Benarkah KKB Papua Sedot Bantuan Pemerintah Indonesia untuk Beli Senjata?
Kamis, 08 Juni 2023 - 14:19 WIB
loading...
A
A
A
Sebaliknya, katanya, baku tembak mematikan yang dulu terbatas di hutan kini terjadi di tengah kota.
Meningkatnya daya tembak para pemberontak Papua terlihat jelas dalam foto-foto terbaru yang dirilis bersamaan dengan ancaman akan menembak Mehrtens jika pembicaraan kemerdekaan tidak dimulai dalam waktu dua bulan.
Para pemberontak di Nduga mengacungkan sebuah peluncur granat, beberapa senapan mesin dan 18 senapan serbu, termasuk yang diproduksi oleh pembuat amunisi senjata negara Pindad. Demikian analisis Deka Anwar, pakar dari Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC).
“Lewatlah sudah hari-hari di mana pemberontak Papua menyimpan peluru berharga,” kata Anwar. "Sekarang mereka bisa menembak berhari-hari."
Menurutnya, di dataran tinggi Papua, bantuan Dana Desa diperlakukan seperti "pajak revolusioner", baik melalui intimidasi dan paksaan, atau diberikan secara langsung oleh para pendukung kemerdekaan.
Disimpan langsung ke rekening bank desa, dana tersebut secara teratur dibagikan secara tunai oleh kepala desa di dataran tinggi Papua.
“Mereka punya banyak uang di Papua, jadi mudah untuk membeli senjata,” kata Latifah Anum Siregar, direktur Aliansi Demokrasi untuk Papua (AIDP) dan pengacara yang meliput kasus penjualan senjata ilegal.
Menambah masalah, kata dia, pemberontak sebagian besar membeli senjata dari pejabat militer dan polisi yang korup.
Menurut dokumen pengadilan, seorang petugas melakukan perjalanan ke kota Nabire di Papua sembilan kali untuk menjual senjata secara ilegal.
"Di Indonesia kami menyebutnya 'senjata makan tuan'," kata Siregar tentang dinamika yang sarat ironi: pemberontak mempersenjatai diri dengan dana negara untuk melawan negara. "Artinya itu menjadi bumerang," ujarnya.
Meningkatnya daya tembak para pemberontak Papua terlihat jelas dalam foto-foto terbaru yang dirilis bersamaan dengan ancaman akan menembak Mehrtens jika pembicaraan kemerdekaan tidak dimulai dalam waktu dua bulan.
Para pemberontak di Nduga mengacungkan sebuah peluncur granat, beberapa senapan mesin dan 18 senapan serbu, termasuk yang diproduksi oleh pembuat amunisi senjata negara Pindad. Demikian analisis Deka Anwar, pakar dari Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC).
“Lewatlah sudah hari-hari di mana pemberontak Papua menyimpan peluru berharga,” kata Anwar. "Sekarang mereka bisa menembak berhari-hari."
Menurutnya, di dataran tinggi Papua, bantuan Dana Desa diperlakukan seperti "pajak revolusioner", baik melalui intimidasi dan paksaan, atau diberikan secara langsung oleh para pendukung kemerdekaan.
Disimpan langsung ke rekening bank desa, dana tersebut secara teratur dibagikan secara tunai oleh kepala desa di dataran tinggi Papua.
“Mereka punya banyak uang di Papua, jadi mudah untuk membeli senjata,” kata Latifah Anum Siregar, direktur Aliansi Demokrasi untuk Papua (AIDP) dan pengacara yang meliput kasus penjualan senjata ilegal.
Menambah masalah, kata dia, pemberontak sebagian besar membeli senjata dari pejabat militer dan polisi yang korup.
Menurut dokumen pengadilan, seorang petugas melakukan perjalanan ke kota Nabire di Papua sembilan kali untuk menjual senjata secara ilegal.
"Di Indonesia kami menyebutnya 'senjata makan tuan'," kata Siregar tentang dinamika yang sarat ironi: pemberontak mempersenjatai diri dengan dana negara untuk melawan negara. "Artinya itu menjadi bumerang," ujarnya.
(mas)
Lihat Juga :