Imbas Kartun Nabi Muhammad, Erdogan Minta Rakyat Turki Boikot Produk Prancis
Selasa, 27 Oktober 2020 - 08:24 WIB
Menteri Delegasi Perdagangan Luar Negeri dan Daya Tarik Ekonomi Prancis, Franck Riester, mengatakan pada hari Senin bahwa Prancis tidak berniat untuk membatasi impor barang-barang Turki menyusul seruan Erdogan untuk boikot. Sejumlah negara Muslim lainnya juga menyerukan boikot semacam itu. (Baca juga: Umat Kristen Arab Ramai-ramai Kecam Penghinaan Prancis terhadap Islam )
Pada hari Minggu, Paris mengutuk reaksi tegas Ankara terhadap pernyataan Macron terhadap Islam dan memanggil pulang duta besarnya dari Turki untuk berkonsultasi.
Pada 21 Oktober, Macron menyampaikan pidatonya dalam upacara peringatan guru sejarah Prancis; Samuel Paty, yang dipenggal oleh seorang remaja radikal etnis Chechnya. Presiden menyerukan negaranya untuk "membebaskan Islam di Prancis dari pengaruh asing dan memperkuat kontrol atas pendanaan masjid". Dia menekankan bahwa Prancis akan terus mempertahankan kebebasan berekspresi dan meningkatkan pertempuran melawan Islam radikal.
Pada hari Sabtu, Erdogan mengatakan bahwa presiden Prancis tidak menghormati jutaan warga Muslim Prancis dan "membutuhkan perawatan mental". Dia menambahkan bahwa manifestasi permusuhan terhadap Islam berarti permusuhan terhadap Turki.
Macron dalam pernyataan di Twitter hari Senin mengatakan; "Kami tidak akan pernah menyerah. Kami menghormati semua perbedaan dalam semangat damai. Kami tidak menerima perkataan yang mendorong kebencian dan membela perdebatan yang masuk akal. Kami akan selalu berpihak pada martabat manusia dan nilai-nilai universal."
Pada hari Minggu, Paris mengutuk reaksi tegas Ankara terhadap pernyataan Macron terhadap Islam dan memanggil pulang duta besarnya dari Turki untuk berkonsultasi.
Pada 21 Oktober, Macron menyampaikan pidatonya dalam upacara peringatan guru sejarah Prancis; Samuel Paty, yang dipenggal oleh seorang remaja radikal etnis Chechnya. Presiden menyerukan negaranya untuk "membebaskan Islam di Prancis dari pengaruh asing dan memperkuat kontrol atas pendanaan masjid". Dia menekankan bahwa Prancis akan terus mempertahankan kebebasan berekspresi dan meningkatkan pertempuran melawan Islam radikal.
Pada hari Sabtu, Erdogan mengatakan bahwa presiden Prancis tidak menghormati jutaan warga Muslim Prancis dan "membutuhkan perawatan mental". Dia menambahkan bahwa manifestasi permusuhan terhadap Islam berarti permusuhan terhadap Turki.
Macron dalam pernyataan di Twitter hari Senin mengatakan; "Kami tidak akan pernah menyerah. Kami menghormati semua perbedaan dalam semangat damai. Kami tidak menerima perkataan yang mendorong kebencian dan membela perdebatan yang masuk akal. Kami akan selalu berpihak pada martabat manusia dan nilai-nilai universal."
(min)
Lihat Juga :