Iran Mulai Senggol Selat Malaka, Sebut Respons Reaksi Berantai dari Selat Hormuz
Selasa, 21 April 2026 - 12:00 WIB
Selat Malaka yang sempit merupakan jalur pelayaran penting yang menghubungkan Samudra Hindia dan Laut China Selatan. Terletak di antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura, selat ini merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia dan rute utama untuk pengiriman energi ke Asia Timur, dengan ketiga negara Asia Tenggara tersebut bersama-sama mengawasi keamanan dan navigasinya.
“Kemungkinan besar negara-negara pesisir tidak akan mengambil tindakan serupa dengan Iran di sekitar Hormuz,” kata Hu, seperti dikutip dari South China Morning Post, Selasa (21/4/2026).
Menurut Hu, tidak seperti Selat Hormuz, satu-satunya jalur maritim dari negara-negara Teluk yang kaya minyak ke Samudra Hindia, Selat Malaka memiliki potensi alternatif alami.
Alternatif tersebut mungkin termasuk Selat Sunda, Lombok, dan Ombai-Wetar, yang menawarkan jalur alternatif di sekitar kepulauan Indonesia.
Namun, menurut Hu, krisis di Selat Hormuz diperkirakan akan meningkatkan kesadaran global tentang keamanan jalur pelayaran yang rawan.
“Selat Malaka dan Selat Hormuz sebenarnya tidak dapat dibandingkan, tetapi masalah Hormuz telah membuat dunia mulai memikirkan kembali keamanan jalur pelayaran," katanya.
“Kemungkinan besar negara-negara pesisir tidak akan mengambil tindakan serupa dengan Iran di sekitar Hormuz,” kata Hu, seperti dikutip dari South China Morning Post, Selasa (21/4/2026).
Menurut Hu, tidak seperti Selat Hormuz, satu-satunya jalur maritim dari negara-negara Teluk yang kaya minyak ke Samudra Hindia, Selat Malaka memiliki potensi alternatif alami.
Alternatif tersebut mungkin termasuk Selat Sunda, Lombok, dan Ombai-Wetar, yang menawarkan jalur alternatif di sekitar kepulauan Indonesia.
Namun, menurut Hu, krisis di Selat Hormuz diperkirakan akan meningkatkan kesadaran global tentang keamanan jalur pelayaran yang rawan.
“Selat Malaka dan Selat Hormuz sebenarnya tidak dapat dibandingkan, tetapi masalah Hormuz telah membuat dunia mulai memikirkan kembali keamanan jalur pelayaran," katanya.
(mas)
Lihat Juga :