Alasan Jepang Buang Limbah Nuklir Fukushima ke Laut, Sains Jadi Dalih Pembenaran
Kamis, 31 Agustus 2023 - 10:45 WIB
loading...
A
A
A
Beijing bahkan melarang impor makanan laut Jepang.
IAEA, berpegang pada sains, membela keputusan Jepang. Menurut IAEA, air limbah yang diolah tersebut memiliki dampak radiologis yang "dapat diabaikan" terhadap manusia dan lingkungan.
Yang ditakutkan sebenarnya adalah unsur-unsur radioaktif dari air limbah yang tidak bisa dihilangkan total oleh Jepang. Jika Jepang mampu menghilangkannya sebelum dialirkan ke laut, mungkin hal ini tidak akan menjadi kontroversi.
Masalahnya disebabkan oleh unsur radioaktif hidrogen yang disebut tritium, yang tidak dapat dihilangkan dari air yang terkontaminasi karena tidak ada teknologi yang dapat melakukannya. Sebaliknya, airnya diencerkan.
Pesan dari para ahli Jepang dan IAEA adalah bahwa pelepasan air limbah olahan tersebut aman, meski tidak semua ilmuwan sepakat mengenai dampak yang akan ditimbulkan.
Tritium dapat ditemukan di air di seluruh dunia. Banyak ilmuwan berpendapat jika kadar tritium rendah, dampaknya minimal.
Namun para kritikus mengatakan diperlukan lebih banyak penelitian tentang bagaimana hal ini dapat berdampak pada dasar laut, kehidupan laut, dan manusia.
IAEA, yang berkantor permanen di Fukushima, mengatakan analisis independen di lokasi menunjukkan konsentrasi tritium dalam air yang dibuang jauh di bawah batas operasional 1.500 becquerel per liter (Bq/L).
Batas tersebut enam kali lebih kecil dari batas air minum yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu 10.000 Bq/L, yang merupakan ukuran radioaktivitas.
Pada hari Jumat pekan lalu, TEPCO mengatakan sampel air laut yang diambil pada Kamis sore menunjukkan tingkat radioaktivitas berada dalam batas aman, dengan konsentrasi tritium di bawah 1.500 Bq/L.
Kementerian Lingkungan Hidup Jepang mengatakan pihaknya juga telah mengumpulkan sampel air laut dari 11 lokasi berbeda pada hari Jumat dan akan merilis hasilnya pada hari Minggu.
IAEA, berpegang pada sains, membela keputusan Jepang. Menurut IAEA, air limbah yang diolah tersebut memiliki dampak radiologis yang "dapat diabaikan" terhadap manusia dan lingkungan.
Yang ditakutkan sebenarnya adalah unsur-unsur radioaktif dari air limbah yang tidak bisa dihilangkan total oleh Jepang. Jika Jepang mampu menghilangkannya sebelum dialirkan ke laut, mungkin hal ini tidak akan menjadi kontroversi.
Masalahnya disebabkan oleh unsur radioaktif hidrogen yang disebut tritium, yang tidak dapat dihilangkan dari air yang terkontaminasi karena tidak ada teknologi yang dapat melakukannya. Sebaliknya, airnya diencerkan.
Pesan dari para ahli Jepang dan IAEA adalah bahwa pelepasan air limbah olahan tersebut aman, meski tidak semua ilmuwan sepakat mengenai dampak yang akan ditimbulkan.
Tritium dapat ditemukan di air di seluruh dunia. Banyak ilmuwan berpendapat jika kadar tritium rendah, dampaknya minimal.
Namun para kritikus mengatakan diperlukan lebih banyak penelitian tentang bagaimana hal ini dapat berdampak pada dasar laut, kehidupan laut, dan manusia.
IAEA, yang berkantor permanen di Fukushima, mengatakan analisis independen di lokasi menunjukkan konsentrasi tritium dalam air yang dibuang jauh di bawah batas operasional 1.500 becquerel per liter (Bq/L).
Batas tersebut enam kali lebih kecil dari batas air minum yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu 10.000 Bq/L, yang merupakan ukuran radioaktivitas.
Pada hari Jumat pekan lalu, TEPCO mengatakan sampel air laut yang diambil pada Kamis sore menunjukkan tingkat radioaktivitas berada dalam batas aman, dengan konsentrasi tritium di bawah 1.500 Bq/L.
Kementerian Lingkungan Hidup Jepang mengatakan pihaknya juga telah mengumpulkan sampel air laut dari 11 lokasi berbeda pada hari Jumat dan akan merilis hasilnya pada hari Minggu.
Lihat Juga :