Junta Myanmar Putus Jaringan Internet saat Protes Kudeta Meluas
Sabtu, 06 Februari 2021 - 16:07 WIB
“Konektivitas telah turun ke 54% dari tingkat biasa. Para saksi melaporkan penutupan layanan data seluler dan wifi,” tweet NetBlocks Internet Observatory.
Baca Juga : Macron Dukung Dialog AS-Iran, Sebut Dirinya 'Perantara Jujur'
Junta tidak menanggapi permintaan komentar. Junta mencoba membungkam perbedaan pendapat dengan memblokir sementara Facebook dan memperluas tindakan keras ke Twitter dan Instagram pada Sabtu (6/2).
Baca Juga: Toko Produk Indonesia Kini Hadir di Istanbul
Perusahaan telepon seluler Norwegia, Telenor Asa mengatakan pihak berwenang telah memerintahkan penyedia internet menolak akses ke Twitter dan Instagram sampai pemberitahuan lebih lanjut.
Banyak yang menyiasati larangan pada Facebook dengan menggunakan jaringan pribadi virtual (VPN) untuk menyembunyikan lokasi mereka. Namun gangguan yang lebih umum pada layanan data seluler sangat membatasi akses ke berita dan informasi independen.
“Internet sudah down tapi kami tidak akan berhenti meninggikan suara kami,” tweet seorang pengguna Twitter dengan nama Maw Htun Aung.
Baca juga : Kebobolan, Penyusup Berhasil Masuk Pangkalan Pesawat Kepresidenan AS
“Mari berjuang dengan damai untuk demokrasi dan kebebasan. Mari berjuang sampai menit terakhir untuk masa depan kita," papar dia.
Organisasi masyarakat sipil Myanmar mengimbau penyedia internet dan jaringan seluler untuk menentang perintah junta yang memblokir akses internet.
"Dengan mematuhi arahan mereka, perusahaan Anda pada dasarnya melegitimasi otoritas militer, meskipun ada kecaman internasional terhadap badan ini," ungkap koalisi kelompok sipil.
Telenor mengatakan sebelumnya bahwa penutupan internet secara hukum diwajibkan untuk mengikuti perintah memblokir beberapa media sosial. Namun mereka menyoroti arahan tersebut bertentangan dengan hukum hak asasi manusia internasional.
Baca Juga : Macron Dukung Dialog AS-Iran, Sebut Dirinya 'Perantara Jujur'
Junta tidak menanggapi permintaan komentar. Junta mencoba membungkam perbedaan pendapat dengan memblokir sementara Facebook dan memperluas tindakan keras ke Twitter dan Instagram pada Sabtu (6/2).
Baca Juga: Toko Produk Indonesia Kini Hadir di Istanbul
Perusahaan telepon seluler Norwegia, Telenor Asa mengatakan pihak berwenang telah memerintahkan penyedia internet menolak akses ke Twitter dan Instagram sampai pemberitahuan lebih lanjut.
Banyak yang menyiasati larangan pada Facebook dengan menggunakan jaringan pribadi virtual (VPN) untuk menyembunyikan lokasi mereka. Namun gangguan yang lebih umum pada layanan data seluler sangat membatasi akses ke berita dan informasi independen.
“Internet sudah down tapi kami tidak akan berhenti meninggikan suara kami,” tweet seorang pengguna Twitter dengan nama Maw Htun Aung.
Baca juga : Kebobolan, Penyusup Berhasil Masuk Pangkalan Pesawat Kepresidenan AS
“Mari berjuang dengan damai untuk demokrasi dan kebebasan. Mari berjuang sampai menit terakhir untuk masa depan kita," papar dia.
Organisasi masyarakat sipil Myanmar mengimbau penyedia internet dan jaringan seluler untuk menentang perintah junta yang memblokir akses internet.
"Dengan mematuhi arahan mereka, perusahaan Anda pada dasarnya melegitimasi otoritas militer, meskipun ada kecaman internasional terhadap badan ini," ungkap koalisi kelompok sipil.
Telenor mengatakan sebelumnya bahwa penutupan internet secara hukum diwajibkan untuk mengikuti perintah memblokir beberapa media sosial. Namun mereka menyoroti arahan tersebut bertentangan dengan hukum hak asasi manusia internasional.
Lihat Juga :