Ilmuwan Senjata Kimia Rezim Suriah Diduga Jadi Mata-mata CIA
Selasa, 23 Februari 2021 - 07:00 WIB
Dia kemudian menjadi peneliti senior dalam program senjata kimia rahasia bernama Institute 3000, yang secara diam-diam merupakan bagian dari Syria's Scientific Studies and Research Centre (SSRC), lembaga yang didirikan oleh ayah Presiden Bashar Al-Assad, Hafez, yang memimpin pengembangan senjata kimia rezim.
Menurut buku Warrick, yang mengutip wawancara dengan seorang pembangkang Suriah yang mengenal ilmuwan tersebut dan dengan tiga mantan pejabat intelijen AS yang mengetahui kasus ini, Ayman menghubungi Central Intelligence Agency (CIA) dalam usianya 30-an tahun saat berada di sebuah konferensi di Eropa selama pertengahan 1990-an.
Dia kemudian mulai memberi tahu agensi tentang hal-hal rahasia seperti sampel agen saraf yang sedang dikerjakan oleh Institute 3000 setelah seorang petugas CIA mendekatinya di Damaskus. "Menerima pembayaran rutin dalam bentuk transfer tunai ke rekening bank asing," tulis Warrick, seperti dikutip Middle East Monitor, Selasa (23/2/2021).
Baca juga: Pasukan Khusus Jerman Disangka Teroris Selama Latihan di AS
Namun, itu dilaporkan berakhir pada akhir 2001, ketika dinas intelijen Suriah membawa ilmuwan itu untuk diinterogasi karena laporan kasus kecil bahwa dia telah meminta pembayaran untuk pemasok asing SSRC sebagai imbalan untuk mengajukan mereka untuk kontrak lebih lanjut.
Menurut buku Warrick, yang mengutip wawancara dengan seorang pembangkang Suriah yang mengenal ilmuwan tersebut dan dengan tiga mantan pejabat intelijen AS yang mengetahui kasus ini, Ayman menghubungi Central Intelligence Agency (CIA) dalam usianya 30-an tahun saat berada di sebuah konferensi di Eropa selama pertengahan 1990-an.
Dia kemudian mulai memberi tahu agensi tentang hal-hal rahasia seperti sampel agen saraf yang sedang dikerjakan oleh Institute 3000 setelah seorang petugas CIA mendekatinya di Damaskus. "Menerima pembayaran rutin dalam bentuk transfer tunai ke rekening bank asing," tulis Warrick, seperti dikutip Middle East Monitor, Selasa (23/2/2021).
Baca juga: Pasukan Khusus Jerman Disangka Teroris Selama Latihan di AS
Namun, itu dilaporkan berakhir pada akhir 2001, ketika dinas intelijen Suriah membawa ilmuwan itu untuk diinterogasi karena laporan kasus kecil bahwa dia telah meminta pembayaran untuk pemasok asing SSRC sebagai imbalan untuk mengajukan mereka untuk kontrak lebih lanjut.
Lihat Juga :