Bos Tentara Bayaran Rusia Tuding Petinggi Militer Berkhianat, Ingin Hancurkan Wagner

Rabu, 22 Februari 2023 - 13:08 WIB
loading...
Bos Tentara Bayaran...
Bos Wagner Group Yevgeny Prigozhin. Foto/tass
A A A
MOSKOW - Bos Wagner Group Yevgeny Prigozhin meluncurkan dua serangan verbal terhadap para petinggi Rusia pada Selasa (21/2/2023).

Dia menuduh para petinggi merampas amunisi tentara bayaran Wagner dalam apa yang disebutnya sebagai upaya pengkhianatan untuk menghancurkan perusahaan militer pribadinya.

Kementerian Pertahanan (Kemhan) Rusia menolak tuduhan awal Prigozhin tentang pemblokiran amunisi sebagai “sama sekali tidak benar.”

Prigozhin kemudian merilis pesan suara yang mengatakan, “Ini sama saja dengan meludahi Wagner." Dia menegaskan kembali bahwa anak buahnya sangat kekurangan persediaan.

Baca juga: Trump: Penghasut Perang di Deplu AS Dalang Kudeta Ukraina, Seret Kiev ke Konflik

Prigozhin mengambil peran yang lebih terang-terangan sejak perang Ukraina dimulai.

Wagner Group miliknya mempelopori pertempuran untuk kota Bakhmut di wilayah Donetsk, tetapi hubungannya dengan Moskow jelas memburuk.

Tahun ini Prigozhin dicabut haknya untuk merekrut tahanan dan ada beberapa tanda Kremlin bergerak untuk mengekang pengaruhnya.

Baca juga: Balas Tudingan, China Sebut AS Pengganggu Utama di Panggung Dunia

Pada Selasa, dia kehilangan kesabaran dan pada satu titik berteriak. “Hanya ada oposisi langsung yang terjadi (untuk upaya memperlengkapi para pejuang Wagner),” tegas dia dalam pesan suara awal di saluran Telegramnya.

“Ini bisa disamakan dengan pengkhianatan tingkat tinggi. Kepala staf umum dan menteri pertahanan memberikan perintah kanan dan kiri, tidak hanya untuk tidak memberikan amunisi kepada Wagner PMC (perusahaan militer swasta), tetapi juga tidak untuk membantunya dengan transportasi udara,” tuduh Prigozhin.

Kementerian Pertahanan (Kemhan) Rusia bereaksi dengan pernyataan yang mengatakan para pejabat militer melakukan semua yang mereka bisa untuk memasok para pejuang.

“Oleh karena itu, semua pernyataan yang diduga dibuat atas nama unit penyerangan tentang kekurangan amunisi sama sekali tidak benar,” ujar Kemhan Rusia, tanpa menyebut nama Wagner.

“Upaya untuk membuat perpecahan dalam mekanisme interaksi yang erat dan dukungan antara unit-unit kelompok (pertempuran) Rusia adalah kontraproduktif dan bekerja semata-mata untuk kepentingan musuh,” papar Kemhan Rusia.

Prigozhin juga mengatakan pejabat senior telah menolak permintaan sekop khusus untuk menggali parit.

Dia menuduh para petinggi memutuskan "orang harus mati ketika itu nyaman bagi mereka," dan mengatakan pejuang Wagner "berjatuhan seperti lalat" karena tidak adanya pasokan yang diperlukan.

Dalam pesan blak-blakan pada Senin, dia mengeluh pejabat yang tidak disebutkan namanya menolak pasokan Wagner karena permusuhan pribadi terhadapnya, dan dia diminta untuk "meminta maaf dan patuh" untuk memperbaiki situasi.

Kementerian Pertahanan sebelumnya mengatakan Wagner tidak berada di bawah kendalinya meskipun milisi bergantung pada negara untuk beberapa senjata dan logistik.

Tatiana Stanovaya, kepala konsultan politik R.Politik, mengatakan ledakan kemarahan Prigozhin pada Senin tampak seperti "tindakan putus asa" yang ditujukan untuk "mendekati Putin".

Tidak jelas apakah dia memikirkan Prigozhin, tetapi Putin pada Selasa mengatakan dia ingin mengakhiri pertikaian.

“Kita harus menyingkirkan, saya ingin menekankan ini, kontradiksi antardepartemen, formalitas, dendam, kesalahpahaman, dan omong kosong lainnya,” tegas Putin kepada elit politik dan militer.

Dalam postingan terpisah, Prigozhin mengatakan dia terlalu sibuk menonton pidato tersebut dan karena itu tidak dapat mengomentari pernyataan presiden.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Langka, Putin Akui Rusia...
Langka, Putin Akui Rusia Krisis Bahan Bakar akibat Serangan Ukraina
Putin: Barat Coba Kacaukan...
Putin: Barat Coba Kacaukan Rusia karena Tak Mampu Mengalahkannya di Medan Perang
Inggris Sekarang Tanpa...
Inggris Sekarang Tanpa Kapal Selam Serang Nuklir Aktif, Jadi Tak Berdaya Melawan Rusia
Finlandia Izinkan Wilayahnya...
Finlandia Izinkan Wilayahnya Jadi Lokasi Pengerahan Senjata Nuklir NATO, Rusia Terancam
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Gelombang Panas Dahsyat...
Gelombang Panas Dahsyat Landa Eropa, Picu Lebih dari 200 Kematian di Spanyol dan Prancis
Prancis Terpanggang!...
Prancis Terpanggang! Korban Tewas Gelombang Panas Tembus 1.000 Orang, 85% Lansia
Rekomendasi
Mahasiswa ITS Kembangkan...
Mahasiswa ITS Kembangkan Nanopestisida yang Tahan Hujan dan Paparan Sinar UV
Gaya Hidup Sehat, Konsumen...
Gaya Hidup Sehat, Konsumen Perkotaan Kian Selektif Pilih Pangan Harian
Lippo Hibahkan Lahan...
Lippo Hibahkan Lahan untuk 141 Ribu Rumah di Meikarta, Percepat Program 3 Juta Rumah
Berita Terkini
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Setelah Mundur, PM Inggris...
Setelah Mundur, PM Inggris Starmer Incar Sekjen NATO
Infografis
Tentara China Ikut Perang...
Tentara China Ikut Perang Bantu Rusia Melawan Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved