Soal Kemustahilan Perang Nuklir, Medvedev: Mereka Selalu Salah!
Jum'at, 03 Juni 2022 - 14:57 WIB
Pernyataan pejabat Rusia mengenai masalah nuklir muncul setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menulis opini untuk New York Times tentang semua hal tentang Rusia, terutama tentang operasi militer khusus yang sedang berlangsung di Ukraina dan niat AS untuk bergerak maju.
Memberikan jaminan kepada warga Amerika, Biden mencatat dalam artikel Selasa bahwa, "Setiap penggunaan senjata nuklir di Ukraina akan menghadapi konsekuensi yang parah."
“AS saat ini tidak memiliki data yang menunjukkan bahwa Rusia bermaksud menggunakan senjata semacam itu,” papar Biden.
Sebelumnya, AS bahkan membatalkan peluncuran uji coba Minuteman III setelah Rusia memutuskan menempatkan pasukan nuklirnya dalam siaga tinggi pada akhir Februari.
Pada saat itu, Washington pada awalnya menunda peluncuran agar tidak meningkatkan ketegangan lebih jauh.
Wawancara Medvedev juga melihat pejabat tersebut berbicara dengan potensi keanggotaan Ukraina di blok NATO, serta perkembangan terakhir seputar masuknya Swedia dan Finlandia.
Faktanya, Medvedev menyampaikan bahwa Swedia dan Finlandia yang bergabung dengan NATO menimbulkan ancaman yang lebih kecil bagi Rusia daripada kemungkinan keanggotaan Ukraina dalam aliansi tersebut.
“Tetapi jika kita berbicara tentang masuknya Swedia dan Finlandia ke NATO, maka, bagaimanapun, dalam konfigurasi yang telah diumumkan, ini menimbulkan ancaman yang lebih kecil bagi negara kita daripada masuknya Ukraina,” tutur Medvedev kepada Al Jazeera.
Medvedev mencatat bahwa dalam kasus Ukraina, masalahnya ada pada klaim teritorial antara negara-negara tersebut.
Memberikan jaminan kepada warga Amerika, Biden mencatat dalam artikel Selasa bahwa, "Setiap penggunaan senjata nuklir di Ukraina akan menghadapi konsekuensi yang parah."
“AS saat ini tidak memiliki data yang menunjukkan bahwa Rusia bermaksud menggunakan senjata semacam itu,” papar Biden.
Sebelumnya, AS bahkan membatalkan peluncuran uji coba Minuteman III setelah Rusia memutuskan menempatkan pasukan nuklirnya dalam siaga tinggi pada akhir Februari.
Pada saat itu, Washington pada awalnya menunda peluncuran agar tidak meningkatkan ketegangan lebih jauh.
Wawancara Medvedev juga melihat pejabat tersebut berbicara dengan potensi keanggotaan Ukraina di blok NATO, serta perkembangan terakhir seputar masuknya Swedia dan Finlandia.
Faktanya, Medvedev menyampaikan bahwa Swedia dan Finlandia yang bergabung dengan NATO menimbulkan ancaman yang lebih kecil bagi Rusia daripada kemungkinan keanggotaan Ukraina dalam aliansi tersebut.
“Tetapi jika kita berbicara tentang masuknya Swedia dan Finlandia ke NATO, maka, bagaimanapun, dalam konfigurasi yang telah diumumkan, ini menimbulkan ancaman yang lebih kecil bagi negara kita daripada masuknya Ukraina,” tutur Medvedev kepada Al Jazeera.
Medvedev mencatat bahwa dalam kasus Ukraina, masalahnya ada pada klaim teritorial antara negara-negara tersebut.
Lihat Juga :