Perketat Regulasi Big Tech, China Ingin Jadi Superpower Teknologi

Rabu, 13 Januari 2021 - 06:41 WIB
Namun, pejabat pemerintah masih terlibat dalam alokasi modal, bukan hanya bank milik negara, tetapi juga lembaga investasi yang dikendalikan negara. Performa investasi China dalam sektor teknologi juga bukan hanya didominasi perusahaan besar. Tapi, China juga mengandalkan perusahaan rintisan karena 24% unicorn (perusahaan rintisan bernilai lebih dari USD1 miliar) .

"Hanya saja, Presiden Xi lebih memprioritaskan perusahaan milik negara, meskipun perusahaan swasta justru lebih inovatif dan dinamis," kata Andrew Kennedy, pakar kebijakan dan pemerintah dari Universitas Nasional Australia, dilansir Channel News Asia. "Ambisi China menghadapi tantangan karena banyak ilmuwan China mengeluh tentang kontrol internet yang terlalu kuat dari pemerintah," katanya.

(Baca juga: Lewat Proses Fusi Nuklir, Matahari Buatan China Sangat Powerful )

Beijing memilih mengontrol perusahaan teknologi dibandingkan melepaskannya tanpa kontrol. China juga kini mengatur regulasi perusahaan teknologi raksasa untuk mendorongkan negara itu menjadi superpower teknologi di dunia. Seperti AS dan Uni Eropa, China bekerja untuk meregulasi sektor teknologi di berbagai sektor, mulai dari perlindungan data hingga monopoli.

Meskipun diatur ketat, perusahaan teknologi berkembang pesat. Pada November lalu, bank sentral China merilis aturan yang disebut dengan microlending, yakni persyaratan modal untuk perusahaan teknologi yang ingin mendapatkan bantuan kredit. State Administration for Market Regulation (SAMR) China juga sudah memublikasikan draf untuk menghentikan praktik monopoli yang dilakukan perusahaan internet. Itu menjadi kebijakan yang mengatur perusahaan teknologi berskala besar.

Bulan lalu, SAMR menyatakan bahwa mereka telah melakukan penyelidikan terkait praktik monopoli Alibaba. Pada Oktober tahun lalu, China merilis undang-undang perlindungan data personal untuk mengatur bagaimana perusahaan melindungi data pengguna. “Semua regulasi itu sebagai bagian upaya China menjadi superpower teknologi,” kata peneliti di Trivium China, firma penelitian berbasis di Beijing, Kendra Schaefer, dilansir CNBC.

(Baca juga: COVID-19 Diam-diam Menyebar Lagi di Wuhan, Pemerintah China Berbohong? )
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!