Taktik Trump Sering Menjiplak Musuh-musuhnya, dari Blokade Laut hingga Tarif Selat Hormuz

Rabu, 15 Juli 2026 - 08:13 WIB
Tentu saja terdapat perbedaan penting antara pendekatan Trump dengan tindakan Houthi maupun Iran.

Houthi menggunakan kekuatan bersenjata untuk menghalangi pelayaran, sementara Iran lebih banyak menjadikan ancaman terhadap Selat Hormuz sebagai alat tawar diplomatik.

Di sisi lain, pemerintahan Trump mengandalkan kombinasi sanksi ekonomi, dominasi militer, dan pengaruh terhadap sistem keuangan global.

Namun apabila dilihat dari tujuan strategisnya, ketiga pendekatan tersebut memiliki kesamaan.

Semua sama-sama berusaha memanfaatkan jalur perdagangan internasional sebagai alat untuk menekan lawan politik.

Dengan kata lain, laut bukan sekadar menjadi jalur perdagangan, melainkan juga berubah menjadi arena kompetisi geopolitik yang menentukan posisi tawar masing-masing negara.

Politik Internasional Sarat Adaptasi Strategi



Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam politik internasional tidak ada metode yang sepenuhnya dimiliki oleh satu pihak.

Strategi yang awalnya digunakan oleh kelompok non-negara seperti Houthi atau diusulkan oleh Iran dapat muncul kembali dalam bentuk berbeda ketika dianggap efektif oleh kekuatan besar seperti Amerika Serikat.

Sejarah hubungan internasional memang menunjukkan negara-negara sering kali mengadopsi teknik musuh mereka apabila terbukti memberikan keuntungan strategis.

Perbedaannya biasanya hanya terletak pada skala, instrumen, serta legitimasi yang digunakan untuk membenarkan kebijakan tersebut.

Bagi Trump, tekanan ekonomi dan penguasaan jalur perdagangan merupakan bagian dari strategi "America First" untuk memaksimalkan posisi tawar Amerika Serikat.

Namun bagi para pengkritiknya, pola tersebut memperlihatkan paradoks. Washington selama ini mengkritik negara lain karena menggunakan jalur laut sebagai alat tekanan politik, tetapi pada saat yang sama juga memanfaatkan pendekatan yang memiliki karakter serupa ketika sesuai dengan kepentingan nasionalnya.

Perdebatan ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring meningkatnya rivalitas geopolitik di Timur Tengah. Laut Merah, Selat Hormuz, hingga berbagai jalur perdagangan strategis lainnya diperkirakan tetap menjadi medan persaingan utama, bukan hanya melalui kekuatan militer, tetapi juga lewat kebijakan ekonomi, tarif, dan kontrol terhadap arus perdagangan global.

Baca juga: Jerman akan Beli 50.000 Drone Serang untuk Ukraina
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!