PBB: Kelaparan Diperkirakan Meningkat di 23 Hotspot Global
Minggu, 01 Agustus 2021 - 00:01 WIB
“Dan jumlah itu diperkirakan berlipat ganda pada akhir tahun dengan 28.000 orang membutuhkan bantuan mendesak,” ungkap kedua lembaga tersebut.
Dalam laporan pada Mei, 16 organisasi termasuk FAO dan WFP mengatakan 155 juta orang menghadapi kelaparan akut pada 2020, termasuk 133.000 orang membutuhkan makanan mendesak untuk mencegah kematian akibat kelaparan yang meluas, meningkat 20 juta dari 2019.
“Kelaparan akut meningkat tidak hanya dalam skala tetapi juga tingkat keparahannya,” papar FAO dan WFP dalam laporan pada Jumat.
“Secara keseluruhan, lebih dari 41 juta orang di seluruh dunia sekarang berisiko jatuh ke dalam kelaparan atau kondisi seperti kelaparan, kecuali jika mereka menerima bantuan penyelamatan hidup dan mata pencaharian segera,” ungkap laporan itu.
Dua lembaga yang berbasis di Roma menyerukan tindakan kemanusiaan mendesak untuk menyelamatkan nyawa di 23 titik panas, dengan mengatakan bantuan sangat penting di lima tempat siaga tertinggi untuk mencegah kelaparan dan kematian.
“Tren yang memburuk ini sebagian besar didorong dinamika konflik, serta dampak pandemi COVID-19,” papar mereka.
“Ini termasuk lonjakan harga pangan, pembatasan pergerakan yang membatasi aktivitas pasar dan penggembala, kenaikan inflasi, penurunan daya beli, dan musim paceklik yang lebih awal dan berkepanjangan untuk tanaman pangan,” ungkap laporan itu.
FAO dan WFP mengatakan Sudan Selatan, Yaman dan Nigeria tetap pada tingkat siaga tertinggi, bergabung untuk pertama kalinya dengan Ethiopia karena Tigray dan Madagaskar selatan.
“Di Sudan Selatan, kelaparan kemungkinan besar terjadi di beberapa bagian wilayah Pibor antara Oktober dan November 2020, dan diperkirakan akan berlanjut tanpa adanya bantuan kemanusiaan yang berkelanjutan dan tepat waktu, sementara dua daerah lainnya tetap berisiko kelaparan,” ungkap laporan itu.
Dalam laporan pada Mei, 16 organisasi termasuk FAO dan WFP mengatakan 155 juta orang menghadapi kelaparan akut pada 2020, termasuk 133.000 orang membutuhkan makanan mendesak untuk mencegah kematian akibat kelaparan yang meluas, meningkat 20 juta dari 2019.
“Kelaparan akut meningkat tidak hanya dalam skala tetapi juga tingkat keparahannya,” papar FAO dan WFP dalam laporan pada Jumat.
“Secara keseluruhan, lebih dari 41 juta orang di seluruh dunia sekarang berisiko jatuh ke dalam kelaparan atau kondisi seperti kelaparan, kecuali jika mereka menerima bantuan penyelamatan hidup dan mata pencaharian segera,” ungkap laporan itu.
Dua lembaga yang berbasis di Roma menyerukan tindakan kemanusiaan mendesak untuk menyelamatkan nyawa di 23 titik panas, dengan mengatakan bantuan sangat penting di lima tempat siaga tertinggi untuk mencegah kelaparan dan kematian.
“Tren yang memburuk ini sebagian besar didorong dinamika konflik, serta dampak pandemi COVID-19,” papar mereka.
“Ini termasuk lonjakan harga pangan, pembatasan pergerakan yang membatasi aktivitas pasar dan penggembala, kenaikan inflasi, penurunan daya beli, dan musim paceklik yang lebih awal dan berkepanjangan untuk tanaman pangan,” ungkap laporan itu.
FAO dan WFP mengatakan Sudan Selatan, Yaman dan Nigeria tetap pada tingkat siaga tertinggi, bergabung untuk pertama kalinya dengan Ethiopia karena Tigray dan Madagaskar selatan.
“Di Sudan Selatan, kelaparan kemungkinan besar terjadi di beberapa bagian wilayah Pibor antara Oktober dan November 2020, dan diperkirakan akan berlanjut tanpa adanya bantuan kemanusiaan yang berkelanjutan dan tepat waktu, sementara dua daerah lainnya tetap berisiko kelaparan,” ungkap laporan itu.
Lihat Juga :