Ini Detail Cekcok Trump dan Mohammed bin Salman Gara-gara Perang Iran

Kamis, 02 Juli 2026 - 11:32 WIB
Presiden AS Donald Trump dilaporkan terlibat perseteruan dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman terkait penanganan perang Iran oleh Washington. Foto/Haiyun Jiang/The New York Times
RIYADH - Surat kabar The New York Timespada Kamis (2/7/2026) menerbitkan laporan baru tentang perseteruan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman terkait penanganan perang Iran oleh Washington. Menurut laporan tersebut, keduanya cekcok via telepon yang memaksa Amerika menghentikan operasi Project Freedom pada Mei lalu.

Laporan itu diawali dengan deskripsi Presiden Trump dan para komandan militernya yang berada dalam kondisi dilema. Mereka telah mengumumkan dimulainya Project Freedom ketika perang Iran memasuki fase gencatan senjata. Project Freedom adalah operasi Angkatan Laut AS untuk membantu memandu kapal-kapal komersial melewati Selat Hormuz yang secara efektif telah ditutup Iran di awal perang.



Baca Juga: AS Pertimbangkan Tarik Pasukan dari Arab Saudi, Berseteru Gara-gara Perang Iran

Namun Komando Pusat AS (CENTCOM) terkejut ketika para pejabat dari Arab Saudi mengatakan pasukan Amerika tidak dapat menggunakan wilayah udara kerajaan untuk misi tersebut. Amerika tidak berkonsultasi dengan Saudi.

Hal itu memicu serangkaian panggilan telepon yang tegang dan mendesak antara para pemimpin Washington dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Trump yang marah berbicara dengannya pada 4 Mei, hari pertama operasi Project Freedom, dan juga pada dua hari berikutnya, kata para pejabat AS.

Wakil Presiden JD Vance berbicara dengan putra mahkota dalam panggilan terpisah, begitu pula Steve Witkoff, utusan khusus untuk Timur Tengah, dan Jared Kushner, menantu Trump. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga berbicara dengan koleganya dari Arab Saudi.

Namun Pangeran Mohammed bin Salman tetap teguh pada pendiriannya, karena khawatir rencana Amerika itu dapat memicu kembali perang. Pada akhirnya, pemerintahan Trump mengalah dan terpaksa menghentikan Project Freedom kurang dari 48 jam setelah dimulai.

“Mereka telah kehilangan kepercayaan pada pemerintahan, dan mereka berpikir jika mereka membiarkan AS menggunakan wilayah udara mereka, mereka akan dihantam lebih keras oleh Iran,” kata Hussein Ibish, seorang pakar di Arab Gulf States Institute di Washington.

Kampanye besar-besaran Gedung Putih untuk mempengaruhi Pangeran Mohammed bin Salman, yang sebelumnya belum pernah dilaporkan media mana pun, dan momen-momen penting lainnya selama perang mengungkapkan bahwa para pejabat Amerika dan Arab Saudi semakin berselisih mengenai bagaimana mendekati keamanan di kawasan tersebut, khususnya terkait dengan Iran dan Israel.

Semakin lama, Arab Saudi semakin memandang pemerintah AS sebagai pihak yang tidak dapat diandalkan dan bahkan kadang-kadang sebagai ancaman bagi negara-negara Arab Teluk.

Sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari, Arab Saudi telah mencoba untuk menempuh jalan tengah untuk melindungi kepentingannya. Mereka memberikan dukungan militer dan diplomatik kepada Amerika Serikat, dan diserang oleh Iran.

Namun kerajaan tersebut juga menentang Trump pada saat-saat kritis, menunjukkan kekuatannya ketika merasakan bahaya yang lebih besar akibat agresi Amerika dan Israel.

Saat Trump mencoba menavigasi diplomasi dengan Iran, dengan fokus pada program nuklir Teheran, Arab Saudi terus menjalankan inisiatifnya sendiri, menyimpang dari prioritas Amerika dan bergerak untuk memperkuat hubungan dengan negara-negara lain. Itu termasuk Pakistan dan China, yang membantu menengahi pembukaan diplomatik antara kerajaan dan Iran pada tahun 2023. Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud mengunjungi China minggu ini.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!