketika kebanyakan orang melihat peta, sebagian besar pembaca peta berasumsi bahwa informasi yang mereka lihat adalah benar,” katanya, dilansir DW.
Pertikaian baru-baru ini antara Turki dan Yunani terjadi ketika NATO fokus untuk menunjukkan front persatuan melawan Rusia dalam menghadapi invasi di Ukraina.
Para ahli khawatir jika ketegangan meningkat hingga mencapai titik permusuhan, Presiden Rusia Vladimir Putin akan mengambil keuntungan.
“Sekecil apa pun keretakan yang muncul dalam persatuan Eropa, Putin bisa memperbesarnya dan bahkan memecah belah. Jadi, hal ini tidak hanya melemahkan persatuan Eropa tetapi juga dapat meluas ke dewan NATO jika salah satu negara menggunakan NATO sebagai senjata untuk menyakiti negara lain,” kata Townsend.
Dia memperingatkan bahwa celah tersebut dapat dimanfaatkan oleh Moskow saat musim dingin mendekat; Rusia telah mengurangi ekspor gasnya ke Eropa.
Baca Juga: Sudah Ada 2.056 Uji Coba Bom Nuklir sejak 1945, Ini 3 Fakta Terdahsyatnya
2. BRICS: China Vs India

Foto/Reuters
Konflik terbaru di dalam koalisi BRICS adalah permasalahan peta nasional baru yang diterbitkan oleh pemerintah China telah memicu kemarahan di India. Itu memperburuk ketegangan antara dua negara tetangga yang mempunyai senjata nuklir.
Versi peta China yang dipublikasikan di situs Kementerian Sumber Daya Alam dengan jelas menunjukkan negara bagian Arunachal Pradesh di timur laut India, yang dianggap Beijing sebagai bagian dari Tibet, dan Dataran Tinggi Doklam, yang menjadi perseteruan kedua belah pihak dalam beberapa tahun terakhir.
Penerbitan peta baru oleh China , dan kehebohan yang ditimbulkannya di India, adalah contoh bagaimana peta dapat digunakan untuk memproyeksikan kekuatan.
Tim Trainor adalah ketua Asosiasi Kartografi Internasional dan anggota pendiri Komite Ahli Manajemen Informasi Geospasial Global Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia mengatakan kepada DW bahwa peta dapat memengaruhi cara orang berpikir tentang berbagai belahan dunia.
“Peta sangat berguna dan Anda tahu ketika kebanyakan orang melihat peta, sebagian besar pembaca peta berasumsi bahwa informasi yang mereka lihat adalah benar,” katanya, dilansir DW.
Lihat Juga :