Ini Kebijakan Biden Terkait Korut
Sabtu, 23 Januari 2021 - 05:52 WIB
Selama kampanye pemilihan presiden 2020, Biden berusaha menjauhkan diri dari pemulihan hubungan yang dipakai Donald Trump dengan Pemimpin Korut Kim Jong-un . Trump tercatat beberapa kali melakukan pertemuan dengan Kim Jong-un untuk meyakinkan negara sosialis tersebut agar menghentikan program senjata nuklirnya sebagai imbalan pencabutan beberapa sanksi. Pada akhirnya, Trump tidak mau memberikan keringanan sanksi sebagai imbalan atas pembongkaran beberapa fasilitas uji coba nuklir Korut, dan pembicaraan berujung pada kegagalan.
Selama debat yang disiarkan televisi dengan Trump pada Oktober 2020, Biden membandingkan Kim Jong-un dengan diktator fasis Jerman Adolf Hitler. Dia mengatakan dia hanya akan setuju untuk bertemu jika Kim Jong-un setuju untuk mengurangi persenjataan nuklir negaranya. Negara itu menguji perangkat nuklir pertamanya pada tahun 2006 dan diyakini memiliki kurang dari 40 hulu ledak nuklir. Tidak diketahui apakah mereka telah membuat miniatur yang memadai dari salah satu hulu ledak itu agar sesuai dengan rudal balistik antarbenua (ICBM).
Baca juga: Jong-un Lempar Tantangan ke Biden, Korut Siap Konfrontasi dengan AS
Sebelumnya, pada November 2019, Biden mengkritik tajam kebijakan Trump setelah Korut menguji dua rudal jarak pendek, menyebut kebijakan itu serangkaian kegagalan diplomatik yang spektakuler dan menyerang Kim Jong-un sebagai "diktator pembunuh." Dia mengatakan Trump salah memperlakukan Kim Jong-un sederajat saat keduanya bertemu di Hanoi, Vietnam, dan di Singapura.
Menanggapi hal itu, Kementerian Luar Negeri Korut menyebut Biden kehilangan kualitas dasar sebagai manusia dan menuduhnya rakus akan kekuasaan dalam pernyataan pedas yang diterbitkan oleh kantor berita milik Korut, KCNA.
"Anjing rabies seperti Biden dapat melukai banyak orang jika mereka dibiarkan lepas kendali. Mereka harus dipukul sampai mati dengan tongkat, sebelum terlambat," tambah pernyataan itu.
Selama debat yang disiarkan televisi dengan Trump pada Oktober 2020, Biden membandingkan Kim Jong-un dengan diktator fasis Jerman Adolf Hitler. Dia mengatakan dia hanya akan setuju untuk bertemu jika Kim Jong-un setuju untuk mengurangi persenjataan nuklir negaranya. Negara itu menguji perangkat nuklir pertamanya pada tahun 2006 dan diyakini memiliki kurang dari 40 hulu ledak nuklir. Tidak diketahui apakah mereka telah membuat miniatur yang memadai dari salah satu hulu ledak itu agar sesuai dengan rudal balistik antarbenua (ICBM).
Baca juga: Jong-un Lempar Tantangan ke Biden, Korut Siap Konfrontasi dengan AS
Sebelumnya, pada November 2019, Biden mengkritik tajam kebijakan Trump setelah Korut menguji dua rudal jarak pendek, menyebut kebijakan itu serangkaian kegagalan diplomatik yang spektakuler dan menyerang Kim Jong-un sebagai "diktator pembunuh." Dia mengatakan Trump salah memperlakukan Kim Jong-un sederajat saat keduanya bertemu di Hanoi, Vietnam, dan di Singapura.
Menanggapi hal itu, Kementerian Luar Negeri Korut menyebut Biden kehilangan kualitas dasar sebagai manusia dan menuduhnya rakus akan kekuasaan dalam pernyataan pedas yang diterbitkan oleh kantor berita milik Korut, KCNA.
"Anjing rabies seperti Biden dapat melukai banyak orang jika mereka dibiarkan lepas kendali. Mereka harus dipukul sampai mati dengan tongkat, sebelum terlambat," tambah pernyataan itu.
Lihat Juga :