Pandemi Memburuk, WHO: Banyak Negara Bergerak ke Arah yang Salah

Rabu, 15 Juli 2020 - 11:09 WIB
loading...
Pandemi Memburuk, WHO:...
Foto/dok
A A A
JENEWA - Direktur Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan banyak negara kini bergerak menuju ke arah yang salah. Dia mengungkapkan, pandemi corona kini di seluruh dunia justru memburuk karena gagal memberlakukan prosedur kesehatan yang ketat.

“Terlalu banyak negara bergerak menuju arah yang salah. Virus tetap menjadi musuh nomor satu publik,” kata Ghebreyesus dilansir Reuters.

“Jika dasarnya saja tidak dipenuhi, maka pandemi pun akan berjalan terus dan semakin memburuk dan memburuk dan memburuk,” katanya. (Baca: AS Tolak Klaim China di Laut china Selatan, Taiwan Semringah)

Dia pun mengatakan jumlah kasus meningkat di tempat yang tidak mengikuti langkah-langkah yang sudah terbukti ampuh. Benua Amerika saat ini menjadi pusat pandemi. AS mencatat peningkatan jumlah kasus di tengah ketegangan antara para pakar kesehatan dan Presiden Donald Trump. Sebagai negara yang terkena dampak terburuk, AS memiliki lebih dari 3,3 juta kasus Covid-19 yang dikonfirmasi dan lebih dari 135.000 kasus kematian.

Dalam rapat pengarahan di Jenewa pada Senin (13/7/2020), Tedros mengatakan “pesan campur aduk dari para pemimpin” merongrong kepercayaan publik dalam mengendalikan pandemi. “Virus masih menjadi musuh masyarakat nomor satu, namun tindakan banyak pemerintah dan orang tidak mencerminkan hal ini,” tuturnya.

Tedros mengatakan, langkah-langkah seperti menjaga jarak, mencuci tangan, dan mengenakan masker dalam situasi yang tepat perlu ditanggapi dengan serius. Ia memperingatkan bahwa tidak akan ada lagi “kembali ke normal lama di masa mendatang”.

Sementara itu, Mike Ryan, direktur kedaruratan WHO, mengatakan pelonggaran beberapa langkah pembatasan di Amerika dan pembukaan sejumlah daerah telah menyebabkan “penularan yang intens”. WHO mengatakan jumlah kasus Covid-19 meningkat di tempat langkah-langkah yang sudah terbukti ampuh tidak diadopsi atau diikuti, misalnya Brasil, yang presidennya Jair Bolsonaro menentang langkah-langkah pembatasan untuk menekan penyebaran virus. (Baca juga: Bukannya Siap Kerja, Lulusan SMK Justru Mendominasi Jumlah Pengangguran)

Amerika Latin sudah mengonfirmasi lebih dari 145.000 kasus kematian terkait virus korona, meskipun jumlah sebenarnya diyakini lebih tinggi karena jumlah pengujian tidak memadai. Setengah dari kematian itu terjadi di Brasil, yang presidennya, Jair Bolsonaro, menentang langkah-langkah tegas untuk menekan penyebaran virus.

Ryan mengatakan, penutupan wilayah secara luas akan mengakibatkan konsekuensi ekonomi yang besar, tapi karantina lokal di tempat-tempat tertentu mungkin diperlukan untuk memitigasi penyebaran virus. Dia mendesak pemerintah menerapkan strategi yang jelas dan “kuat”.

“Warga harus memahaminya dan harus mudah bagi mereka untuk mematuhinya,” kata Ryan. “Kita perlu belajar untuk hidup dengan virus ini,” katanya, memperingatkan bahwa harapan virus bisa diberantas atau bahwa vaksin yang efektif bisa siap dalam beberapa bulan ke depan ialah “tidak realistis”.

Dia mengatakan, belum diketahui apakah pemulihan dari virus korona akan menyebabkan kekebalan atau jika memang demikian, berapa lama kekebalan itu akan bertahan. Sebuah studi terpisah yang dirilis pada Senin lalu oleh para ilmuwan di King's College, London, menunjukkan bahwa kekebalan terhadap virus corona mungkin berumur pendek. Para ilmuwan di kampus mempelajari 96 orang untuk memahami cara tubuh melawan virus corona secara alami dengan membuat antibodi dan berapa lama ia bertahan selama berminggu-minggu serta berbulan-bulan setelah pemulihan. (Lihat videonya: Banjir Bandang di Kabupaten Luwu Hancurkan Akses Jalan Desa)

Meskipun hampir semua dari pasien yang berpartisipasi memiliki antibodi mampu menetralkan dan menghentikan virus corona, tapi kadarnya mulai berkurang selama tiga bulan penelitian. Pada rapat pengarahan WHO, para ahli kesehatan juga mengatakan, ada bukti yang menunjukkan bahwa anak-anak di bawah usia 10 tahun hanya dipengaruhi secara sangat ringan oleh Covid-19, sedangkan mereka yang berusia di atas 10 tahun tampaknya menderita gejala ringan serupa dengan orang dewasa muda. (Andika H Mustaqim)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Kepala WHO Kunjungi...
Kepala WHO Kunjungi Pusat Wabah Ebola
Disebut Calon Kuat Jadi...
Disebut Calon Kuat Jadi Direktur Jenderal WHO, Menkes Budi: Saya akan Konfirmasi
Kepala WHO Peringatkan...
Kepala WHO Peringatkan Lebih Banyak Kasus Hantavirus akan Muncul
WHO: Wabah Hantavirus...
WHO: Wabah Hantavirus Bukan Awal Pandemi Covid-19 Berikutnya
WHO Peringatkan Skenario...
WHO Peringatkan Skenario Nuklir Terburuk di Iran, Rusia Kutuk Serangan Israel
Zat Kimia Persisten...
Zat Kimia Persisten Ditemukan dalam 98,8% Darah Warga AS
Israel Bombardir Lebanon...
Israel Bombardir Lebanon Selatan Tewaskan 16 Orang
Iran Beberkan Alasan...
Iran Beberkan Alasan Walk Out saat Negosiasi dengan AS, Singgung Trump
Rekomendasi
Berkas Perkara 3 Pejabat...
Berkas Perkara 3 Pejabat Bea Cukai Dilimpahkan ke Pengadilan, Segera Disidang
Peserta Jumtek PMR-Relawan...
Peserta Jumtek PMR-Relawan Antusias Adu Tangkas Tandu Darurat hingga Belajar Bahasa Isyarat
Asfinawati: Ujaran Kebencian...
Asfinawati: Ujaran Kebencian dalam HAM Menyangkut Ras hingga Agama Bukan Orang per Orang
Berita Terkini
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Awas, AI dalam Beberapa...
Awas, AI dalam Beberapa Bulan Lagi Bisa Lumpuhkan Pemerintahan di Berbagai Negara
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
Infografis
10 Bendera Negara Paling...
10 Bendera Negara Paling Unik di Dunia, Ada yang Bergambar Naga
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved