Pasukan Arab Saudi Dituduh Bantai Ratusan Migran: Mereka Tembaki Kami seperti Hujan
Selasa, 22 Agustus 2023 - 00:25 WIB
loading...
A
A
A
"Ada 20 orang dalam kelompok kami dan hanya 10 yang selamat. Beberapa mortir menghantam batu dan kemudian [pecahan] batu menghantam kami... Senjatanya terlihat seperti peluncur roket, memiliki enam 'mulut', enam lubang dari mana mereka menembak dan ditembakkan dari bagian belakang kendaraan—itu menembak beberapa sekaligus. Mereka menembaki kami seperti hujan," papar Munira.
Pembunuhan dan serangan dilaporkan terjadi di rute antara al-Jawf dan Sadah di Yaman, wilayah yang dikuasai Houthi. Serangan juga terjadi di provinsi Jizan di Arab Saudi.
Perbatasan tersebut telah menjadi titik transit utama bagi orang-orang antara Tanduk Afrika dan Arab Saudi, terutama dari Ethiopia.
Banyak pengungsi dan migran mengandalkan jaringan pedagang untuk membantu mereka melakukan perjalanan di sepanjang rute, membuat mereka rentan terhadap kekerasan.
HRW mengatakan bahwa sementara serangan terhadap orang Ethiopia di sepanjang perbatasan bukanlah hal baru, kekerasan baru-baru ini tampaknya merupakan peningkatan yang disengaja baik dalam jumlah maupun cara pembunuhan yang ditargetkan.
Pada bulan Oktober, beberapa pelapor khusus PBB menyoroti pembunuhan tersebut dalam sebuah surat, yang menggambarkan pelanggaran berat hak asasi manusia terhadap migran.
Data yang dihimpun PBB menyebutkan, 30 persen korban dilaporkan perempuan dan tujuh persen anak-anak.
Surat itu juga menyatakan bahwa beberapa pelanggaran termasuk penyiksaan, penahanan sewenang-wenang, perdagangan manusia dan pelecehan seksual.
Nadia Hardman, penulis utama laporan HRW, mengatakan; "Pejabat Saudi membunuh ratusan migran dan pencari suaka di daerah perbatasan terpencil ini di luar jangkauan dunia".
"Penjaga perbatasan Saudi tahu atau seharusnya tahu bahwa mereka menembaki warga sipil yang tidak bersenjata," imbuh Hardman.
Pembunuhan dan serangan dilaporkan terjadi di rute antara al-Jawf dan Sadah di Yaman, wilayah yang dikuasai Houthi. Serangan juga terjadi di provinsi Jizan di Arab Saudi.
Perbatasan tersebut telah menjadi titik transit utama bagi orang-orang antara Tanduk Afrika dan Arab Saudi, terutama dari Ethiopia.
Banyak pengungsi dan migran mengandalkan jaringan pedagang untuk membantu mereka melakukan perjalanan di sepanjang rute, membuat mereka rentan terhadap kekerasan.
HRW mengatakan bahwa sementara serangan terhadap orang Ethiopia di sepanjang perbatasan bukanlah hal baru, kekerasan baru-baru ini tampaknya merupakan peningkatan yang disengaja baik dalam jumlah maupun cara pembunuhan yang ditargetkan.
Pada bulan Oktober, beberapa pelapor khusus PBB menyoroti pembunuhan tersebut dalam sebuah surat, yang menggambarkan pelanggaran berat hak asasi manusia terhadap migran.
Data yang dihimpun PBB menyebutkan, 30 persen korban dilaporkan perempuan dan tujuh persen anak-anak.
Surat itu juga menyatakan bahwa beberapa pelanggaran termasuk penyiksaan, penahanan sewenang-wenang, perdagangan manusia dan pelecehan seksual.
Nadia Hardman, penulis utama laporan HRW, mengatakan; "Pejabat Saudi membunuh ratusan migran dan pencari suaka di daerah perbatasan terpencil ini di luar jangkauan dunia".
"Penjaga perbatasan Saudi tahu atau seharusnya tahu bahwa mereka menembaki warga sipil yang tidak bersenjata," imbuh Hardman.
(mas)
Lihat Juga :