Filipina: Dunia Dukung Kami, China Sendirian

Kamis, 24 Agustus 2023 - 14:39 WIB
loading...
Filipina: Dunia Dukung...
Momen menegangkan saat kapal Coast Guard China memblokade kapal Coast Guard Filipina di Laut China Selatan. Filipina senang didukung komunitas internasional dalam masalah ini. Foto/PCG
A A A
MANILA - Filipina mengatakan dunia internasional mendukung Manila dalam mempertahankan hak-haknya atas sebagian Laut China Selatan.

Sedangkan China, menurut Filipina, terisolasi sendirian dalam masalah ini.

Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Australia termasuk di antara negara-negara yang sebelumnya mencemooh penggunaan meriam air oleh kapal Coast Guard China terhadap kapal-kapal pemasok Filipina yang berlayar di zona ekonomi eksklusif (ZEE) Filipina.

“Itu adalah hal besar bagi kami berdiri di samping komunitas bangsa-bangsa,” kata juru bicara Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) Kolonel Medel Aguilar, Kamis (24/8/2023).

Baca Juga: Pakar: Sikap Filipina Benar, Berani Tolak Desakan China Singkirkan Kapal Perang

“Mereka (negara-negara dunia) bersama kami, sementara pihak lain (China) sendirian,” ujarnya.

“Mereka (China) kesepian, mereka terisolasi,” imbuh Aguilar, seperti dikutip ABS-CBN.

"apa yang terjadi tidak dapat diterima oleh komunitas internasional," paparnya.

Coast Guard Filipina (PCG) mengatakan tekanan dari negara lain mungkin menjadi salah satu faktor yang mendorong China untuk mengurangi agresinya di Laut Filipina Barat.

“Terakhir, mereka mengerahkan 6 kapal besar Coast Guard China, namun kali ini mereka hanya mengerahkan 2 kapal Coast Guard, dua di antaranya lebih kecil dari kapal kami," kata juru bicara PCG Komodor Jay Tarriela.

“Saya pikir ini ada hubungannya dengan optik. Mereka ingin menunjukkan kepada dunia dengan berpura-pura bahwa mereka tidak terlalu agresif dalam mencegah operasi pasokan kami,” katanya.

PCG juga membantah klaim Beijing bahwa mereka mengizinkan kapal-kapal Filipina mengirimkan pasokan ke kapal BRP Sierra Madre karena “masalah kemanusiaan".

BRP Sierra Madre adalah kapal perang era Perang Dunia II yang sengaja dikandangkan di wilayah di Laut China Selatan yang diklaim Filipina. China telah mendesak Filipina untuk menyingkirkan kapal perang yang sudah berkarat itu, namun Manila menolaknya dengan alasan itu berada di wilayahnya.

“Misi pasokan ulang yang kami lakukan kemarin bukanlah misi yang mudah. Kami masih mengalami manuver berbahaya, mereka masih berusaha menghalangi operasi pasokan kami,” kata Tarriela.

“Kami tidak memerlukan izin dari Republik Rakyat China,” katanya.

“Kami tidak perlu menjelaskan perbekalan apa saja yang perlu kami bawa ke dalam BRP Sierra Madre,” tambahnya.

Meskipun keputusan arbitrase pada tahun 2016 mendukung hak-hak Filipina di perairan tersebut, China terus mengeklaim sekitar 85 persen Laut China Selatan, jalur perairan strategis yang menjadi jalur pelayaran barang-barang laut bernilai miliaran dolar setiap tahunnya.

"Filipina akan terus menegaskan hak kedaulatan kami sehingga rakyat kami dapat memperoleh manfaat dari hal ini,” kata Aguilar.

“Kami mengikuti arahan panglima bahwa kami tidak akan memindahkan BRP Sierra Madre, bahwa kami tidak akan meninggalkan Ayungin Shoal,” ujarnya.

Ayungin Shoal tempat BRP Sierra Madre berlabuh selama beberapa dekade terletak sekitar 115 mil laut di lepas pantai Palawan, menempatkannya tepat di zona ekonomi eksklusif Filipina.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Beijing: Asing Mata-matai...
Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Dari Infrastruktur ke...
Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Pilu Seorang Ibu Gugat...
Pilu Seorang Ibu Gugat OpenAI Usai Kematian Putrinya Dikaitkan ChatGPT
Masuki Tahun Baru 1448...
Masuki Tahun Baru 1448 H, Arab Saudi Ganti Kain Kiswah Kakbah
Rekomendasi
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
Lahirnya Hukum Olahraga...
Lahirnya Hukum Olahraga Indonesia
Xiaomi Kenalkan Tangan...
Xiaomi Kenalkan Tangan Robot untuk Pengisian Daya Baterai Mobil Listrik
Berita Terkini
Wapres AS Sebut Iran...
Wapres AS Sebut Iran Bisa Dapat Rp5.312 Triliun, tapi Trump Ragu
Kesepakatan Damai AS...
Kesepakatan Damai AS dan Iran Simbol Kekalahan Fatal PM Netanyahu, Ini 3 Alasannya
Jenderal Jerman Ancam...
Jenderal Jerman Ancam Serang Dahsyat Rusia: Kami Siap Bertempur Malam Ini
Permainan Lincah Pakistan...
Permainan Lincah Pakistan dalam Mendamaikan AS dan Iran, Ini 4 Rahasianya
Zionis Israel Ratapi...
Zionis Israel Ratapi Kesepakatan Damai AS-Iran: Kami Ditinggalkan Sendirian!
4 Keuntungan Besar Iran...
4 Keuntungan Besar Iran dalam Perjanjian Damai dengan AS, dari Kompensasi hingga Program Nuklir
Infografis
10 Negara Penguasa Cadangan...
10 Negara Penguasa Cadangan Logam Tanah Jarang Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved