Geger Gambar Trump Ditangkap dan Putin Dipenjara
Jum'at, 24 Maret 2023 - 06:06 WIB
loading...
A
A
A
“Menjadi sangat mudah dan sangat murah untuk membuat gambar-gambar ini sehingga kita harus melakukan apa pun yang kita bisa untuk membuat publik sadar betapa bagusnya teknologi ini,” kata West.
Higgins menyarankan perusahaan media sosial dapat fokus pada pengembangan teknologi untuk mendeteksi gambar yang dihasilkan AI dan mengintegrasikannya ke dalam platform mereka.
Salah satu raksasa media sosial, Twitter, memiliki kebijakan yang melarang media sintetis, yang dimanipulasi, atau di luar konteks yang berpotensi menipu atau merugikan. Anotasi dari Catatan Komunitas, proyek pemeriksaan fakta yang bersumber dari kerumunan Twitter, dilampirkan ke beberapa tweet untuk menyertakan konteks bahwa gambar Trump dihasilkan oleh AI.
Ketika dihubungi untuk memberikan komentar pada hari Kamis, perusahaan berlogo burung itu hanya mengirim email balasan otomatis.
Sementara Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, menolak berkomentar. Beberapa gambar Trump palsu diberi label sebagai "salah" atau "konteks yang hilang" melalui program pemeriksaan fakta pihak ketiga, di mana AP adalah salah satu pesertanya.
Arthur Holland Michel, seorang peneliti di Carnegie Council for Ethics in International Affairs di New York yang fokus pada teknologi baru, mengatakan dia khawatir dunia belum siap menghadapi banjir yang akan datang.
Dia bertanya-tanya bagaimana deepfake yang melibatkan orang biasa — foto palsu yang berbahaya dari mantan pasangan atau kolega, misalnya — akan diatur.
“Dari perspektif kebijakan, saya tidak yakin kita siap menghadapi skala disinformasi ini di setiap lapisan masyarakat,” tulis Michel dalam email.
“Menurut saya, dibutuhkan terobosan teknis yang belum terbayangkan untuk menghentikan ini secara definitif,” tukasnya.
Baca Juga: Diancam Dirudal Rusia karena Ingin Tangkap Putin, Ini Reaksi ICC
Higgins menyarankan perusahaan media sosial dapat fokus pada pengembangan teknologi untuk mendeteksi gambar yang dihasilkan AI dan mengintegrasikannya ke dalam platform mereka.
Salah satu raksasa media sosial, Twitter, memiliki kebijakan yang melarang media sintetis, yang dimanipulasi, atau di luar konteks yang berpotensi menipu atau merugikan. Anotasi dari Catatan Komunitas, proyek pemeriksaan fakta yang bersumber dari kerumunan Twitter, dilampirkan ke beberapa tweet untuk menyertakan konteks bahwa gambar Trump dihasilkan oleh AI.
Ketika dihubungi untuk memberikan komentar pada hari Kamis, perusahaan berlogo burung itu hanya mengirim email balasan otomatis.
Sementara Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, menolak berkomentar. Beberapa gambar Trump palsu diberi label sebagai "salah" atau "konteks yang hilang" melalui program pemeriksaan fakta pihak ketiga, di mana AP adalah salah satu pesertanya.
Arthur Holland Michel, seorang peneliti di Carnegie Council for Ethics in International Affairs di New York yang fokus pada teknologi baru, mengatakan dia khawatir dunia belum siap menghadapi banjir yang akan datang.
Dia bertanya-tanya bagaimana deepfake yang melibatkan orang biasa — foto palsu yang berbahaya dari mantan pasangan atau kolega, misalnya — akan diatur.
“Dari perspektif kebijakan, saya tidak yakin kita siap menghadapi skala disinformasi ini di setiap lapisan masyarakat,” tulis Michel dalam email.
“Menurut saya, dibutuhkan terobosan teknis yang belum terbayangkan untuk menghentikan ini secara definitif,” tukasnya.
Baca Juga: Diancam Dirudal Rusia karena Ingin Tangkap Putin, Ini Reaksi ICC
(ian)
Lihat Juga :