Mengapa Rusia Sangat Ingin Krimea Jadi Wilayahnya?
Sabtu, 31 Desember 2022 - 02:30 WIB
Jurnal tersebut menjabarkan bahwa wilayah Krimea, yang terletak di pantai utara Laut Hitam, ini bersifat semi-otonom Ukraina dan memiliki ikatan politik yang kuat dengan negara tersebut. Di sisi lain, Krimea juga sangat dekat dengan Rusia dari segi budayanya.
Fakta tersebut juga dibenarkan oleh Wasis Susetio, dkk, dalam jurnal “Perang Rusia-Ukraina: Mencari Keseimbangan Duna Baru”. Disebutkan, bahwa tahun 2014 pasukan militer Rusia melakukan aneksasi atas Krimea. Namun, masyarakat Krimea lebih memilih untuk bergabung bersama Federasi Rusia melalui sebuah referendum, karena memang lebih dekat dari sisi kebudayaan. Sebagian besar masyarakat Krimea menggunakan bahasa Rusia dalam kehidupan sehari-hari.
Baca: Rusia Pecat Komandan Armada Laut Hitam setelah Krimea Dihajar Ukraina
Selain itu, konflik Krimea sebenarnya adalah buntut dari pergolakan Ukraina pada tahun 2013, di mana presidennya kala itu, Victor Yanukovych, enggan menandatangani pakta kerja sama ekonomi dengan Uni Eropa bernama DCFTA (Deep and Comprehensive Free Trade Agreement) dan justru melakukan kerja sama dengan Rusia. Padahal, masyarakat Ukraina sendiri ingin pemerintahnya melakukan kerja sama dengan Uni Eeropa, bahkan cenderung menginginkan untuk menjadi anggotanya. Namun, dilarang oleh Moskow.
Masyarakat melakukan demo dan protes secara masif, hingga berimbas pada pergolakan di Krimea. Warga Krimea, terutama yang datang dari etnis Rusia, merasa keamanannya terancam dan jaminan keselamatannya hilang.
Fakta tersebut juga dibenarkan oleh Wasis Susetio, dkk, dalam jurnal “Perang Rusia-Ukraina: Mencari Keseimbangan Duna Baru”. Disebutkan, bahwa tahun 2014 pasukan militer Rusia melakukan aneksasi atas Krimea. Namun, masyarakat Krimea lebih memilih untuk bergabung bersama Federasi Rusia melalui sebuah referendum, karena memang lebih dekat dari sisi kebudayaan. Sebagian besar masyarakat Krimea menggunakan bahasa Rusia dalam kehidupan sehari-hari.
Baca: Rusia Pecat Komandan Armada Laut Hitam setelah Krimea Dihajar Ukraina
Selain itu, konflik Krimea sebenarnya adalah buntut dari pergolakan Ukraina pada tahun 2013, di mana presidennya kala itu, Victor Yanukovych, enggan menandatangani pakta kerja sama ekonomi dengan Uni Eropa bernama DCFTA (Deep and Comprehensive Free Trade Agreement) dan justru melakukan kerja sama dengan Rusia. Padahal, masyarakat Ukraina sendiri ingin pemerintahnya melakukan kerja sama dengan Uni Eeropa, bahkan cenderung menginginkan untuk menjadi anggotanya. Namun, dilarang oleh Moskow.
Masyarakat melakukan demo dan protes secara masif, hingga berimbas pada pergolakan di Krimea. Warga Krimea, terutama yang datang dari etnis Rusia, merasa keamanannya terancam dan jaminan keselamatannya hilang.
Lihat Juga :