Negara Konsumen Soft Drink Terbanyak di Dunia, Tebak Mana Saja?
Minggu, 29 November 2020 - 15:23 WIB
Masyarakat Belgia dalam beberapa tahun terakhir telah mengalami peningkatan konsumsi soda secara maksimum karena gaya hidup modern. Oleh karena itu, berbagai masalah kesehatan bermunculan di kalangan anak-anak, seperti obesitas dan penyakit kronis lain. Bahkan untuk mendongkrak penjualan, perusahaan minuman soda telah meluncurkan minuman soda dengan jumlah gula lebih rendah, dan minuman lain yang relatif lebih sehat.
7. Jerman
Konsumsi soft drink :98 liter per kapita / tahun
Konsumsi soda oleh masyarakat di Jerman adalah 98 liter per kapita setiap tahunnya seperti yang dilaporkan oleh statistik dari Euro Monitor. Laporan tersebut menunjukkan perubahan drastis dalam konsumsi, karena lebih banyak orang Jerman terlihat lebih memilih minuman berkarbonasi. Minuman berorientasi kafein paling dinamis di pasar Jerman saat ini, yang telah meningkatkan penjualan perusahaan.
8. Norwegia
Konsumsi soft drink :98 liter per kapita / tahun
Konsumsi minuman ringan di antara orang-orang Norwegia telah mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai imbasnya, sebuah laporan penelitian menunjukkan terjadinya peningatan kasus masalah kesehatan mental remaja akibat kebiasaan ini. Ada banyak minuman soda yang dijual oleh perusahaan di Norwegia, dua merek teratas yakni Coca-Cola dan PepsiCo.
9. Arab Saudi
Konsumsi soft drink :89 liter per kapita / tahun
Meningkatnya konsumsi minuman bersoda di Arab Saudi berkaitan dengan sifat pembelanjaan yang tinggi, kondisi iklim yang hangat, dan larangan minuman beralkohol ("berat"). Akibat tingginya konsumsi soft drink tersebut membuat pemerintah meminta Coca-Cola dan PepsiCo untuk mengeluarkan peringatan kesehatan pada kemasan yang mereka jual di pasar lokal. (Baca juga: 10 Situs Warisan Dunia Paling Banyak Dikunjungi)
10. Bolivia
Konsumsi soft drink : 89 liter per kapita / tahun
Konsumsi minuman ringan atau soda terhitung sangat tinggi di Bolivia yakni mencapai hampir 89 liter per kapita per tahun. Karena Bolivia adalah penghasil gula utama, perusahaan soda mendapatkan keuntungan dari bisnis minuman ringan ini. Coca-Cola, yang paling banyak dibeli di negara itu, menargetkan kaum muda Bolivia. Pemerintah berencana melarang minuman ini karena banyaknya bahaya kesehatan yang disebabkan oleh minuman tersebut.
Sumber: www.worldatlas.com
7. Jerman
Konsumsi soft drink :98 liter per kapita / tahun
Konsumsi soda oleh masyarakat di Jerman adalah 98 liter per kapita setiap tahunnya seperti yang dilaporkan oleh statistik dari Euro Monitor. Laporan tersebut menunjukkan perubahan drastis dalam konsumsi, karena lebih banyak orang Jerman terlihat lebih memilih minuman berkarbonasi. Minuman berorientasi kafein paling dinamis di pasar Jerman saat ini, yang telah meningkatkan penjualan perusahaan.
8. Norwegia
Konsumsi soft drink :98 liter per kapita / tahun
Konsumsi minuman ringan di antara orang-orang Norwegia telah mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai imbasnya, sebuah laporan penelitian menunjukkan terjadinya peningatan kasus masalah kesehatan mental remaja akibat kebiasaan ini. Ada banyak minuman soda yang dijual oleh perusahaan di Norwegia, dua merek teratas yakni Coca-Cola dan PepsiCo.
9. Arab Saudi
Konsumsi soft drink :89 liter per kapita / tahun
Meningkatnya konsumsi minuman bersoda di Arab Saudi berkaitan dengan sifat pembelanjaan yang tinggi, kondisi iklim yang hangat, dan larangan minuman beralkohol ("berat"). Akibat tingginya konsumsi soft drink tersebut membuat pemerintah meminta Coca-Cola dan PepsiCo untuk mengeluarkan peringatan kesehatan pada kemasan yang mereka jual di pasar lokal. (Baca juga: 10 Situs Warisan Dunia Paling Banyak Dikunjungi)
10. Bolivia
Konsumsi soft drink : 89 liter per kapita / tahun
Konsumsi minuman ringan atau soda terhitung sangat tinggi di Bolivia yakni mencapai hampir 89 liter per kapita per tahun. Karena Bolivia adalah penghasil gula utama, perusahaan soda mendapatkan keuntungan dari bisnis minuman ringan ini. Coca-Cola, yang paling banyak dibeli di negara itu, menargetkan kaum muda Bolivia. Pemerintah berencana melarang minuman ini karena banyaknya bahaya kesehatan yang disebabkan oleh minuman tersebut.
Sumber: www.worldatlas.com
(ysw)
Lihat Juga :