6 Tradisi Teraneh di Dunia, Salah Satunya Makan Abu Orang Mati

Minggu, 07 Juni 2026 - 18:40 WIB

2. Sarung Tangan Semut Peluru Suku Sateré-Mawé, Brasil

Bagi suku Sateré-Mawé di Amazon Brasil, menjadi seorang pria berarti menahan sengatan semut peluru, yang berada di puncak indeks nyeri Schmidt. Para tetua mengumpulkan puluhan semut, membius mereka, dan menganyamnya menjadi sarung tangan dari daun palem dengan sengatnya menghadap ke dalam.

Seorang anak laki-laki memasukkan tangannya ke dalam dan membiarkannya di sana selama kurang lebih sepuluh menit sambil melakukan tarian, semut-semut itu menyengatnya sepanjang waktu. Satu sesi saja tidak cukup. Untuk diakui sebagai seorang pria, ia mengulangi cobaan itu sekitar dua puluh kali selama beberapa bulan dan tahun berikutnya. Sengatan itu sering dibandingkan dengan ditembak, itulah sebabnya semut itu mendapatkan namanya. Ritual peralihan ini dipraktikkan di hutan hujan Brasil utara.

3. Memakan Abu Orang Mati: Suku Yanomami

Suku Yanomami, yang tinggal di hutan hujan di sepanjang perbatasan Venezuela dan Brasil, meyakini bahwa tidak boleh ada jejak fisik seseorang yang tersisa setelah kematian. Ketika seseorang meninggal, tubuhnya dikremasi dan tulangnya digiling, dan abunya disimpan dengan hati-hati.

Pada pertemuan peringatan, abu tersebut dicampur ke dalam sup yang terbuat dari pisang fermentasi dan dibagikan di antara kelompok kerabat. Suku Yanomami tidak menganggap kematian sebagai peristiwa alami tetapi sebagai hasil sihir musuh, dan mereka percaya jiwa tidak dapat mencapai kedamaian sampai ritual selesai. Memakan abu, praktik yang dikenal sebagai endokanibalisme, dipahami sebagai cara untuk menjaga agar orang yang dicintai tetap hadir di antara orang hidup.

4. Ritual Berjalan di Atas Api dalam Agama Rakyat China

Pada festival kuil tertentu di China dan di seluruh komunitas agama rakyat China, para pemuja dan perantara roh berjalan tanpa alas kaki di atas hamparan bara api yang menyala. Terkait dengan praktik Taoisme, ritual ini dimaksudkan untuk memurnikan para peserta dan dewa kuil serta untuk mengusir kejahatan dan kemalangan.

Para pejalan kaki percaya bahwa iman melindungi mereka dan bahwa hanya mereka yang ragu yang akan terbakar. Versi upacara ini muncul di mana pun komunitas ini menetap, termasuk Taiwan dan sebagian Asia Tenggara, dan penyeberangan hamparan bara api seringkali menjadi pusat dramatis dari festival yang jauh lebih panjang.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!