Dilema Indonesia Hadapi Covid-19: Antara PSBB dan Risiko Kelaparan
Kamis, 14 Mei 2020 - 07:39 WIB
"Jika kita terlalu lama menutup (bisnis dan ekonomi), tidak ada yang akan mati karena penyakit ini tetapi kita akan mati karena kelaparan. Kita harus bertahan hidup berdua. Ingat, virus telah ada di antara kita selama sepuluh ribu tahun sehingga kita harus hidup dengan itu," ujar Raden.
Epidemiolog Tri Yunis Miko Wahyono, dari Universitas Indonesia, mengatakan masih terlalu dini untuk melonggarkan PSBB karena jumlah kasus baru masih meningkat.
"Sekarang, wabah ini masih terus berkembang. Ini ditunjukkan dengan jumlah kasus baru yang meningkat. Kurva akan rata pada akhir Juni atau Juli," katanya, ketika membuat perkiraan.
"Membuka kembali bisnis dan ekonomi sebelumnya selama sejumlah besar kasus baru dapat menghasilkan transmisi Covid-19 yang tinggi, maka perataan kurva akan tertunda."
Sebagai perbandingan, Thailand telah mulai melonggarkan pembatasan tetapi masyarakat masih didesak untuk memakai masker dan mempertahankan jarak sosial (social distancing). Negara ini telah memiliki total 3.017 kasus dan 56 kematian sejak wabah dimulai pada Januari, dengan 2.844 pasien telah sembuh.
Malaysia memiliki peningkatan kasus dalam jumlah kecil sejak pelonggaran pembatasan pada 5 Mei. Sedangkan Singapura masih mencatat lonjakan kasus di komunitas pekerja bergaji rendah di sebuah asrama.
Epidemiolog Tri Yunis Miko Wahyono, dari Universitas Indonesia, mengatakan masih terlalu dini untuk melonggarkan PSBB karena jumlah kasus baru masih meningkat.
"Sekarang, wabah ini masih terus berkembang. Ini ditunjukkan dengan jumlah kasus baru yang meningkat. Kurva akan rata pada akhir Juni atau Juli," katanya, ketika membuat perkiraan.
"Membuka kembali bisnis dan ekonomi sebelumnya selama sejumlah besar kasus baru dapat menghasilkan transmisi Covid-19 yang tinggi, maka perataan kurva akan tertunda."
Sebagai perbandingan, Thailand telah mulai melonggarkan pembatasan tetapi masyarakat masih didesak untuk memakai masker dan mempertahankan jarak sosial (social distancing). Negara ini telah memiliki total 3.017 kasus dan 56 kematian sejak wabah dimulai pada Januari, dengan 2.844 pasien telah sembuh.
Malaysia memiliki peningkatan kasus dalam jumlah kecil sejak pelonggaran pembatasan pada 5 Mei. Sedangkan Singapura masih mencatat lonjakan kasus di komunitas pekerja bergaji rendah di sebuah asrama.
(min)
Lihat Juga :