PM Thailand Dituntut Mundur, Demonstran Gunakan Medsos untuk Propaganda

Jum'at, 23 Oktober 2020 - 10:15 WIB
Penggunaan Telegram telah mengalami peningkatan tajam dalam beberapa bulan terakhir. Para demonstran menggunakannya untuk mengordinasi aksi seiring dengan pengetatan aturan oleh pemerintah. (Baca juga: Hari Santri, Pemerintah Harus Berpihak dan Hadir Bukan Sekedar Selebrasi)

Grup Telegram, yakni Free Youth, menjadi kelompok yang beranggotakan 200.000 orang. Akibatnya pemerintah Thailand memblokir Telegram. Selain itu, grup di Facebook juga sangat populer. Berbagai informasi mengenai pelaksanaan dan lokasi demonstrasi serta keberadaan polisi beredar cepat dan luas melalui grup tersebut.

"Demonstran Thailand kini mencoba tetap merata sehingga menerapkan kepemimpinan yang terbuka," kata Aim Sinpeng, pakar politik dari Universitas Sydney, dilansir BBC. "Ini sangat berbeda dengan demonstran masa lalu di Thailand yang cenderung personalisasi di tangan pemimpin untuk memengaruhi masyarakat," katanya.

Dengan menggunakan tagar #everybodyisaleader mampu mengubah gerakan demokrasi di Thailand. "Itu juga bisa melindungi mereka dari persekusi pemerintah," papar Aim yang meneliti politik digital di Asia Tenggara.

Kemudian, para demonstran juga menggunakan bahasa tubuh baru yang diadopsi dari para pengunjuk rasa di Hong Kong. Jika seorang demonstran membentuk jarinya berbentuk segitiga, maka menunjukkan mereka membutuhkan helm. Jika melintangkan jari, menunjukkan ada orang yang terluka. (Baca juga: Konsumsi Kedelai Bisa Kurangi Resiko Terkena Kanker)

"Sejak pengeras suara dilarang, para aktivis mulai menggunakan metode komunikasi yang efektif," kata Wasana Wongsurawat, pakar politik Universitas Chulalongkorn.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!