AS dan Iran Saling Serang Lagi, Apakah Masih Ada Harapan Perdamaian di Timur Tengah?

Minggu, 28 Juni 2026 - 14:31 WIB
Teheran mengatakan kapal kargo itu diserang karena menggunakan rute yang tidak sah untuk melintasi jalur air Teluk, dan mengatakan bahwa serangan balasan tersebut memenuhi syarat sebagai pelanggaran gencatan senjata oleh AS.

Dalam pernyataan yang dirilis pada Sabtu pagi, Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan telah melakukan lebih banyak serangan terhadap target yang terkait dengan pasukan Amerika sebagai respons, dan menyalahkan "rezim AS yang melanggar perjanjian" atas situasi tersebut.

AS dan Iran sepakat pada 17 Juni untuk mengakhiri permusuhan berdasarkan nota kesepahaman 14 poin, yang juga menyerukan Iran untuk menggunakan "upaya terbaiknya untuk memastikan jalur aman bagi kapal komersial tanpa biaya selama 60 hari".

3. Masih Berebut Kendali Selat Hormuz

Selat Hormuz adalah jalur air utama untuk pengiriman minyak dan gas, dan secara efektif ditutup oleh Teheran setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari.

Penutupan jalur penting tersebut menyebabkan lonjakan harga minyak global dan menghambat pengiriman komoditas penting lainnya seperti besi.

Dalam beberapa hari terakhir, Trump dan pejabat AS lainnya bersikeras bahwa negosiasi dengan Iran berjalan dengan baik, dengan mengatakan bahwa Iran telah menghentikan usulan pengenaan biaya tol kepada kapal-kapal yang melintas melalui Selat Hormuz.

Dalam unggahan Truth Social pada hari Rabu, Trump mengatakan Iran telah memberi tahu AS bahwa tidak akan ada "biaya tol, biaya asuransi, dan biaya lain apa pun yang diminta atau diterima".

"Jika ini informasi yang salah, negosiasi akan segera berakhir," tambahnya, dilansir BBC.

AS telah mengutuk laporan bahwa Iran mengenakan biaya kepada kapal tanker yang melewati selat tersebut, dan banyak yang melihat sistem pengenaan biaya tol sebagai pelanggaran terhadap hukum maritim internasional.

Pada hari Selasa, pejabat Iran dan Oman mengadakan pembicaraan di ibu kota Oman, Muscat, untuk membahas "pengelolaan navigasi di masa depan", meskipun Menteri Luar Negeri Oman Badr Al-Busaidi mengatakan kedua negara berkomitmen untuk "lintasan aman tanpa biaya tol".

Namun, kepala negosiator Iran, Mohammed Bagher Ghalibaf, mengatakan kepada media yang berafiliasi dengan pemerintah bahwa "semua orang harus tahu bahwa pengelolaan Selat Hormuz tidak akan pernah kembali seperti sebelum perang."
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!