alexametrics

Pengakuan Tentara Turki soal Kejanggalan Kudeta terhadap Erdogan

loading...
Pengakuan Tentara Turki soal Kejanggalan Kudeta terhadap Erdogan
Rakyat Turki menyerang kendaraan militer saat upaya kudeta militer terhadap pemerintah Presiden Recep Tayyip Erdogan di Ankara, 16 Juli 2016. Foto/REUTERS/Tumay Berkin
A+ A-
ANKARA - Empat tahun lalu, sebuah percobaan kudeta militer terhadap pemerintah Presiden Recep Tayyip Erdogan terjadi di Turki. Kudeta yang gagal itu menyebabkan puluhan ribu tentara, polisi, dan pegawai negeri diberhentikan atau diskors dari pekerjaan mereka, dan ribuan lainnya dipenjara.

Sebuah foto yang diterbitkan di sebuah surat kabar Turki menunjukkan barisan pria yang ditelanjangi sebagian, tangan terikat ke belakang, berlutut di kandang kuda setelah mereka ditahan oleh polisi. Di antara mereka adalah Letnan Muhammed Emin Gundogdu. Dia mengaku pada malam kudeta itu sebenarnya dalam posisi mengikuti perintah latihan rutin dari komandannya, namun yang terjadi akibat peristiwa itu mengubah seluruh jalan hidupnya.

Di Jerman, dirinya berbagi kisah untuk pertama kalinya dalam sebuah wawancara eksklusif Euronews. (Baca: Turki Buat Kesepakatan Rahasia dengan Sejumlah Negara Soal Penculikan Warga)

Dikisahkannya, pada 16 Juli 2016, ribuan tentara Turki ditangkap dan dibawa ke berbagai lokasi di seluruh negeri setelah upaya kudeta yang gagal pada malam sebelumnya.



Percobaan kudeta 15 Juli mengakibatkan 251 orang meninggal, dan 2.200 lainnya terluka. Pemerintah Turki kemudian menuduh gerakan Gulen (kelompok Muslim yang dipimpin oleh ulama yang berbasis di Amerika Serikat (AS) Fethullah Gulen) berada di balik upaya tersebut, dan menamakan mereka Organisasi Teroris Fethullah (FETO).

Sejak itu, lebih dari 500.000 orang telah ditahan. Data ini bersumber dari pemerintah yang dilansir Euronews, Selasa(21/72020). Menurut data tersebut, lebih dari 150.000 orang telah dipecat dari pekerjaan mereka. Ribuan orang telah meninggalkan Turki, termasuk dari mereka adalah petugas keamanan, hakim, jaksa, pegawai negeri, guru, akademisi, dan jurnalis. Prajurit dan kadet militer, yang sebagian berusia 17 tahun, ditangkap dan dipenjara. Banyak yang menerima hukuman seumur hidup. (Baca:Ide AS Beli S-400 Milik Turki Dinilai Tragis Sekaligus Menggelikan)



Letnan Muhammed Emin Gundogdu menceritakan saat itu dirinya masih berusia 23 tahun. Pada malam kejadian itu dirinya sebenarnya telah mengemasi tas dan perlengkapannya untuk mempersiapkan perjalanan pulang guna mengunjungi keluarganya ketika komandannya; Muhlis Kocak, mengirim sebuah pesan mendadak ke grup WhatsApp yang mengumumkan adanya sesi pelatihan malam yang bersifat wajib. Atas perintah itu, Gundogdu membatalkan rencana kepulangannya.

"Komandan kami tidak pernah muncul malam itu," katanya.

Menurut komandan dalam pengarahannya di grup, pelatihan itu dilakukan untuk menghadapi kemungkinan serangan teroris. Para prajurit juga diberikan amunisi lengkap, yang tidak seperti pada pelatihan seperti biasanya. Hal ini membuat para prajurit bertanya-tanya apakah mereka sedang diserang oleh ISIS, atau kelompok radikal lainnya. (Baca: Popularitas Partainya Erdogan Merosot karena Covid-19 dan Tekanan Ekonomi)

Mereka kemudian diberangkatkan ke berbagai lokasi. Sebanyak 40 personel di antaranya dikirim ke istana Presiden Recep Tayyip Erdogan dan ditugaskan untuk melindunginya.

"Para prajurit itu ditempatkan di pangkalan Komando Gendarmerie, di seberang istana, yang kemudian belakangan malah dituduh berusaha membunuh presiden," kata Gundogdu.

Disebutkannya, di antara 36 orang yang terbunuh malam itu adalah teman-teman Gundogdu; Abdulkadir Karaagac dan Ramazan Erdogan. "Mereka mati karena percaya mereka mempertahankan istana presiden," kata Gundogdu.

Pemerintah juga menolak memberikan informasi tentang keberadaan jenazah Karaagac kepada keluarganya. Setelah 15 hari, mereka menemukannya di tenda sebuah kampus unit forensik. "Mereka memanggilnya pengkhianat, meskipun dia adalah salah satu orang terbaik yang saya kenal dalam hidup saya," kata Gundogdu. (Baca: Erdogan Jadikan Hagia Sophia Masjid demi Popularitas Dinilai Tak Akan Berhasil)

Dikatakannya, keluarga Karaagac tidak mendapat izin untuk menguburkan putra mereka di pemakaman lokal, sehingga terpaksa menguburkannya di sebuah perbukitan, di kuburan yang tidak ditandai.

Dalam kejadian lain, lanjut dia, seorang kadet berusia 21 tahun bernama Murat Tekin dipukuli hingga tewas oleh massa sipil yang marah di Istanbul setelah warga sipil keluar untuk membela pemerintah.

Gundogdu sendiri yang malam itu ditugaskan oleh komandannya untuk mengamankan pos Komando Akademi Penjaga Gendarmerie yang menampung sejumlah besar senjata, termasuk tank dan helikopter mengatakan dia dan teman-temannya baru mengetahui adanya upaya kudeta militer terhadap pemerintah Erdogan ketika Perdana Menteri Binali Yildirim membuat pengumuman di televisi sekitar pukul 23.00 waktu setempat.

“Kami tidak diizinkan keluar dari pangkalan. Saya pikir komandan kami anti-kudeta," katanya. (Baca: Turki-Mesir di Ambang Perang di Libya, Ini Perbandingan Militernya)

Sekitar pukul 01.00 dini hari, setelah tidak ada apa pun yang terjadi di pangkalan, para prajurit kembali ke asrama mereka. Gundogdu mengatakan dia tidur selama beberapa jam sebelum terbangun oleh suara tembakan sekitar pukul 06.00 pagi.

"Kolonel Veli Tyre dan sepuluh orangnya mengancam akan menembak siapa pun yang mencoba meninggalkan pangkalan," kenang dia.

Kemudian muncullah komandannya; Muhlis Kocak, yang pada malam hari sebelumnya tidak ada. Dia tiba-tiba menampakkan diri seraya mengarahkan senjatanya kepada para prajurit. Ketika tidak ada seorang pun yang bereaksi, komandannya lantas meletakkan senjatanya, duduk bersama para prajuritnya dan memberitahu mereka bahwa sekelompok tentara telah mencoba melakukan kudeta. (Simak Infografis: Sejarah Panjang Hagia Sophia)
halaman ke-1 dari 2
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak