Tegang dengan Turki, Prancis Minta Dukungan UE
Kamis, 29 Oktober 2020 - 13:22 WIB
Seruan boikot, yang juga terjadi di negara-negara Arab dan Muslim lainnya, terus menggema setelah Macron mengatakan dia mendukung publikasi kartun yang menghina Nabi Muhammad oleh majalah Charlie Hebdo.
"Seruan untuk memboikot produk dari setiap negara anggota bertentangan dengan semangat kewajiban ini dan akan membawa Turki lebih jauh dari UE," kata Komisi UE dalam sebuah pernyataan. ( Baca juga: Dukung Sikap Kemlu Soal Pernyataan Macron, Menag: Kebebasan Berekspresi Tidak Boleh Kebablasan )
Polemik kartun yang menghina Nabi Muhammad memanas setelah guru sejarah di Prancis, Samuel Paty, dipenggal pengungsi Chechnya berusia 18 tahun saat dalam perjalanan pulang dari sekolah tempat dia mengajar di pinggiran Paris pada 16 Oktober.
Paty dibunuh setelah dia mempertontonkan kartun tersebut kepada murid-muridnya dalam diskusi kebebasan berekspresi dan berbicara di kelas. Erdogan mengutuk keras penerbitan dan penggunaan kartun yang menghina Nabi Muhammad, namun bungkam atas pemenggalan guru Samuel Paty.
"Seruan untuk memboikot produk dari setiap negara anggota bertentangan dengan semangat kewajiban ini dan akan membawa Turki lebih jauh dari UE," kata Komisi UE dalam sebuah pernyataan. ( Baca juga: Dukung Sikap Kemlu Soal Pernyataan Macron, Menag: Kebebasan Berekspresi Tidak Boleh Kebablasan )
Polemik kartun yang menghina Nabi Muhammad memanas setelah guru sejarah di Prancis, Samuel Paty, dipenggal pengungsi Chechnya berusia 18 tahun saat dalam perjalanan pulang dari sekolah tempat dia mengajar di pinggiran Paris pada 16 Oktober.
Paty dibunuh setelah dia mempertontonkan kartun tersebut kepada murid-muridnya dalam diskusi kebebasan berekspresi dan berbicara di kelas. Erdogan mengutuk keras penerbitan dan penggunaan kartun yang menghina Nabi Muhammad, namun bungkam atas pemenggalan guru Samuel Paty.
(esn)
Lihat Juga :