Presiden Badan Urusan Agama Turki Beri Sinyal Pendirian Madrasah di Hagia Sophia
Senin, 27 Juli 2020 - 17:19 WIB
loading...
Presiden Badan Urusan Agama (Diyanet) Turki Ali Erbas memberikan sinyal tentang pendirian madrasah di Hagia Sophia saat khutbah salat Jumat perdana setelah 86 tahun. Foto/REUTERS
A
A
A
ISTANBUL - Presiden Badan Urusan Agama (Diyanet) Turki ,Ali Erbas memberikan sinyal tentang pendirian madrasah di Hagia Sophia saat khutbah salat Jumat perdana setelah 86 tahun.
"Di Masjid Hagia Sophia saya berharap banyak orang berdoa dan belajar pengetahuan agama. Kami akan mencoba membuat ekosistem belajar di setiap sudut sebagai fungsi madrasah seperti di Hagia Sophia masa lalu," kata Ali Erbas.
Secara historis, masjid-masjid pada masa Kesultanan Utsmani juga merupakan sekolah. Itu merupakan tradisi besar dunia akademik Islam. Namun mengalami penurunan karena dalam perkembangannya stagnan.
( Baca juga: Sultan Abdul Hamid: “Tangan-Tangan Asing Menggerayang Dalam Hati Kita” )
"Madrasah adalah tradisi kuat Utsmani, namun punah karena mengalami stagnasi dan tidak beradaptasi dengan perkembangan zaman," kata sosiolog Turki Niyazi Berkez dalam Türkiye'de Çağdaşlaşma (Modernisasi di Turki).
Karena itu, madrasah mudah tergoyah ketika Turki modern muncul dengan sistem yang baru.
Penguatan madrasah di Masjid Hagia Sophia saat ini berfokus pada pengembangan pemuda Turki. Seperti yang disebutkan beberapa pengamat, terdapat penurunan religiusitas di kalangan pemuda di Turki.
"Religiusitas menurun di kalangan pemuda Turki di bawah pemerintahan Islam," kata ilmuan sosial asal Turki Ramazan Kilinc.
Masalah ini yang digarisbawahi oleh Ali Erbas. "Masjid juga sebuah sekolah. Sama seperti nabi kita yang mampu meningkatkan para sahabat di masjid Nabawi, kita berusaha membangkitkan anak muda kita di Masjid Hagia Sophia ini," kata dia.
Visi ini selaras dengan penunjukkan imam dan muazin Masjid Hagia Sophia yang memiliki rekam jejak pendidikan dan pengalaman keislaman yang memumpuni.
Mehmet Boynukalin merupakan profesor di Fakultas Teologi Universitas Marmara. Dia menyelesaikan studi master dan doktor di Universitas Marmara setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di Al-Azhar Mesir. Ia memiliki beberapa publikasi, salah satunya adalah penelitian ilmiahnya di Inggris mengenai pembaruan metode fikih.
Sementara, Ferruh Muştuer merupakan salah satu qori' terbaik Turki yang menjuarai lomba bacaan Al Quran di Kuwait pada 2015.
Sama seperti Mustuer, Bunyamin Topcuoglu juga merupakan qori' terbaik Turki. Ia telah memenangkan beberapa lomba Quran internasional, seperti di Moskow, Rusia beberapa waktu lalu.
( Baca juga: Khotbah Salat Jumat Pertama di Hagia Sophia Picu Kontroversi )
Saat berkhutbah, Erbas juga mempertunjukkan tradisi di masjid-masjid Utsmani dengan membawa pedang sebagai simbol penaklukan.
"Kami akan melanjutkan tradisi-tradisi keislaman di Masjid Hagia Sophia ini sejak sekarang," ujar Erbas.
"Di Masjid Hagia Sophia saya berharap banyak orang berdoa dan belajar pengetahuan agama. Kami akan mencoba membuat ekosistem belajar di setiap sudut sebagai fungsi madrasah seperti di Hagia Sophia masa lalu," kata Ali Erbas.
Secara historis, masjid-masjid pada masa Kesultanan Utsmani juga merupakan sekolah. Itu merupakan tradisi besar dunia akademik Islam. Namun mengalami penurunan karena dalam perkembangannya stagnan.
( Baca juga: Sultan Abdul Hamid: “Tangan-Tangan Asing Menggerayang Dalam Hati Kita” )
"Madrasah adalah tradisi kuat Utsmani, namun punah karena mengalami stagnasi dan tidak beradaptasi dengan perkembangan zaman," kata sosiolog Turki Niyazi Berkez dalam Türkiye'de Çağdaşlaşma (Modernisasi di Turki).
Karena itu, madrasah mudah tergoyah ketika Turki modern muncul dengan sistem yang baru.
Penguatan madrasah di Masjid Hagia Sophia saat ini berfokus pada pengembangan pemuda Turki. Seperti yang disebutkan beberapa pengamat, terdapat penurunan religiusitas di kalangan pemuda di Turki.
"Religiusitas menurun di kalangan pemuda Turki di bawah pemerintahan Islam," kata ilmuan sosial asal Turki Ramazan Kilinc.
Masalah ini yang digarisbawahi oleh Ali Erbas. "Masjid juga sebuah sekolah. Sama seperti nabi kita yang mampu meningkatkan para sahabat di masjid Nabawi, kita berusaha membangkitkan anak muda kita di Masjid Hagia Sophia ini," kata dia.
Visi ini selaras dengan penunjukkan imam dan muazin Masjid Hagia Sophia yang memiliki rekam jejak pendidikan dan pengalaman keislaman yang memumpuni.
Mehmet Boynukalin merupakan profesor di Fakultas Teologi Universitas Marmara. Dia menyelesaikan studi master dan doktor di Universitas Marmara setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di Al-Azhar Mesir. Ia memiliki beberapa publikasi, salah satunya adalah penelitian ilmiahnya di Inggris mengenai pembaruan metode fikih.
Sementara, Ferruh Muştuer merupakan salah satu qori' terbaik Turki yang menjuarai lomba bacaan Al Quran di Kuwait pada 2015.
Sama seperti Mustuer, Bunyamin Topcuoglu juga merupakan qori' terbaik Turki. Ia telah memenangkan beberapa lomba Quran internasional, seperti di Moskow, Rusia beberapa waktu lalu.
( Baca juga: Khotbah Salat Jumat Pertama di Hagia Sophia Picu Kontroversi )
Saat berkhutbah, Erbas juga mempertunjukkan tradisi di masjid-masjid Utsmani dengan membawa pedang sebagai simbol penaklukan.
"Kami akan melanjutkan tradisi-tradisi keislaman di Masjid Hagia Sophia ini sejak sekarang," ujar Erbas.
(esn)
Lihat Juga :