Virus Nipah di China dengan Tingkat Kematian 75% Bisa Menjadi Pandemi Baru
Senin, 01 Februari 2021 - 12:07 WIB
Wabah virus Nipah di negara bagian selatan India, Kerala, pada 2018 merenggut 17 nyawa. Pada saat itu, negara-negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk sementara melarang impor buah dan sayuran beku dan olahan dari Kerala sebagai akibat dari wabah di sana.
Saat itu, pejabat kesehatan percaya bahwa wabah Nipah di Bangladesh dan India mungkin terkait dengan minum jus kurma.
Baca juga: Sirene Serangan Udara Meraung-raung di Teheran, karena F-35 Israel
Laporan Access to Medicine Index 2021 melihat tindakan dari 20 perusahaan farmasi terkemuka di dunia untuk membuat obat, vaksin, dan diagnostik lebih mudah diakses. Ditemukan bahwa penelitian dan pengembangan untuk COVID-19 telah meningkat dalam setahun terakhir, tetapi risiko pandemi lainnya sejauh ini belum tertangani.
“Indeks ini disiapkan selama krisis kesehatan masyarakat terburuk dalam satu abad—yang telah mengungkapkan ketidaksetaraan kronis akses ke obat tidak seperti sebelumnya. Namun, setelah bertahun-tahun mendorong perencanaan akses, kami sekarang melihat pergeseran strategis ke arah ini. Hal ini secara radikal dapat mengubah seberapa cepat akses ke produk baru dicapai—jika kepemimpinan perusahaan bertekad untuk memastikan orang yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah tidak berada di antrean terakhir," imbuh laporan tersebut mengutip pernyataan Iyer.
Saat itu, pejabat kesehatan percaya bahwa wabah Nipah di Bangladesh dan India mungkin terkait dengan minum jus kurma.
Baca juga: Sirene Serangan Udara Meraung-raung di Teheran, karena F-35 Israel
Laporan Access to Medicine Index 2021 melihat tindakan dari 20 perusahaan farmasi terkemuka di dunia untuk membuat obat, vaksin, dan diagnostik lebih mudah diakses. Ditemukan bahwa penelitian dan pengembangan untuk COVID-19 telah meningkat dalam setahun terakhir, tetapi risiko pandemi lainnya sejauh ini belum tertangani.
“Indeks ini disiapkan selama krisis kesehatan masyarakat terburuk dalam satu abad—yang telah mengungkapkan ketidaksetaraan kronis akses ke obat tidak seperti sebelumnya. Namun, setelah bertahun-tahun mendorong perencanaan akses, kami sekarang melihat pergeseran strategis ke arah ini. Hal ini secara radikal dapat mengubah seberapa cepat akses ke produk baru dicapai—jika kepemimpinan perusahaan bertekad untuk memastikan orang yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah tidak berada di antrean terakhir," imbuh laporan tersebut mengutip pernyataan Iyer.
(min)
Lihat Juga :