Eks Tahanan Politik Iran Desak Inggris Tangkap Presiden Ebrahim Raisi

Rabu, 13 Oktober 2021 - 09:23 WIB
Menurut Ebrahimi, ratusan temannya meninggal di penjara. “Pada hari-hari awal di penjara, mereka ditembak di kepala atau jantung. Aku bisa mendengar rentetan peluru di malam hari. Kemudian, dari tahun 1988 orang digantung,” ujarnya. Daily Record melaporkan, hanya 13 dari lebih dari 200 tahanan yang selamat di salah satu bagian penjara tempat Ebrahimi ditahan.

Ebrahimi yang saat ini berusia 60 tahun, melarikan diri dari Republik Islam Iran pada tahun 1999 ke Inggris. “Raisi memiliki darah ribuan orang tak bersalah di tangannya dan saya akan memohon kepada orang-orang, pemerintah dan polisi di Skotlandia dan Inggris untuk tidak mengizinkannya hadir di COP26 dan malah menangkapnya segera jika dia tiba di Skotlandia,” harap Ebrahami.

Baca: Unjuk Kekuatan, Iran Sebar Rudal-rudal Buatan Sendiri di Gurun

Menurut istri Ebrahami, Farzaneh Majidi, sejumlah kerabatnya meninggal dunia akibat kekejaman rezim pemerintah Iran. “Lima kerabat dekat saya meninggal. Saya memikirkan mereka setiap hari dan saya tidak akan pernah berhenti memprotes Raisi. Dia tidak pantas mendapatkan rasa hormat dari komunitas internasional,” ungkap Farzaneh.

Menurut kantor berita Reuters, Pemerintah AS pernah memberikan sanksi kepada Raisi atas perannya dalam pembantaian tahun 1988 terhadap lebih dari 5.000 tahanan politik Iran yang tidak bersalah dan tindakan kerasnya terhadap para pemrotes damai pada tahun 2019, yang mengakibatkan pembunuhan massal sekitar 1.500 orang Iran.
(esn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!