Ada Video Dugaan Penyiksaan Muslim Uighur, China Masih Berkelit

Rabu, 22 Juli 2020 - 04:47 WIB
loading...
A A A
Liu: "Itu benar-benar salah. Tidak ada kamp konsentrasi di Xinjiang. Sehubungan dengan rekaman video itu, saya akan menghubungi Anda. Anda tahu, ada banyak yang palsu—kita berada di era informasi. Ada segala macam tuduhan palsu terhadap China."

Marr: “Saya mendengar itu, tetapi izinkan saya mengingatkan Anda tentang apa yang dikatakan Konvensi PBB tentang Pencegahan dan Hukuman Genosida. Dikatakan bahwa genosida membunuh orang, tentu saja; menyebabkan kerusakan tubuh atau mental yang serius; dengan sengaja menimbulkan kondisi kehidupan yang diperhitungkan untuk menyebabkan kehancuran fisik kelompok; menerapkan tindakan yang dimaksudkan untuk mencegah kelahiran; dan secara paksa memindahkan anak-anak ke kelompok lain. Semua hal itu, diduga, telah terjadi di China. Dan China akan menghadapi tuduhan di PBB tentang hal ini."

Liu: "Tidak benar. Ini tidak benar. Fakta menunjukkan sebaliknya. Orang-orang di Xinjiang menikmati kehidupan yang bahagia. Anda tahu, mereka menikmati—orang-orang menyerukan agar dikembalikan ke Xinjiang. China, tentu saja, menentang penyiksaan dan penganiayaan serta diskriminasi terhadap kelompok etnik apa pun. Ini tidak terjadi di China. Kebijakan pemerintah China, seperti yang saya katakan, setiap kelompok etnik di China diperlakukan sama. Itu adalah kisah sukses kebijakan nasional China."

Semalam, Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab mengatakan kepada BBC bahwa pemerintah Inggris siap untuk bekerja dengan sekutunya untuk mengambil tindakan terhadap China, tetapi penting untuk "membangun basis bukti" terlebih dahulu, yang dapat "memakan waktu lama".

"Jelas bahwa pelanggaran HAM berat dan mengerikan sedang terjadi," kata Raab.

“Ini sangat, sangat meresahkan, dan laporan tentang aspek manusia ini, dari sterilisasi paksa hingga kamp pendidikan, mengingatkan kita pada sesuatu yang sudah lama tidak kita lihat."

"Kami ingin hubungan positif dengan China, tetapi kami tidak bisa melihat perilaku seperti itu dan tidak (bisa) menyebutnya," ujar Raab.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Cina menyebut tuduhan sterilisasi paksa sebagai "omong kosong".

"Masalah Xinjiang bukan tentang hak asasi manusia, agama atau kelompok etnik sama sekali, tetapi tentang memerangi kekerasan, terorisme dan separatisme," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Wang Wenbin.

China juga terlibat dalam pertikaian diplomatik dengan Amerika Serikat, yang menjatuhkan sanksi pada pejabat senior China awal bulan ini, di mana Washington menuduh mereka melakukan pelanggaran hak asasi manusia.

"Sudah terlalu lama, para pejabat China tidak dimintai pertanggungjawaban karena melakukan kekejaman yang mungkin merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan," kata Senator AS dari Partai Republik Marco Rubio.

Menteri Luar Negeri AS Michael Pompeo mengatakan AS telah dipaksa untuk bertindak oleh "pelanggaran mengerikan dan sistematis".

Sebagai tanggapannya, Cina mengumumkan sanksi balasan yang menargetkan para politisi Amerika.

"Kami mendesak AS untuk segera menarik keputusannya yang salah, dan menghentikan kata-kata dan tindakan apa pun yang mengganggu urusan dalam negeri China dan membahayakan kepentingan China," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Hua Chunying.

"China akan membuat tanggapan lebih lanjut tergantung pada perkembangan situasi."
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Ungkap Radar AS...
Iran Ungkap Radar AS Mengalami Malam Gelap akibat Serangan Rudal
AS Luncurkan Serangan...
AS Luncurkan Serangan Hari Ke-12, Iran Siap Terapkan Doktrin 'Mata Ganti Mata'
AS Restui Arab Saudi...
AS Restui Arab Saudi Miliki Program Nuklir, Israel Ketakutan
Malaysia Tak Takut Ancaman...
Malaysia Tak Takut Ancaman AS, PM Anwar Ibrahim Tetap Akan Usir Seluruh Warga Israel
Viral, Beruang Besar...
Viral, Beruang Besar Ini Nangkring di Atas Tiang Listrik
Laut Merah Memanas,...
Laut Merah Memanas, Houthi Yaman Serang 2 Kapal Tanker Minyak Arab Saudi
Keluarga Peter Crouch...
Keluarga Peter Crouch Cerita Susahnya Masuk AS saat Piala Dunia 2026
Korban Tewas Gempa Venezuela...
Korban Tewas Gempa Venezuela Meningkat Jadi 5.208 Orang, 16.740 Luka-Luka
Trump Dilaporkan Dukung...
Trump Dilaporkan Dukung Presiden FIFA Infantino Jadi Sekjen PBB, Gantikan Guterres
Rekomendasi
Kerugian Ekonomi Akibat...
Kerugian Ekonomi Akibat Obesitas Anak Capai Rp5.280 Triliun, Novo Nordisk Perluas Program Pencegahan
Trisno Pas Band Abaikan...
Trisno Pas Band Abaikan Kaki Bengkak sebelum Divonis Gagal Ginjal Kronis
Datangi Bareskrim, Dude...
Datangi Bareskrim, Dude Harlino Kembalikan Uang Rp5,2 Miliar Honor PT DSI
Berita Terkini
Menlu Rubio Klaim Iran...
Menlu Rubio Klaim Iran Memohon Kesepakatan dengan AS, Ancam 1 Kepala untuk 1 Mata
Lebih dari 2.300 Pemukim...
Lebih dari 2.300 Pemukim Yahudi Serbu Masjid Al-Aqsa, Hamas dan Yordania Murka
Iran Ungkap Radar AS...
Iran Ungkap Radar AS Mengalami Malam Gelap akibat Serangan Rudal
AS Luncurkan Serangan...
AS Luncurkan Serangan Hari Ke-12, Iran Siap Terapkan Doktrin 'Mata Ganti Mata'
AS Restui Arab Saudi...
AS Restui Arab Saudi Miliki Program Nuklir, Israel Ketakutan
Malaysia Tak Takut Ancaman...
Malaysia Tak Takut Ancaman AS, PM Anwar Ibrahim Tetap Akan Usir Seluruh Warga Israel
Infografis
Kapuspen TNI Tegaskan...
Kapuspen TNI Tegaskan Tak Ada Personel Datangi Polda Metro Jaya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved